Ilustrasi Angsa Emas

Pada kisah sebelumnya, diceritakan tentang kakak si bungsu yang terluka akibat menebang pohon. Mereka gagal menebang dan kembali ke rumah. hanya si bungsu yang berhasil menebang pohon setelah membantu seorang kakek misterius. Berikut lanjutan kisahnya.

Ternyata kakek tua adalah dewa yang menjelma. Lalu, si bungsu berjalan ke pohon itu dan menebangnya, dan di dalam batang pohon itu terdapat seekor angsa besar, bulu-bulu di sekujur tubuhnya memancarkan kilauan emas, ternyata semuanya adalah emas murni. Dengan amat sayangnya ia memeluk angsa emas itu, dan terdengar angsa emas berkata, “Persembahkan saya pada sang raja, sehingga dengan demikian ia akan menganugerahimu hadiah.”

Selanjutnya si bungsu memulai perjalanannya pergi ke istana. Menjelang malam, ia tiba di sebuah losmen kecil, dan berencana menginap. Pemilik losmen memiliki 3 orang putri, melihat angsa emas yang demikian anggun, pasti sangat langka. Diam-diam putri sulung dan putri kedua mencari kesempatan untuk mencabut sehelai bulunya.

Saat si bungsu tidur, putri sulung masuk lewat jendela dan mencengkeram erat-erat sayap angsa emas, namun tak disangka, begitu jari tangannya menyentuh bulu lantas terlekat erat, dan tidak bisa dilepaskan. Tak lama kemudian, putri kedua menyusul masuk ke dalam, melihat sebenarnya apa yang telah terjadi, ia juga tidak berhati-hati dan menyentuh kakaknya, akibatnya, ia juga terlekat.

Putri bungsu juga melihat keadaan itu, kedua kakaknya berseru kepadanya agar tidak mendekat, namun ia bersikeras menerobos masuk ke dalam untuk melihat, akibatnya ia juga terlekat. Demikianlah, ketiga anak pemilik losmen itu terpaksa menemani angsa emas menginap semalam, dan pada pagi harinya, setelah si bungsu bangun tidur, meninggalkan losmen dan sama sekali tidak memperhatikan mereka yang melekat. Mereka terpaksa melekat erat-erat di belakang angsa emas yang dibawa si bungsu, sepanjang jalan terus berlari perlahan.

Ketika tiba di luar pematang sawah, mereka bertemu dengan seorang petani. Petani itu memandangi mereka sambil berkata: “Gadis sekarang memang tidak tahu malu! Berlari ke sana kemari mengikuti seorang bocah kecil.”

Sembari bicara, petani mencengkeram erat ketiga anak itu, dengan maksud memisahkan mereka, namun tak disangka dirinya sendiri juga terlekat erat, dan mau tidak mau berlari mengikuti mereka.

Di pinggir jalan, seorang tua heran melihat petani mengikuti ketiga anak itu dari belakang. Ia berteriak keras: “Kamu tergesa-gesa berlari mengejar mereka, sebenarnya apa yang hendak kamu lakukan, ha?”

Lalu ia berlari ke sana, dan dengan erat memegangi pakaian si petani bermaksud merobeknya, akibatnya sama seperti yang lain, terlekat erat.

Demikianlah, sekali berjalan 6 orang, satu per satu mengikut dari belakang berjalan serentak. Ketika mereka tiba di depan pintu istana, mereka dihadang oleh 2 orang pengawal kerajaan.

Pengawal: “Apa yang sedang kalian lakukan? Ingin berbuat apa?”

Si bungsu segera memberi penjelasan: “Saya punya pusaka, ingin masuk dan mempersembahkannya kepada raja.”

Pengawal: “Kalau begitu, hanya kamu yang boleh masuk, yang lainnya menunggu di luar, tidak boleh masuk.”

