Hanya karena tidak dibelikan ponsel baru untuknya, seorang bocah yang duduk di bangku kelas 3 SMP lalu perang dingin dengan orang tuanya, sang bocah bukan hanya mogok bicara, tapi juga selalu memasang muka masam, seolah-olah orang tuanya berhutang padanya, anak itu mencoba “menjauhkan diri dari orang tuanya”, untuk mencapai tujuannya, lalu bagaimana ayah/ibu harus bersikap dan apa yang sebaiknya dilakukan?

Orang tua hanya bertanggung jawab atas sesuatu yang “dibutuhkan” anak, bukan yang “diinginkannya”

Perdebatan tentang pengeluaran (biaya) antara orang tua-anak, dimana sejak anak-anak masih kecil selalu ribut minta dibelikan permen, mainan, sampai setelah agak besar kemudian minta dibelikan konsol game, ponsel, komputer, sepeda motor dan sebagainya, namun, karena orang tua yang mengeluarkan biaya, maka secara otomatis merasa punya hak menyatakan pendapat, memutuskan atau menggunakan hak veto-nya. Akibatnya kerap bertengkar dengan anak dari rumah hingga ke toko, lalu bertengkar lagi dari toko sampai pulang ke rumah, hingga pada akhirnya membuat hubungan orang tua-anak menjadi tidak harmonis, bahkan mengguncang perasaan.
Setiap saat jalan-jalan bersama kedua putri saya, dan ingin membeli sesuatu, dimana ketika mereka melihat sesuatu yang menarik dan ingin membelinya, saya hanya tersenyum sambil mengatakan, “Bagus juga itu, kamu bisa pertimbangkan membelinya dengan uang sakumu. Kalau kamu tidak membawa uang, ibu bisa talangin dulu ; jika terlalu mahal, kamu boleh mengangsurnya, setelah itu.”

Dengan cara mengembalikan masalah tersebut pada mereka, biar mereka sendiri yang pusing mempertimbangkannya, dan membuat keputusan sendiri. Oleh karena itu, kedua putri saya itu sejak kecil menyadari kalau ayah dan ibu tidak berkewajiban harus membelikan sesuatu untuk mereka, yang ada hanya wewenang ayah dan ibu akan membelikan sesuatu kalau mereka bersedia, artinya ayah ibu hanya bertanggung jawab atas sesuatu yang dibutuhkan anak-anak, namun, jika mereka menginginkan sesuatu, maka mereka harus bisa belajar memenuhi kebutuhan sendiri, dan belajar menjadi seorang konsumen yang bijak.

Selain itu, dengan adanya uang saku, orang tua bisa menumbuhkan kemampuan anak untuk menyimpan, mengelola keuangan dan kemampuan lainnya, serta lebih bijak dalam menggunakan uang saku, biarkan anak-anak memikul tanggung jawab atas konsekuensi dari tindakan mereka (misalnya, jika merusak barang milik orang lain, maka mereka harus menggunakan uang saku sendiri untuk membeli barang baru sebagai gantinya).

Jadi, apakah anda sudah memberikan anak-anak uang saku? Jika anak anda sudah duduk di bangku sekolah dasar dan anda tidak memberinya uang saku, sebaiknya segeralah berikan uang saku, Kemudian anda akan merasakan betapa efektifnya “uang saku” sebagai sarana bimbingan yang bermanfaat.

Berikut metode orang tua yang efisien

Langkah 1 : Menentukan tujuan atas sikap/tindakan anak

Karena tidak mendapatkan apa yang diinginkan, si anak lalu mencoba memaksa orang tuanya menyerah dengan cara perang dingin. Cara pendekatan si anak seperti ini, mungkin akan menimbulkan emosi yang berbeda bagi orang tua yang memiliki konsep dan pemikiran yang tidak sama, ada orang tua yang akan marah, karena di luar dugaan si anak menggunakan tindakan yang memaksa orang tua ; ada juga orang tua yang akan merasa sedih, karena di mata anak, nilai orang tua itu bahkan tidak bisa disandingkan dengan sebuah ponsel ; sementara itu, ada orang tua yang akan merasa kecewa, karena anak-anak hanya akan mengejar tren, terlalu berlebihan. Jadi terhadap emosional, perasaan orang tua yang berbeda, tujuan dari tindakan anak-anak ini adalah untuk menarik kekuasaan atau balas dendam.

Langkah 2 : Mengatasi suasana hati (emosional) orang tua

Tidak peduli apakah tujuan dari tindakan anak itu adalah ingin menarik kekuasaan atau balas dendam, pertama-tama yang harus diatasi orang tua adalah menenangkan emosi diri dulu, baru kemudian menangani masalah anak tersebut. Terutama ketika anak-anak ingin memanipulasi emosional sebagai senjata, maka anda selaku orang tua lebih tidak boleh memperlihatkan ekspresi seperti “tertembak”. Karena jika si anak mengetahui suasana / emosional anda (ayah/ibu) itu ternyata terpengaruh, maka si anak akan terus memainkan lakonnya atas drama yang dimanipulasi itu.

