Keterangan foto: Kim Jong-un sedang ‘menunjukkan’ jalan yang tepat agar Korea Utara tidak mengikuti jejak kegagalan negara-negara sosialis lainnya. (foto KCNA)

Oleh Liu Chengyin

Menurut laporan Daily Telegraph pada Kamis (8/10/2015) bahwa Pemimpin Besar Rakyat Korea Utara Kim Jong-un telah merangkum alasan mengapa negara-negara sosialis lainnya bisa mengalami kegagalan dalam merealisasikan sosialisme seutuhnya.

“Itu semua akibat para pemimpin negara-negara itu tidak menyerahkan kekuasaan kepada keturunan mereka,” katanya.

Kalau saja Karl Marx dan Vladimir Lenin masih hidup, jangan-jangan kedua orang yang masing-masing adalah pencetus dan pendukung komunisme dan sosialisme akan terkejut mendengarnya.

Ucapan itu merupakan sebagian dari pidato Kim Jong-un dalam menyambut 70 tahun berdirinya Partai Buruh Korea Utara yang dilangsungkan di kota Pyongyang. Para analis beranggapan bahwa isi pidatonya terdengar lebih seperti permohonan untuk diakui legitimasi rezimnya.

Korea Utara menjadi satu-satunya negara komunis turun temurun di dunia sejak dipimpin oleh Kim Il-sung, kakek dari Kim Jong-un pada 1945. Kim Jong-un sejak ia menduduki kursi ayahnya yang meninggal pada Desember 2011 terus mencoba untuk membangun basis kekuatannya.

Pernyataan yang dikeluarkan oleh kantor berita Korut, Korean Central News Agency (KCNA) menyebutkan bahwa Kim Jong-un mengklaim sang ayah menyerahkan kekuasaan kepada anaknya itu adalah cara yang paling tepat untuk memecahkan masalah suksesi kepemimpinan yang berkaitan dengan pemikiran kepemimpinan serta kemampuan memimpin.

Kurangnya sistem kepemimpinan yang turun temurun di negara-negara sosialis lainnya dilukiskan oleh Kim Jong-un sebagai secara ideologi akan mudah menjadi berantakan layaknya terserang angin puting beliung, dan dikalahkan oleh gaya kepemimpinan dari partai yang sedang berkuasa.

Dari pidatonya dapat kita ketahui bahwa Kim Jong-un menyadari posisinya sebagai pemimpin besar rakyat Korea Utara itu belum kokoh, bahkan mungkin sangat labil.

“Legitimasi kedudukannya masih dipertanyakan. Dan ia pun kurang menunjukkan prestasi sejak berkuasa,” kata Profesor Toshimitsu Shigemura, dosen Waseda University di Tokyo.

Legitimasinya sebagai pemimpin tertinggi di Korea Utara seluruhnya didasarkan pada ia adalah keturunan Kim Jong-il. Dan ia pun terus menekankan hal tersebut. Sedangkan ia merasa telah dilukai Tiongkok yang selama ini selalu menunjukkan perhatiannya kepada Korea Utara yang sekarang sudah beralih ke Selatan.

Sebelumnya, Beijing terus mendukung Korea Utara termasuk membantu Korea Utara untuk memperoleh legitimasi internasional. Namun, waktu sudah berlalu dan situasi sudah berubah, kini Kim Jong-un sedang mencoba untuk mendapatkan kembali dukungan Tiongkok yang sudah hilang. (Secretchina/Sinatra/rmat)

Share

Video Popular