Selesai berkata, pengawal lantas menghampiri si bungsu bermaksud memisahkan yang lainnya. Si bungsu ingin mencegahnya, namun terlambat, ketika dua pengawal menyentuh orang tua yang berada di belakang, ia juga tak berdaya, terlekat erat. Dan dengan demikian, ada 7 orang ikut berjalan di belakang si bungsu yang membawa angsa emas.

Sang raja memiliki seorang putri yang tidak pernah mau tersenyum, ia telah berusaha dengan segala daya upaya, memanggil orang yang memiliki kemampuan linuwih dari berbagai tempat, namun tidak ada juga orang yang dapat membuatnya tersenyum. Karena itu, sang raja pernah mengumumkan secara terbuka, siapa yang dapat membuat putrinya tertawa, maka siapa pun dia akan dijadikan sebagai suaminya. Saat itu masih belum ada seorang pun yang dapat membuatnya tersenyum.

Setelah si bungsu mendengar cerita itu, lalu dengan membawa angsa emas dan rombongan orang yang melekat di belakangnya, menghampiri sang putri. Begitu sang putri melihat 7 orang yang menjadi satu dalam untaian yang tak terpisahkan seinci pun, saat itu juga ia tertawa terbahak-bahak, bahkan terus-menerus tertawa hingga menghilangkan mantera si angsa emas. Kemudian, semua orang yang melekat yakni 3 anak perempuan pemilik losmen, petani, pak tua, dan kedua pengawal istana terlepas begitu saja.

Alhasil, si bungsu mengemukakan niatnya hendak melamar sang putri sebagai istri, namun dalam hati sang raja tidak setuju, merasa latar belakangnya rendah dan hina, namun tidak mau diketahui oleh orang dekatnya. Lalu, mengemukakan berbagai macam keberatannya, sekaligus mengemukakan soal yang sukar untuk mempersulit si bungsu, bahkan menambahkan jika sanggup membuat sang putri menganggukkan kepala tanda setuju, si bungsu akan dijadikan menantunya. Pertama-tama ia harus bisa menemukan seseorang yang sanggup memakan habis setumpuk roti yang besarnya seperti gunung.

Si bungsu lantas teringat pesan kakek tua di hutan, lalu ia pergi ke lokasi pohon yang ditebangnya dulu. Terlihat kakek tua mengikat erat pinggangnya dengan tali, dengan wajah murung berkata, “Saya telah memakan sekuali penuh rotinya, namun tetap saja saya masih merasa sangat lapar, perut saya masih kosong melompong seperti semula, coba kamu perhatikan, jika tidak mati, maka terpaksa saya mengikat erat pinggang saya. Dan ini, harus bagaimana lagi!”

Begitu mendengarnya, si bungsu sangat gembira, lalu berkata: “Bagus! Kamu ikut saya, saya membawamu ke sebuah tempat, sesampainya di sana, kamu bisa memakan sepuasnya, dijamin kamu pasti kenyang.”

Kemudian, ia membawanya ke istana untuk memenuhi tantangan raja. Kakek tua mulai memakan roti itu, dan makan dengan penuh selera, tidak sampai satu hari, roti yang sedemikian besar sudah habis tak berbekas.

“Saya telah mewakili kamu menghabiskan roti yang sedemikian banyaknya, mengapa saya berbuat demikian untukmu, adalah karena kamu pernah baik hati terhadap saya,” kata Kakek tua.

Demikianlah, si bungsu dan sang putri akhirnya melangsungkan pernikahan yang megah dan meriah. Dan setelah sang raja wafat, si bungsu meneruskan takhtanya sebagai raja. Ia mengurangi secara cermat biaya pengeluaran kaum bangsawan dan keluarga raja, dan mengurus negara dengan mengutamakan moral, mencintai rakyat seperti mencintai diri sendiri, dan menghapus semua hukuman kejam serta undang-undang yang menindas rakyat jelata. Dan mengurus negeri hingga menjadi makmur, sejahtera dan kuat. Dan sejak itu pula, semua orang hidup bahagia dan sejahtera. (et/rmat)

TAMAT

 

 

Share
Tag: Kategori: Uncategorized

Video Popular