Keterangan gambar: Ilustrasi. (theepochtimes)

Oleh Liu Yi

Dalam beberapa tahun terakhir ini, Tiongkok berencana untuk membangun sejumlah jalur kereta api berkecepatan tinggi di negara-negara Amerika Latin seperti Brazil, Peru dan lainnya, tetapi proyek-proyek tersebut belakangan ini justru ‘dipetieskan’ oleh negara-negara bersangkutan. Hal itu dikarenakan adanya protes oleh organisasi perlindungan lingkungan lokal serta meningkatnya kewaspadaan terhadap keadaan Tiongkok. Faktor-faktor itu menyebabkan ‘diplomasi perkeretaapian Tiongkok di Amerika Latin terhambat.

Laporan New York Times pada Kamis (8/10/2015) menyebutkan bahwa Mexico pada November 2014 tiba-tiba membatalkan proyek perkeretaapian bernilai USD.4.3 miliar yang tendernya dimenangkan oleh Tiongkok. Investor Tiongkok 2 tahun lalu di Honduras telah mengumumkan keinginan mereka untuk membangun sebuah jalur kereta api yang menghubungkan Laut Karibia dengan Lautan Pasifik. Namun pejabat yang bertanggung jawab dalam mempromosikan proyek tersebut, Miguel Servellón mengatakan, “Masih harus menempuh jalan panjang sebelum proyek tersebut dapat dilaksanakan”.

Presiden Kolumbia Juan Manuel Santos 4 tahun lalu pernah mengatakan bahwa Kolumbia memiliki rencana untuk bekerjasama dengan Tiongkok dalam pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan Pasifik dengan Karibia.

“Ucapan tersebut memang muncul pada 2011, tetapi berita terkait lalu lenyap setelah itu,” kata Ketua Kamar Dagang Kolumbia – Tiongkok, Daniela Sanchez.

Proyek pembangunan jalur KA berkecepatan tinggi sepanjang 290 mil di Venezuela memang sudah mulai direalisasikan oleh perusahaan Tiongkok. Pemerintah Venezuela dalam propagandanya pernah menyebutkan bahwa proyek akan selesai dan mulai melayani penumpang pada 2012. Tetapi beberapa tahun sudah lewat, proyek tersebut harus berjalan tersendat-sendat karena pemerintah Venezuela kekurangan dana. Pihak berwenang Tiongkok mengatakan bahwa lebih setengah dari proyek tersebut sudah berhasil diselesaikan. Namun, media berita Venezuela pada Juni lalu memberikan laporan yang mengatakan bahwa proyek tersebut terbengkalai dan ditinggalkan.

Jalur KA yang menghubungkan Brazil dengan Peru juga menimbulkan kian banyak sikap sangsi dari para elite Brazil. Mantan Walikota Lucas do Rio Verde, Marino Franz mengatakan, “Meskipun saya tidak mau bersikap pesimis terhadap proyek mereka itu, tetapi untuk merealisasikannya memang tidak mudah”.

Sejumlah politisi dan pebisnis besar sudah mulai ‘membombardir’ proyek Tiongkok itu karena kegiatan di pelabuhan sungai dan pusat-pusat pengolahan kedelai mereka takut akan terancam oleh adanya jalur tersebut.

“Saya tidak yakin dengan proyek ini,” kata Senator Blairo Maggi kepada rekannya.

Blairo Maggi adalah pemilik lahan pertanian kedelai di Brazil yang pernah menjabat sebagai Gubernur propinsi Mato Grosso.

Laporan menyebutkan bahwa sudah kian banyak masyarakat dan pemerintahan Amerika Latin sadar akan resiko dari ketergantungan mereka terhadap Tiongkok yang saat ini sedang mengalami pertumbuhan ekonomi yang melamban. Hal ini menyebabkan ‘diplomasi perkeretaapian Tiongkok di Amerika Latin mendapatkan lebih banyak hambatan.

Awal tahun ini, pemerintah Tiongkok pernah melaporkan bahwa proyek perkeretaapian Tiongkok pada 2014 sedang mengalami masa booming di Latin. Jalur KA cepat jurusan Tinaco – Anaco di Venezuela dengan total investasi USD. 7.5 miliar sudah mulai digarap pada April lalu. Bahkan pernyataan kesepakatan kerjasama untuk membangun jalur perkeretaapian yang menghubungkan Lautan Atlantik dengan Pasifik antar pemerintah Tiongkok dengan Peru dan Brazil akan dimulai pada Juli.

Pada Oktober tahun lalu, situs Persatuan Insinyur Perkeretaapian Brazil memberitakan bahwa setelah mengalami 3 kali kegagalan dan penelitian yang mendalam selama 8 tahun, pembangunan beberapa proyek KA cepat seperti antara kota Bio de Janeiro melalui San Paulo menuju Campinas, besar harapan akan mulai dikerjakan pada awal tahun 2015.

Tetapi proyek pembangunan jalur KA Tiongkok di Amerika Latin justru satu demi satu gugur akibat kendala politik, protes dari kelompok-kelompok perlindungan lingkungan dan makin tingginya kewaspadaan negara dan masyarakat Amerika Latin terhadap Beijing. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular