Rahasia Jurus Pelestarian Lingkungan di Jerman yang ‘Hijau’ (1)

854
Keterangan foto: Schloss (castle) Neuschwanstein Baru di bawah cahaya mentari senja musim gugur. (Huang Qin / Epoch Times)

Keterangan foto: Schloss (castle) Neuschwanstein Baru di bawah cahaya mentari senja musim gugur. (Huang Qin / Epoch Times)

Oleh: Wen Jing

Sejak lima dekade lalu, orang Jerman mulai mencemaskan lingkungannya. Dan kini, dalam hal pelestarian lingkungan, Jerman telah menjadi teladan bagi banyak negara lain, dimanakah letak rahasianya? Bisakah kita juga meniru Jerman? Bagaimana cara menirunya?

Di masyarakat Jerman sekarang ini, melestarikan lingkungan bisa terlihat dimana-mana, pemerintah federal menargetkan, pada 2020 (5 tahun) mendatang mobil listrik yang hilir mudik di jalan raya Jerman akan menembus angka sejuta unit. Perusahaan raksasa energi berupaya keras mengembangkan sumber energi yang terbaharui, dengan disubsidi oleh pemerintah. Kesadaran pelestarian lingkungan sangat menyusup ke setiap sendi kehidupan masyarakat, produk pangan organik kian diminati. Di Berlin dan Munich, para turis menumpang angkong (rickshaw) mengunjungi tempat-tempat wisata, tidak ada polusi udara, dan tidak bising. Setiap closet dilengkapi dengan alat penghemat air; agar tidak boros, kertas tisu yang telah dipakai di satu sisi tidak dibuang, melainkan digunakan lagi sisi sebaliknya. Pemilahan sampah telah menjadi bagian dari hidup yang tak terpisahkan, seperti setiap hari harus sikat gigi. Setiap orang merasa ikut bertanggung jawab terhadap iklim dunia, juga harus menyelamatkan ikan paus di Samudera Hindia, dan padang rumput tropis di Afrika.

Segalanya telah berubah “hijau”: PM Merkel berbicara soal transformasi energi, gereja juga berbicara soal pelestarian lingkungan hidup, mulai dari surat kabar “Die Zeit” (Times Weekly, Red.) yang digandrungi kalangan politisi dan ekonom hingga ke surat kabar bacaan rakyat jelata “Bild”, bahkan juga majalah wanita “Brigitte”, semua membahas soal permasalahan lingkungan hidup. Bahkan bakul “junk food (makanan tidak sehat)” yang telah diakui dunia itu yakni McDonald’s pun mengubah warna merah pada logonya menjadi warna hijau (warna yang bermakna peduli lingkungan hidup sehat, red.).

Mulai dari timbulnya topik pelestarian lingkungan hidup ini di tengah kehidupan sehari-hari, sampai akhirnya sekarang setiap orang menjadi “hijau”, hanya dibutuhkan waktu beberapa dekade. Jika seorang yang hidup di era tahun 60-an dimasukkan ke dalam mesin waktu dan tiba di zaman sekarang ini, orang itu pasti akan tercengang. Bukan hanya tercengang karena melihat iPhone yang muat di kantong dapat menghubungkan seseorang dengan sanak saudaranya di seberang lautan sana, juga akan melihat robot yang bisa memberi salam pada Ratu Inggris, ia akan lebih tercengang lagi mendapati adanya jejak serigala di hutan tapi tidak ada pemburu yang mengincarnya, bahkan tidak sedikit orang yang justru merasa sangat senang berusaha mengembalikan habitat alam ke kondisi semula. Dan yang lebih mencengangkan dia lagi adalah, tidak sedikit orang memiliki mobil tapi tidak dikemudikan karena lebih senang bersepeda.

“Gelombang Hijau” Dimulai Setengah Abad Lalu

Pada era sebelum tahun 50-an dalam sebuah fillm mengenai alam, hewan liar digambarkan sebagai mahluk buas yang berbahaya. Tapi sekitar 50 tahun lalu pertama kalinya alam dilukiskan dalam “bahaya”, dan berubah menjadi alam yang “berada dalam mara bahaya”. Informasi yang disampaikan sangat jelas: beberapa cuil lahan di dunia ini yang belum terjamah oleh manusia sedang dalam bahaya, kita harus mengubah pola pikir, dan menyadari bahwa sama halnya dengan cagar budaya peninggalan bersejarah umat manusia, alam dan mahluk hidup di dalamnya juga sama pentingnya. Film yang memiliki makna epochal dalam sejarah pelestarian lingkungan itu berjudul “Serengeti Darf Nicht Sterben (Serengeti tidak boleh mati)”, yang disutradarai oleh Bernhard Grzimek dan merupakan film dokumenter yang difilemkan pada 1959.

Serengeti adalah suatu daerah yang terletak di Afrika, di barat laut Tanzania dan di barat daya Kenya dengan luas 30.000 km persegi, memiliki sekitar 70 jenis mamalia besar dan lebih dari 500 jenis unggas unik, migrasi satwa berskala besar tiap setengah tahun sekali adalah salah satu dari 10 pemandangan alam yang paling menakjubkan di dunia. Film itu menampilkan pemandangan indah laiknya epos, padang rumput tropis, mengungkap sisi lain yang tidak diketahui manusia tentang dunia satwa. Film itu mengundang perhatian masyarakat berbagai negara, membuka lembaran baru tentang pelestarian lingkungan, dan meraih piala Oscar 1960 untuk kategori film dokumenter panjang terbaik. Sutradara Grzimek harus membayar mahal untuk itu, putranya yang juga merupakan cameraman film tersebut mengalami naas dan tewas di lokasi shooting.

Politisi Naik Pentas “Lingkungan Hidup”

Setahun setelah film itu dirilis, pada 1961 Willy Brandt yang masih menjabat sebagai walikota Berlin Barat ikut dalam kampanye pemilu kanselir (perdana menteri), bersaing dengan kanselir tua Adenauer. Dalam kampanye untuk pertama kalinya Brandt melontarkan masalah lingkungan hidup sebagai topik debat kampanye, slogannya adalah “Langit di kawasan industri Ruhr harus kembali menjadi biru.” Ruhr terletak di negara bagian North Rhine-Westphalia, dulunya merupakan kawasan industri penting di Jerman, sangat kuat dalam industri batu bara, listrik, baja, mesin, kimia dan berbagai jenis industri konvensional lainnya, sekitar 50-60 tahun lalu pencemaran di kawasan itu sangat parah.

Dalam platform kampanye Brandt tertulis: “Hasil survey (terhadap kawasan Ruhr) sangat mengejutkan, pencemaran udara dan air menyebabkan leukemia, kanker, bertambahnya pengidap rakhitis, perubahan serum darah, dan itu terjadi sejak anak-anak. Masalah publik yang terkait dengan kesehatan jutaan warga itu hingga saat ini masih terabaikan, ini sangat mengejutkan.” Ia melontarkan masalah di satu kawasan, menguak sisi gelap dari keajaiban ekonomi Jerman. Untung Brandt berada di Jerman, jadi dirinya tidak sampai dicap sebagai “anti-pemerintah” karena melengserkan perdana menteri lama, juga tidak digugat dengan tuduhan “membocorkan rahasia negara” karena mengungkap masalah pencemaran lingkungan kepada masyarakat luas.

Sebaliknya, himbauannya justru berhasil menarik perhatian warga pada masalah lingkungan hidup. Yang disayangkan adalah, Brandt terpaksa harus mengundurkan diri dari pencalonan dirinya karena pada waktu itu Jerman Timur tiba-tiba mendirikan Tembok Berlin, dan sebagai walikota Berlin Barat, ia tidak ragu menarik diri dari pencalonan diri sebagai kanselir, dan pergi ke Berlin Barat untuk menghimbau. Walaupun tidak berhasil dalam kampanye tersebut, namun Brandt telah menjadi pelopor bagi politisi Jerman untuk memperhatikan masalah lingkungan hidup, yang kemudian jejaknya juga diikuti oleh orang lain.

Pada 1969, Kementerian Dalam Negeri Federal untuk pertama kalinya menggunakan istilah “pelestarian lingkungan (Umweltschutz)”, ibarat membalikkan telapak tangan, istilah ini pun dengan cepat segera menguasai berbagai kalangan masyarakat. Pemerintah Federal juga mengeluarkan undang-undang baru untuk melindungi udara dan air. Setelah itu setiap kanselir yang baru semakin banyak berperan dalam hal ini. (sud/whs/rmat)

BERSAMBUNG