Keterangan foto: Umbrella Movement Hongkong 2014 (wikipedia)

Oleh: Yang Guang

Revolusi warna tidak peduli berhasil atau tidak, periode kekacauannya akan selalu lebih pendek daripada revolusi kekerasan tradisional, pengorbanan masyarakatnya lebih kecil, itu sebabnya, jika revolusi tidak bisa dihindarkan, seharusnya lebih mengedepankan revolusi warna saja. Bagi negara-negara yang ditakdirkan harus mengubah sistem politiknya dan jika tidak diubah tak akan mencukupi untuk merehabilitasi diri, sesungguhnya revolusi warna adalah suatu keberuntungan.

Hubungan antara Revolusi dan Warna bersejarah panjang

Gelombang revolusi warna yang panjang terentang sejak akhir abad lalu hingga sekarang ini, pertama-tama diberikan sebutan ini bukan oleh teoretikus, juga bukan oleh politikus melainkan oleh media masa, lalu dengan cepat menyebar di internet. Sekilas pandang, terlahirnya konsep revolusi dikaitkan dengan warna memiliki sifat kebetulan, namun tidaklah demikian, asalkan mau membalik-balik buku sejarah revolusi dunia, mungkin akan terheran, ternyata ada banyak revolusi dalam sejarah mempunyai hubungan yang erat dengan warna.

Menurut teori Awal-Akhir Wude (5 Kebajikan) penemuan Zou Yan seorang ahli ajaran Yin-Yang Tiongkok di zaman kuno, sirkulasi pergantian dinasti ditentukan oleh elemen: logam, kayu, tanah, air dan api. 5 elemen yang saling menghidupi dan saling mengekang. Dikatakan saling menghidupi, karena kaisar lama turun takhta dengan ikhlas dan mempersilakan kaisar baru naik tahta sesuai tata karma. Dikatakan saling mengekang, berarti revolusi dengan kekerasan. Sedangkan 5 elemen setara dengan Wude, Wude setara dengan 5 warna yakni: Putih, Hijau, Kuning, Hitam dan Merah. Dengan kata lain, setiap dinasti mempunyai sifat kebajikan (De/德/dibaca: Te) dan warna yang sudah takdir ilahi, dan setiap pergantian dinasti yang sesuai dengan kehendak ilahi juga boleh disebut dengan “Revolusi Warna”.

Teori itu sepertinya tidak masuk akal, akan tetapi sedikitnya dalam kurun waktu selama 1000 tahun lebih telah dianut sebagai kebenaran sejati dan memiliki banyak penggemar, para penguasa tertinggi seperti (dinasti) Qin (秦 dibaca: Jin), Han(漢, termasuk Xinmang, 202SM – 220) dan Weijin Nanbei (魏晉南北, 220-589), mereka semuanya adalah pelaksana setia teori revolusi 5 warna.

Qin Shihuang (juga dipanggil Shi Huang Di yang artinya adalah Kaisar Pertama, adalah raja dari Negara Qin dari 247 SM sampai 221 SM, setelah mempersatukan Tiongkok) mendirikan dinastinya dengan warna hitam, bukan hanya “pakaian, bahkan umbul-umbul dan bendera semuanya berwarna hitam”, sepertinya Qin Shihuang sedang menggunakan semacam mekanisme bahkan tatacara takhayul dalam melaksanakan teori Awal-Akhir Wude (5 Kebajikan), sampai-sampai menaikkan politik warna hitam ke level yang sama dengan “Supremasi Hukum”. Sedangkan Qin Shihuang berperilaku demikian dengan lantang, salah satu sebab pentingnya adalah ia meyakini bahwa dinasti Qin bentukannya menggantikan dinasti Zhou adalah sah menurut hukum dengan dasar legalitas bahwa Zhou berelemen api dan menjunjung warna merah, sedangkan Qin berelemen air yang menjunjung warna hitam, padahal dinasti Qin menggantikan dinasti Zhou adalah kehendak ilahi, maka policy Qin yang menerapkan teror hitam, merupakan kehendak ilahi juga.

Teori politik warna dan revolusi warna dari Zou Yan telah membantu Imperium Qin mencapai tujuan dengan pengorbanan kesengsaraan rakyat dan sang suksesor, kekuasaan lalim yang tidak melaksanakan kebajikan dan keadilan itu, tidak lama kemudian ketidakpuasan telah terakumulasi dan meledak menjadi tragedi hitam yang mengakibatkan kemusnahan pewaris tahta kaisar Qin-II.

Menyimak sejarah, hubungan erat warna dan revolusi tidak hanya tercerminkan pada teori metafisika Tiongkok saja, dalam prakteknya keduanya sebetulnya juga tidak dapat dipisahkan. Pada umumnya, masyarakat yang melawan secara terbuka ketika mereka berkumpul dan akan bangkit untuk memberontak, biasanya mereka akan menonjolkan satu warna atau beberapa warna pada umbul-umbul atau lengan baju, lencana topi atau kemeja mereka sebagai cara untuk menandai anggota pasukan sendiri dan membedakannya dari pasukan lawan. Misalnya seperti: dulu ada Pasukan Alis Merah (tahun 18 masehi). Sekarang ada “Pasukan kaus merah (Taiwan dan Thailand di zaman sekarang serta pasukan Inggris pada abad 17)”, dulu ada Pemberontakan Syal Kuning (tahun 184 masehi), sekarang ada ‘Revolusi Payung (Hongkong 2014)’, dalam kegiatan seperti ini, warna memang menjadi simbol dan alat politik untuk melakukan gerakan berkumpul yang sangat penting.

Begitu suatu revolusi yang berpengaruh besar terbentuk suatu paduan tetap dengan warna tertentu, maka lama kelamaan warna tersebut juga akan menjadi tanda mata, maskot dan citra dari revolusi tersebut. Terkadang, demi menonjolkan “keberlanjutan” atau legitimasi dari revolusi tersebut, para revolusioner acapkali akan memberikan warna tersebut arti khusus pada agama atau ideologi politik. Dalam pengertian ini, ‘Revolusi Warna’ adalah masalah biasa, sejak dahulu sudah ada di Tiongkok maupun luar Tiongkok, bukan kasus istimewa dari Eropa Tengah dan Timur atau Arab di zaman sekarang ini. (whs/rmat)

BERSAMBUNG

 

 

 

Share

Video Popular