Langkah 3 : Mengetahui secara jelas itu masalah siapa

Anak-anak menginginkan ponsel baru tapi ditolak orang tuanya, lalu marah, sedih dan kecewa, ini adalah hal yang wajar, orangtua bisa menerimanya dengan prinsip yang sama, tapi tidak berkewajiban mengatasi emosinya (membeli ponsel untuknya, si anak pasti akan senang), apalagi harus dibelenggu oleh emosional anak, karena pada dasarnya itu adalah masalah anak itu sendiri.

Mengingat harapan agar anak-anak bisa mengatasi masalahnya dengan sikap positif, orang tua bisa membantu anak-anak mempercepat keluar dari badai emosi negatif:
·  Di antara teman-teman, hanya kamu yang memakai ponsel model lama, sehingga membuat kamu merasa malu?!

·   Karena sedikitnya fitur pada ponsel lama, sehingga kamu ingin mengganti dengan yang baru?

·  Jika keinginan kita itu ditolak memang sangat tidak menyenangkan, tak heran kalau kamu marah pada ayah dan ibu karena merasa kecewa.
Namun, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, jika emosi anak itu dipicu oleh orang tua, maka efek dari mendengarkan cerminan anak-anak itu akan sangat terbatas. Bahkan, kemungkinan akan membangkitkan kembali harapan si anak karena pesan pengakuan yang disampaikan orang tua atas pemikiran dan suasana hatinya, sehingga si anak akan semakin kecewa dan murka pada orang tua karena “harapan kosong” dari pesan yang disampaikan itu.

Langkah 4 : Memilih strategi yang sesuai

Jadi, meskipun semua itu adalah masalah anak itu sendiri, dan si anak juga memiliki perasaan negatif yang kuat, namun yang perlu dilakukan orang tua adalah memberikan sebuah ruang yang bisa menenangkan anak-anak, agar bisa belajar bagaimana berkompromi dengan realitas dan secara otomatis bisa mencerna emosi negatifnya sendiri.

Setelah berangsur-angsur si anak menjadi agak tenang, acapkali bisa memikirkan solusi lain yang lebih baik. Misalnya, mengeluarkan sebagian uang sendiri untuk membeli ponsel baru, dan berjanji akan berusaha meraih prestasi belajar yang lebih baik sebagai syarat mendapatkan ponsel baru. Cara-cara seperti ini lebih bisa mencapai maksud yang diinginkannya daripada terus memanipulasi orang tua dengan emosional.

Langkah 5 : Mendorong (semangat) anak-anak atas perilaku positifnya setiap saat

Ketika si anak memanipulasi orang tua dengan cara perang dingin, dan jika orang tua mengagumi/memuji tindakan positif yang dilakukan oleh anak-anak dalam kesehariannya, hal ini kerap akan membuat anak-anak keliru menafsirkan kalau ayah/ibu itu bermaksud menyenangkan dirinya, bahkan, mengira strateginya akan segera berhasil dan lebih memperkuat tindakannya, misalnya, merespon dengan sikap dingin dan menertawakan kekaguman orang tua.

Jika karena itu orang tua lantas menjadi marah, itu berarti orang tua belum sepenuhnya melepas masalah itu, sehingga menambahkan kemarahan baru disertai sisa emosi yang masih menyala. Di saat demikian, orang tua seharusnya tidak melakukan apa pun, sebaiknya merenungkan kembali dan menenangkan emosi diri, sampai anda bisa mengagumi/menghargai anak itu seperti biasa, dan tidak keberatan dengan respon apa pun atas sikapnya.

. Hebat, sekarang kamu bisa latihan piano sendiri tanpa perlu saya ingatkan lagi!

. Dedek bilang kemarin kamu mengajarinya matematika, tampaknya kamu benar-benar kakak yang baik juga ya.

. Saya sendiri lupa sedang masak air, untungnya, kamu sudah bantu mematikan kompornya, terima kasih ya.

. Kakek di seberang rumah sana bilang kamu sangat sopan, selalu menyapa setiap berpapasan, kamu benar-benar hebat lho!

Jika setiap orang tua bisa selalu memuji anak-anak, baru bisa membuat anak itu tahu : Bahwa upaya memanipulasi orang tua itu sama sekali tidak efektif. Sementara itu, apresiasi dan pujian dipastikan bisa melenyapkan keakuan anak itu sendiri, dan dengan dua pendekatan ini yakni mengabaikan tindakan manipulasi anak-anak, melenyapkan atas keakuan dirinya, bisa lebih cepat dan efektif dalam memecahkan masalah terkait. (jon/ran)

Share

Video Popular