Keterangan foto: Melalui Perjanjian TPP, AS membuka pasar bagi para sekutunya demi solidaritas dan kemajuan bersama. (foto wikipedia)

Oleh Li Fan

Trans-Pacific Partnership  (TPP) atau Kemitraan Trans-Pasifik akhirnya membuat terobosan besar setelah kedua belas negara mencapai konsensus pada Senin (5/10/2015). Analisis pakar menyebutkan, dengan ditandatangani TPP yang tidak termasuk Tiongkok berarti Tiongkok mau tak mau terdesak untuk masuk ke dalam ‘benteng tertutup’ yang akhirnya menggiring pada perubahan tatanan politik Tiongkok.

Trans-Pasific Partnership yang dimotori Amerika membentuk perdagangan bebas di antara negara peserta yang berlokasi di sekitar Pasifik, yakni Amerika Serikat, Canada, Chile, Mexico, Peru, Australia, New Zealand, Jepang, Brunei, Malaysia, Singapore dan Vietnam. Setelah TPP diimplementasikan nanti, berarti 40% ekonomi global akan ‘bermain’ dalam lingkungan tersebut dan membiarkan Tiongkok ‘gigit jari’ di luar.

Analis : Perubahan historikal Tiongkok akan dimulai

Penulis Yang Beng dan kawan-kawan dalam artikel yang berjudul ‘Penelitian Ekonomi dan Investasi’ menyebutkan bahwa dengan ditandatanganinya perjanjian TPP berarti motor untuk mengubah tatanan  historikal di Tiongkok sudah diaktifkan. Tiongkok dipaksa untuk memilih apakah mau mengikuti aturan perdagangan bebas internasional, melakukan reformasi radikal terhadap kebijakan ekonomi dan politik ekonomi non pasar yang selama ini mereka terapkan, kemudian menjadi bagian dari penyelenggara ekonomi dunia yang bertanggung jawab, atau memilih kembali ke tahun-tahun sekitar 1978 untuk menyelenggarakan ekonomi yang nasionalisme dalam ‘benteng tertutup’ – kebijakan menutup pintu.

Berbeda dengan Perjanjian WTO yang cenderung bersandar pada pengurangan tarif tajak sebagai inti, perjanjian TPP memasukkan hak-hak buruh, standar perlindungan lingkungan yang komprehensif, marketisasi, privatisasi, kebebasan informasi dan lain sebagainya yang membuat Tiongkok menjadi terkucil karenanya.

AS membuka pasar bagi para sekutunya demi solidaritas dan kemajuan bersama dalam bidang ekonomi, lingkungan hidup, sosial  dan politik. Sementara itu, kepada negara non sekutu (seperti Tiongkok) akan terkena banyak batasan seperti yang berkaitan dengan perlindungan terhadap lingkungan hidup, standar sosial dan politik. Dengan demikian maka akan terjadi lebih besar arus modal keluar Tiongkok untuk masuk ke negara-negara yang bergabung dalam TPP.

Artikel tersebut menyebutkan, inti perjanjian TPP adalah AS sudah menguasai nilai dari strategi akses pasar, maka ia bermaksud untuk membiarkan ekonomi negara-negara sukutunya di TPP secara bertahap menggantikan kedudukan ekonomi Tiongkok, dengan kata lain bahwa AS sudah ‘ogah bermain’ dengan Tiongkok.

Ekonomi Tiongkok selama puluhan tahun terakhir dibangun dalam kondisi memperoleh dukungan politik dari AS akibat terjadi Perang Dingin serta membukakan pasar Barat demi produksi Tiongkok. Namun sekarang AS berubah sikap, Pemimpin AS lebih menginginkan lewat pembentukan Pacifi Rim untuk merealisasikan aturan perdagangan bebas yang lebih komprehensif. Perjanjian TPP adalah tonggak. Biar lambat atau cepat, perubahan historikal di Tiongkok pasti terjadi. Demikian tulisan dalam artikel.Anal

isa peneliti, menyatakan perjanjian TPP merupakan batu sandungan bagi Tiongkok dalam proses internasionalisasi ekonomi, sehingga konsekuensi ekonomi yang serius akan muncul dalam tahun-tahun mendatang. Begitu perjanjian TPP diimplementasikan, maka AS bisa memanfaatkan ‘non ekonomi’ sebagai sarana untuk mengontrol perdagangan, yang dapat memperburuk lingkungan ekonomi internasional Tiongkok. Hal ini akan membuat pertumbuhan ekonomi Tiongkok ‘sudah jatuh tertimpa tangga’.

Pakar Forex : Tiongkok digiring masuk ke dalam benteng tertutup

Investor terkenal Tiongkok, pakar mata uang asing, ketua dewan situs xitauwang.com, Huang Shen dalam artikel yang dirilis pada 5 Oktober 2015 mengatakan, “Sampai TPP jadi terealisir, Tiongkok bakal terkucil dari sistem perdagangan utama dunia. Status perdagangan Tiongkok akan menurun tajam, bahkan mungkin saja Tiongkok hanya bisa berdagang dalam benteng milik sendiri yang tertutup.”

Perjanjian TPP adalah kesepakatan persekutuan antar negara Pacific Rim (pantai Lautan Pasifik), TIPP adalah perjanjian perdagangan dan kerjasama investasi antar negara Pacific Rim. Kedua Perjanjian tersebut mencaplok hampir 70% portofolio perdagangan dunia. Hanya saja tidak termasuk Republik Rakyat Tiongkok.

Omzet perdagangan internasional Tiongkok jelas akan menurun tajam akibat Tiongkok berdiri terkucil di luar perjanjian. Faktor ekonomi Tiongkok seperti biaya produksi, biaya bisnis, pajak dan lainnya membuat hasil produksi Tiongkok kalah bersaing dengan negara-negara anggota TPP. Ini juga berarti bahwa negara importir besar seperti AS besar kemungkinannya untuk tidak mengimpor hasil produksi Tiongkok. dengan demikian, defisit perdagangan Tiongkok akan makin membesar.

Bila mana Tiongkok berada di luar TPP, maka yang mengerikan adalah penarikan besar-besaran modal investor asing dari Tiongkok, karena hasil industri perusahaan asing di Tiongkok tidak mampu bersaing di pasar internasional. Kondisi demikian akan menjadi pukulan berat bagi perekonomian Tiongkok.  (sinatra/rmat)

Share

Video Popular