Keterangan gambar. Ilustrasi

Oleh Qin Yufei

Bank Dunia mengingatkan bahwa pelambanan ekonomi Tiongkok, harga komoditas yang lemah dan kondisi keuangan eksternal yang ketat sedang menghambat pertumbuhan ekonomi negara-negara sedang berkembang di kawasan Asia Pasifik yang pernah menduduki peringkat atas dalam pertumbuhan berskala global.

CNBC pada Senin (5/10/2015) memberitakan bahwa Bank Dunia telah melakukan pemangkasan terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia Pasifik pada 2015, 2016 dan 2017 menjadi masing-masing menjadi 6.5%, 6.4% dan 6.3% dari sebelumnya yang 6.7%, 6.7% dan 6.6%.

Pertumbuhan ekonomi 14 negara sedang berkembang di kawasan Asia Timur dan Pasifik tahun lalu mencapai 6.8%, itu termasuk Tiongkok, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam dan lainnya.

Bank Dunia dalam ‘East Asia and Pacific Economic Update’ melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi negara berkembang di Asia Pasifik diprediksikan akan melambat.

Ekonomi Tiongkok diproyeksikan akan mengubah jalur agar lebih dapat menjamin stabilitas dan kesinambungan pembangunan ekonominya. Kondisi pertumbuhan ekonomi negara-negara lain di kawasan ini akan sangat tergantung pada demand dan supply pasar dalam hubungan perdagangan dengan negara yang berpenghasilan lebih tinggi, kondisi keuangan eksternal yang diperketat dan harga komoditas internasional yang masih tertekan. Demikian bunyi laporan itu.

Bank Dunia memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi Tiongkok tahun ini mungkin bisa mendekati sasaran mereka yang 7%, tetapi seiring dengan pengetatan kredit, pelambatan investasi, kondisi properti yang semakin lesu, maka pertumbuhan ekonomi Tiongkok tahun selanjutnya bisa melamban. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok tahun ini adalah sebesar 6.9%, kemudian menurun ke 6.7% dan 6.5% pada tahun berikutnya. Prediksi sebelumnya yang dibuat pada April lalu adalah 7.1%, 7% dan 6.9%.

Mengingat perdagangan dan keuangan antar negara dengan negara sangat erat berhubungan, maka pelambatan pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang terjadi di luar harapan akan memiliki dampak serius terhadap negara-negara lainnya di kawasan Asia Timur.

Dampak perdagangan yang utama akan tercermin dalam perubahan pada harga komoditas. Jumlah ekspor ke Tiongkok dan jumlah penerimaan wisatawan asing asal Tiongkok. Membanjirnya dana di pasaran Tiongkok merupakan efek dari penurunan jumlah investasi langsung Tiongkok di luar negeri dan tingkat gejolak yang bertambah.

Kenaikan suku bunga the Fed juga bisa meningkatkan resiko ekonomi negara-negara di kawasan Asia Pasifik, karena ia dapat berpengaruh langsung pada biaya modal investasi di luar negeri dan tingkat pendapatannya.

Laporan Bank Dunia menyebutkan bahwa kenaikan suku bunga the Fed kemungkinan akan memicu reaksi pasar secara tiba-tiba, menyebabkan devaluasi mata uang, spread obligasi naik dengan cepat, arus modal masuk menurun tajam, pengetatan likuiditas, seperti ‘taper tantrums’ yang pernah terjadi pada 2013. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular