Layak direnungkan. Apa bedanya pendidikan bangsa Jepang dengan pola pendidikan kita?

Bangsa Jepang mengutamakan pendidikan anak usia dini

Karena itu, banyak ibu rumah tangga di Jepang berhenti dari pekerjaannya setelah melahirkan anak dan mencurahkan segenap waktunya mengurus anak-anak, mengapa? Karena menurut mereka anak pra usia tiga tahun itu merupakan masa pembibitan, dan itu sangat penting, karena begitu muncul masalah dalam proses pertumbuhan mereka itu akan sangat sulit untuk diperbaiki lagi.

Menurut bangsa Jepang : biarlah kaum pria yang bekerja lebih rajin, lebih keras, dan pendapatan yang lebih tinggi, sementara biarkan ibunya anak-anak kembali fokus pada keluarga, dan baru kembali bekerja lagi setelah anak-anak menginjak usia 3 tahun, dan ini tidak akan berdampak apapun pada efisiensi sosial, sebaliknya akan sangat bermanfaat bagi pertumbuhan generasi berikutnya.

Salah satu prinsip orang Jepang dalam mengasuh anak-anaknya : makan secukupnya (tidak berlebihan), dan saat musim dingin cukup mengenakan pakaian yang bisa memberi rasa hangat (tidak perlu berlapis-lapis). Pada dasarnya, para orang tua di Jepang tidak akan membiarkan anak-anak mereka makan terlalu kenyang/berlebihan, dan juga tidak akan khawatir anak-anak mengenakan pakaian ala kadarnya atau tidak berlapis-lapis di musim dingin, selain itu mereka juga tidak khawatir anak-anak akan masuk angin dengan hanya mengenakan selapis pakaian ketika bermain di air, karena itu, pada dasarnya anda tidak akan melihat pria gemuk di Jepang.

Sekolah di Jepang sangat menekankan pentingnya seragam sekolah

Seragam sekolah mereka juga sangat indah, banyak model, dan pengerjaannya juga sangat baik, saya sempat bertanya kepada mereka mengapa begitu menitiberatkan pada seragam sekolah ?

Jawaban mereka membuat Anda serasa berganti rupa dan segar : seseorang yang mengenakan pakaian seragam adalah untuk memberitahu padanya : jangan pernah melupakan identitas diri. Siapapun yang mengenakan pakaian seragam dan melakukan hal-hal buruk hatinya akan selalu merasa gelisah dan tidak tenang.

Setiap keluarga memiliki pembukuan keluarga

Ibu rumah tangga yang tidak mencatatkan pembukuan merupakan suatu hal yang tak terbayangkan. Saat membeli sesuatu di supermarket, satu hal yang pasti ditanyakan kasir adalah : apa mau di-print satu lembar struk? Sebab struk pembelian sebagian besar ibu rumah tangga di Jepang itu di-print secara terpisah saat membeli sesuatu di supermarket, untuk memudahkan pencatatan. Sebagai contoh, struk alat-alat tulis atau barang-barang lain semuanya itu di print tersendiri, sehingga dengan demikian mereka bisa membuat statistik bulanan, konsep pengelolaan keuangan keluarga sudah diajarkan pada mereka sejak usia dini.

Sekolah SMP di Jepang menitikberatkan pada kemampuan diri masing-masing individu

Pekerjaan rumah tangga, menjahit, karate, olahraga semuanya itu di selenggarakan, guru konseling psikologis terjun langsung dalam pembelajaran sehari-hari para siswa, karena mereka menemukan banyak anak-anak memiliki masalah psikologis sejak awal, karena itu setiap sekolah memiliki seorang konselor kesehatan mental yang professional.

Sekolah SMP di Jepang menekankan pentingnya pelajaran Bushido

Di setiap sekolah mereka masing-masing memiliki sebuah gedung khusus Bushido (tatacara ksatria—sebuah kode etik keksatriaan golongan Samurai dalam feodalisme Jepang/sikap rela berkorban bagi pemimpin atau negara),  juga sering diselenggarakan perlombaan terkait, menurut mereka, bahwa pelajaran Bushido bisa menumbuhkan kepribadian anak-anak yang tegar, dan semangat pantang menyerah.

Memupuk siswa Jepang untuk mematuhi aturan

Bagaimana bangsa Jepang membina para siswanya memandang dedikasinya itu sebagai panggilan jiwa, dan bagaimana mengembangkan bangsa Jepang itu mematuhi semangat budaya Jepang?

Di Jepang, yang paling banyak diterima adalah pemberian hormat dengan membungkukkan badan dari warga Jepang, menurut statistik, seorang petugas penyambut tamu atau pengunjung di gerbang pintu lift sebuah department store, satu hari harus membungkukkan badan sebanyak 2500 kali. Yang menopang mereka dari tahun ke tahun ini adalah konsep mereka yang memandang dedikasinya itu sebagai kewajiban. Dan ini juga merupakan hasil pembinaan dari pendidikan keluarga mereka sejak kecil. (jon/ran)

Share

Video Popular