Di sebuah kota kecil di Amerika Serikat, dari kelas yang terdiri dari 26 anak-anak, masing-masing memiliki sejarah yang gelap, antara lain: pecandu narkoba, pernah masuk penjara dan beberapa kali aborsi. Sekolah hampir lepas tangan terhadap mereka.

Tahun ajaran baru, seorang guru bernama Fila sebagai guru kelas ini. Di hari pertama sekolah, Fila memberi mereka soal dengan jawaban pilihan dan terdapat 3 pilihan:

Ada 3 pilihan, yaitu:

A: Percaya dukun, punya dua gundik, sejarah merokok bertahun-tahun, pecandu alkohol.

B: 2 kali diusir dari kantor, setiap hari sampai tengah hari baru bangun, setiap malam pesta minuman keras dan pecandu opium.

C: Pernah menjadi pahlawan perang nasional, senantiasa vegetarian, cinta seni, terkadang minum anggur (wine), tidak pernah melanggar hukum.

Pertanyaan Fila adalah:

Pertama, jika ketiga orang tersebut, salah satunya akan menjadi orang besar yang dikagumi masyarakat, menurut kalian siapakah orang itu?

Kedua, coba tebak, 3 orang itu seperti apa nasib masa depan mereka?

Untuk pertanyaan pertama, anak-anak memilih C; Untuk pertanyaan kedua, rata-rata memiliki pilihan hampir sama: nasib masa depan A dan B dipastikan tidak baik, jika bukan penjahat pasti adalah sampah masyarakat. Dan C, pasti adalah orang yang bermoral tinggi dan akan masuk kalangan elit.
Akan tetapi, jawaban Fila ternyata membuat para siswa terperangah: “Nama ketiga orang tersebut tentu tidak asing lagi bagi kalian, mereka tokoh terkenal dalam Perang Dunia II:

A. Presiden Franklin D. Roosevelt.

B. Perdana Menteri Inggris Winston Churchill

C. Adolf Hitler!

“Anak-anak,” Fila menambahkan, “Kehidupan kalian baru saja dimulai, kesalahan dan rasa malu di masa lalu hanya dapat mewakili masa lalu saja, yang benar-benar dapat mewakili kehidupan nyata seseorang, adalah kelakuannya pada saat ini dan di masa depan. Keluarlah dari bayang-bayang masa lalu kalian, berusahalah melakukan apa yang paling kalian ingin lakukan.”

Perkataan Fila ini, telah mengubah nasib ke-26 anak-anak itu. Kini diantara mereka ada yang psikolog, hakim, pilot, salah satunya bahkan menjadi fund manager Wall Street termuda.

Metode menciptakan keajaiban pendidikan Fila adalah membina siswa untuk melupakan masa lalu (sesuatu yang tidak dapat diubah), meraih kesempatan saat ini (satu-satunya yang dapat diperbuat saat ini) dan harapan masa yang akan datang (termasuk tujuan hidup dan harapan).

Ada teori “Nilai Harapan” di dalam ilmu psikologi, tema sentralnya adalah: yang menentukan seseorang untuk bertindak atau tidak melakukan apa-apa: nilai harapan kesuksesan masa depan. Ha-rapan kesuksesan semakin besar maka orang ini mampu berupaya lebih giat.

Kisah Fila sangat sesuai dengan teori tersebut di atas.

Nilai harapan sukses terdapat dalam 2 bentuk:

Satu jenis nilai harapan sukses tipikal: terhadap masalah yang sama jumlah keberhasilan semakin besar, maka kali berikutnya semakin besar nilai harapan keberhasilan; sebaliknya, semakin banyak jumlah kegagalan, maka nilai harapan sukses selanjutnya akan semakin lebih kecil.

Ada lagi satu jenis nilai harapan sukses atipikal yakni: terhadap satu permasalahan jumlah keberhasilan semakin banyak, maka nilai harapan sukses kali berikutnya semakin kecil; sebaliknya, jumlah kegagalan semakin banyak, maka nilai harapan sukses kali berikutnya semakin besar. Judi termasuk dalam kategori ini, ia memiliki nilai harapan keberhasilan atipikal. Lebih banyak kalah berjudi, waktu berikutnya semakin besar peluang harapannya untuk menang, karena penjudi selalu merasa bahwa dirinya tidak mungkin terus-terusan bernasib buruk dan selalu menjadi pecundang. Itu sebabnya perjudian itu sulit diberantas.

Sesungguhnya, segala sesuatu dalam hidup ditentukan oleh teori nilai harapan keberhasilan ini. Sebagai contoh, saya secara pribadi telah membimbing sejumlah guru kelas sumber daya melakukan manajemen tata tertib kelas, saya tidak langsung mengajarkan guru-guru tersebut bagaimana mengelola perilaku nakal siswa, malahan menyuruh para guru untuk mengubah konten mengajar, agar bahan tersebut bermakna dan memberikan bantuan bagi siswa untuk kehidupan di saat ini dan masa depan mereka. Ketika para siswa menyadari bahwa bahan yang diajarkan dapat membantu keberhasilan masa depan mereka, siswa secara alami akan berkonsentrasi mendengarkan dan mem-pelajari, perilaku tidak tertib pun hilang dengan sendirinya. Prinsip dasarnya juga didasarkan pada teori nilai harapan ini.

Psikolog terkenal Frank pada Perang Dunia II ditangkap oleh Tentara Nazi dan dijebloskan ke dalam kamp konsentrasi, ia mengenali pola di kamp konsentrasi itu: setelah para korban merasakan mereka tidak bisa melarikan diri, dan hanya ada 1 jalan kematian, terlebih dahulu reaksinya adalah putus asa, lalu masa bodoh dan diikuti oleh kematian. Frank sebelum ditangkap kebetulan baru saja menyelesaikan sebuah naskah, ia bertekad dengan harapan harus bisa keluar hidup-hidup supaya naskah itu dapat dikirimkan untuk publikasi, maka ia pun harus menanggung penderitaan terbesar dalam kehidupannya, dan akhirnya dapat bebas dari kamp konsentrasi yang kejam itu dalam keadaan hidup. Kemudian, Frank mendirikan aliran Ilmu Psikologi Makna, dengan tema utama: memahami kenapa (makna dan tujuan hidup), barulah mampu menyambut segala (penderitaan, penyiksaan).

Setelah membaca kisah Fila, saya pikir tugas utama menjadi guru panutan adalah: membimbing siswa untuk menghayati kenapa (makna buku pelajaran dan manfaat bagi kehidupan masa depan), dengan demikian, bagaimanapun kesulitan siswa, mereka akan dengan senang menyambut segala (rintangan dan kesulitan). (Huang Jinyuan/Hui)

Huang Jinyuan: Ahli Psikologi Anak

Share

Video Popular