Keterangan foto: Parade militer 3 September 2015 telah menempatkan 56 orang perwira tinggi Partai Komunis Tiongkok/ PKT sebagai komandan barisan, ini sangat jarang terlihat pada parade militer negara-negara lain di dunia pada masa damai. Merendahkan derajat letjend dan mayjend militer seperti ini dan menaikkan posisi Komisi Militer membuat seluruh jajaran perwira tinggi militer sangat terguncang dan merasakan pukulan psikologis sangat telak, sehingga prinsip ala PKT “partai mengendalikan militer” pun terwujud. Dari kiri ke kanan: letjen Bai Jianjun, Tian Zhong, Chen Dong, Wu Guohua dan Pan Changjie memimpin kendaraan bersenjata. (wikipedia)

Oleh: DR. Frank Tian, Xie

Strategi pada perang psikologis dalam parade militer Partai Komunis Tiongkok/ PKT ketika ditujukan pada rakyat biasa di Tiongkok, terutama warga kota Beijing, juga sarat akan efek membingungkan atau menakuti rakyat. Ratusan juta rakyat Tiongkok, terutama jutaan warga Beijing, dengan sedemikian banyaknya jendral, perwira, dan prajurit PKT, termasuk para mantan kepala komisi militer PKT pun ikut merasakan dampak yang sangat besar dengan perang psikologis ini.

Gerakan perayaan tanpa dasar – melulu untuk psywar

Perayaan oleh PKT kali ini yang disebut sebagai “70 Tahun Peringatan Kemenangan Perang” sama sekali tidak berdasar dan tidak beralasan. Orang Soviet atau Rusia masih beralasan ketika memperingati kemenangan mereka pada PD-II. Mulai dari peringatan 10 tahun, 20 tahun, sampai 70 tahun, selalu diulas dan diperingati secara berkala. Sedangkan PKT merayakan berakhirnya perang melawan Jepang setelah 70 tahun, mendadak dilakukan “perayaan”, sama sekali tidak berdasar. Masyarakat dengan sendirinya akan bertanya-tanya, mengapa pada saat 50 tahun atau 60 tahun tidak ada perayaan, dan hanya dirayakan pada saat 70 tahun?

Tak satu pun dasar hukum, atau moralitas, ataupun sejarah, murni merupakan upaya PKT melancarkan perang psikologis, menggunakan prinsip psikologis, yakni kelemahan dan ilusi manusia, dengan isyarat, godaan, ancaman, propaganda dan lain-lain, berupaya mengubah psikologis manusia, membuat pemikiran, niat, mental, perasaan, norma dan perilaku manusia mengalami perubahan yang diharapkan, inilah salah satu tujuan strategi dan taktik PKT dengan menggelar parade militer ini.

Sebelum dan sesudah perayaan parade tersebut, luapan emosi anti-Jepang di berbagai penjuru Tiongkok diprovokasi dan dipermainkan, propaganda menolak produk Jepang dan menyerang para pengusaha Jepang bermunculan tanpa sebab di banyak kota-kota di Tiongkok. Ini adalah metode propaganda PKT memanfaatkan kelemahan manusia, mengkambing-hitamkan orang Jepang dan produk Jepang di saat ekonomi dan bisnis dalam negeri sedang terpuruk seperti sekarang ini.

Begitulah, momentum peringatan 70 tahun kemenangan perang dan momentum paling terpuruknya ekonomi RRT 70 tahun terakhir ini, sukses dikaitkan dengan propaganda ala PKT, membuat pemikiran, niat, perasaan, norma, dan perilaku rakyat Tiongkok tanpa disadari terjerumus dalam kebencian dan emosi anti-Jepang. Jelas bahwa Jepang tidak melakukan apapun pada masalah Pulau Diaoyu, dan karena emosi anti-Jepang ini tidak bisa dikobarkan dengan dalih Pulau Diaoyu, maka dimanfaatkanlah peringatan 70 tahun perang melawan Jepang ini.

Bayangan peristiwa Tiananmen selamanya tak terhapuskan dari dalam benak rakyat Tiongkok. Selama belasan tahun PKT berusaha menutupi namun hanya membuat rakyat yang mengetahui fakta sebenarnya, seperti para pelajar RRT yang studi di AS, semakin cepat menyadari kemunafikan dan kebrutalan rezim PKT, dan di hati mereka akan segera menjadi musuh PKT. Sejak 1989 ketika kendaraan tank PKT melindas jalan Chang-an dan Lapangan Tiananmen, setiap kali kendaraan tank berkumpul di jalanan kota Beijing sambil mengepulkan asapnya, mengingatkan warga Beijing akan tragedi pembantaian Tiananmen.

Dalam perasaan masyarakat Tiongkok, terdapat kebencian dan memusuhi PKT dalam taraf yang cukup. Rakyat merasa, biarkan PKT merayakannya, rakyat tetap melalui kehidupan seperti biasa, tidak akan ikut merayakannya bersama PKT. Di internet semakin banyak masyarakat Tiongkok mulai menggunakan istilah “negaramu”, dan bukan “negaraku”, karena dalam hati rakyat telah membuat garis pembatas dengan rezim PKT. Bagi PKT sendiri jelas telah menyadari hal ini, sehingga tidak berani merayakannya bersama rakyat, mereka bahkan sama sekali tidak berniat merayakannya dengan rakyat. Jadi, berbeda dengan parade militer Soviet, Rusia, Hitler bahkan Korut sekalipun, dalam parade militer Beijing, sama sekali tidak ada rakyat berniat ikut ambil bagian dalam event tersebut karena dianggap bukan perayaan bagi rakyat.

Kota Beijing sedemikian besar dengan puluhan juta jiwa warganya, tidak ada yang turut meramaikannya. Pada dasarnya Beijing hanyalah kota mati, rakyat biasa tidak ikut serta, ratusan ribu warga di tepi jalan raya juga terisolasi. Para warga menutup pintu dan jendela rapat-rapat, toko-toko menghentikan semua kegiatan, lalu lintas berhenti total, hanya agar 20.000 orang tentara bisa lewat membawa senjata tanpa peluru, agar para pemeran yang telah diatur sedemikian rupa memainkan perannya di atas podium kehormatan.

Parade Militer Anti-Fasisme yang bergaya Fasisme

Para pengamat etnis Tionghoa di luar negeri memperhatikan kegiatan parade militer yang diadakan PKT terlihat semakin aneh. Parade militer yang seharusnya digelar di lokasi yang layak di ibukota, malah dilangsungkan seolah di wilayah jajahan negara lain atau di wilayah sewaan. Di berbagai situs bahasa Mandarin di luar negeri, terus bermunculan berbagai sindiran terkait parade militer ini. Tadinya parade militer PKT yang seharusnya sebagai “ajang pamer senjata dan kekuatan” PKT, ternyata ibarat bersiul saat berjalan di tengah kegelapan malam, seolah dipaksa memberanikan diri. Penulis berpena tajam mengkritik “parade militer merayakan kemenangan anti-fasisme” sebenarnya justru merupakan “parade militer fasisme”. Ini mau tidak mau harus disebut sebagai kekalahan besar perang psikologis PKT, karena sejak parade militer PKT memperingati hari kemerdekaan sebelumnya, suara sindiran dan cemooh sama sekali tidak pernah seheboh kali ini.

Rezim PKT yang telah terperosok dalam krisis di masa akhir kekuasaannya telah kehilangan keyakinan diri, juga telah kehilangan keyakinan pada rakyat Tiongkok, dan rakyat Tiongkok sendiri telah sama sekali tidak memiliki keyakinan lagi pada pemerintah. Mungkin pertimbangan pemerintah adalah sangat kecil peluang untuk menarik simpati rakyat, sehingga meraih dukungan rakyat hanya bisa didapatkan dengan “paham patriotisme”, tapi ketika segala cara untuk mengubah hati rakyat telah tidak efektif di tengah krisis ekonomi dan kemerosotan moral, teriakan menggelegar disaat parade dan ancaman dengan persenjataan sepertinya merupakan metode perang psikologis terbaik dan terakhir yang bisa dikerahkan.

Efek Menakuti Para Jendral Militer

Penerapan strategi perang psikologis pada parade militer September lalu terhadap para jendral PKT juga luar biasa mengejutkan dibandingkan sebelumnya. Akibatnya adalah, mungkin sejak saat itu pemerintahan PKT akan memiliki pasukan militer yang jinak dan patuh, tapi dari sisi lain, perang psikologis yang keras ini dapat saja menimbulkan “perang internal” psywar, yang juga mungkin akan menjadi potensi terjadinya kudeta militer dan perlawanan bersenjata di masa mendatang.

Komando Region Militer Beijing dan Komisi Politik PKT yang bertanggung jawab menggelar parade militer ini mengatakan, parade militer kemenangan ini diprakarsai sendiri oleh Xi Jinping. Topik dari parade militer ini adalah memiliki perencanaan strategis yang mendalam, pengaruh politik yang luas, dan terorganisir secara inovatif. Ketua partai turun tangan sendiri merencanakan, mengaudit sendiri rencana pelaksanaan, dan turun tangan memberi instruksi pelaksanaan.

Hasil perencanaan dan pelaksanaan memperlihatkan pada pihak luar terorganisirnya parade militer yang “inovatif”. Menyusun barisan pasukan persenjataan dan formasi angkatan udara, mengundang perwakilan militer asing untuk hadir dan mengikuti formasi terpilah, sudah bukan lagi hal baru, akan tetapi perang psikologis yang krusial adalah menempatkan sejumlah jendral untuk menjadi pemimpin barisan.

Parade militer kali ini menempatkan 6 orang letnan jendral beserta 50 orang mayor jendral PKT sebagai komandan barisan, ini belum pernah terjadi dalam sejarah PKT. Bahkan parade militer negara di dunia pada masa damai pun sangat jarang terlihat fenomena ini. Metode implikasi dalam perang psikologis ini terlihat jelas dengan penempatan seperti ini. Merendahkan derajat letjend dan mayjend militer seperti ini dan menaikkan posisi Komisi Militer membuat seluruh jajaran perwira militer PKT sangat terguncang dalam parade militer kali ini, dan merasakan pukulan psikologis yang sangat telak, sehingga prinsip ala PKT “partai mengendalikan militer” pun terwujud.

Selain para perwira militer, yang terguncang karena hal ini juga termasuk mantan ketua Komisi Militer satu jabatan sebelumnya dan dua jabatan sebelumnya, karena ketua Komisi Militer satu jabatan sebelumnya (Hu Jintao) pernah merasakan derita sulit mempertahankan posisi dan tak kuasa mengendalikan satuan militer, sementara ketua Komisi Militer dua kali jabatan sebelumnya (Jiang Zemin) justru sangat rakus kekuasaan dan tidak mau melepaskan kekuasaannya atas militer, dan kali ini keduanya menyaksikan cara keras ketua Komisi Militer menjabat (Xi Jinping) berkiprah, mental dan niat keduanya mendapat pukulan telak dan tidak tenang, dalam konflik kekuasaan selanjutnya akan terjadi perubahan yang diperkirakan akan seperti yang diharapkan oleh kubu Xi Jinping. (sud/whs/rmat)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular