Sebuah perdebatan panjang selama beberapa dekade di antara kalangan musisi, adalah masalah frekuensi tala (tuning) yang diselubungi dengan teori konspirasi Nazi, metode penyembuhan Zaman Baru (New Age), pertimbangan praktis dari apa yang termudah pada pita suara seorang penyanyi, suatu koneksi yang dihidupkan kembali pada matematika dan estetika kuno, dan koneksi yang lebih abstrak untuk tatanan yang lebih tinggi.

Haruskah alat-alat instrumen musik disetem pada frekuensi 440 hertz atau 432 hertz?

Pada tahun 1955, ditetapkan sebuah standar internasional A = 440 hertz untuk menyatukan perbedaan titi nada konser (concert pitches, standar untuk tuning alat musik) yang digunakan sebelumnya. Ini berarti jumlah getaran per detik dari A tengah adalah 440 hertz. Namun ada yang mengatakan bahwa A = 432 hertz akan membawa musik pada tingkat lain.

Hasil pengujian menyarankan 432 hertz lebih utuh, damai

Seorang sarjana musik bernama Maria Renold, dalam bukunya Intervals, Scales, Tones and the Concert Pitch (Interval, Skala, Nada dan Titinada Konser), menggambarkan bagaimana ia menguji efek yang berbeda pada pendengar terhadap musik yang disetem 440 hertz dan 432 hertz. Dia bertanya kepada ribuan orang di berbagai negara selama 20 tahun untuk mengevaluasi bagaimana perasaan mereka saat mendengarkan musik tersebut.

Dia mengatakan bahwa sebanyak 90 persen orang lebih menyukai penyeteman 432 hertz. Ketika diminta untuk menggambarkannya, mereka menggunakan kata-kata seperti “utuh, benar, damai, (dan) mirip mentari”. Namun sebaliknya, mereka menggambarkan penyeteman 440 hertz terdengar “tidak nyaman, menyesakkan, (dan) berpikiran sempit”.

Maria Renold dipengaruhi oleh seorang mistis Austria bernama Rudolf Steiner, yang pernah memperingatkan “kecerahan luciferik” nada tinggi dan menganjurkan A = 432 hertz sebagai semangat spiritual. Penelitian Maria ini belum ditinjau ulang, juga belum direplikasi, tapi tampaknya tidak ada ilmuwan yang secara serius berusaha untuk mengikuti jejaknya.

Insinyur akustik Trevor Cox melakukan studi informal secara online, dimana ia meminta orang untuk menyatakan pilihan mereka di antara potongan-potongan musik yang berganti-ganti untuk mensimulasikan tujuh tala frekuensi yang berbeda, termasuk 432 dan 440 hertz. Dari sebanyak 200 responden, ia menemukan sedikitnya minat pada 440 hertz dibandingkan 432 hertz.

Pengujian tersebut melibatkan musik yang telah disetem ulang secara digital, bukan disetem ulang secara akustik. Tidak jelas apakah ini mungkin membuat perbedaan, karena Maria menyatakan bahwa pengujiannya hanya berfungsi pada instrumen non-elektrik. Setiap pengujian yang ia lakukan pada penghasil nada secara elektronik, menemui kegagalan.

Tala frekuensi 432 hertz, telah didukung oleh tokoh-tokoh terkemuka, diantaranya termasuk tenor opera dari Italia, Luciano Pavarotti, dan soprano Italia, Renata Tebaldi. Dengan bernyanyi dalam tala ini dikatakan dapat mengurangi sedikit ketegangan pada pita suara seorang penyanyi.

Alasan-alasan dipilihnya 440 hertz sebagai standar menjadi sebuah masalah pada beberapa perdebatan.

Apakah tala 440 Hertz sebuah inisiatif dari Nazi?

Suhu ruang konser di Amerika Serikat memainkan peran dalam mengambil keputusan. Produsen alat instrumen Amerika, J.C. Deagan, menetapkan bahwa 440 hertz adalah frekuensi terbaik untuk ruang konser Amerika. Ilmuwan Inggris juga setuju bahwa 440 hertz adalah yang terbaik, tidak berdasarkan pada suhu ruang konser, namun berdasarkan pemanasan instrumen musik tiup kayu selama pertunjukan.

Alasan yang paling kontroversial mengatakan bahwa Nazi ingin menyebarkan agresi dan tekanan dengan menggunakan tala frekuensi ini.

Laurent Rosenfeld menulis artikel How the Nazis Ruined Musical Tuning (Bagaimana Nazi Menghancurkan Tala Musikal), diterbitkan majalah Executive Intelligence Review (publikasi terkait dengan gerakan LaRouche, dikenal memiliki beberapa sikap politik yang kontroversial) edisi September 1988. Laurent mencatat bahwa Radio Berlin saat itu, yang menjadi corong Menteri Propaganda Nazi, Joseph Goebbels, menyelenggarakan sebuah konferensi pada tahun 1939 untuk mendesak standar tala 440 hertz. Konferensi ini menjadi landasan bagi keputusan tahun 1955 untuk secara resmi menetapkan standar tersebut.

Tidak ada komponis Perancis yang diundang dalam konferensi tersebut, sehingga Perancis sangat menen¬tang penalaan 440 hertz, lapor Laurent. Dia menulis: “Sumber-sumber lain, seperti Rene Dumesnil, penganjur tala yang lebih rendah, mengatakan bahwa kongres London ini telah diatur: Panitia penyelenggara pertama kali menanyakan pada musisi, insinyur, pembuat instrumen, fisikawan, dan lain-lain, apakah mereka setuju A = 440 hertz, dan siapapun yang tidak menyetujuinya, maka tidak akan diundang”.

Laurent tidak membuat spekulasi pada motif Nazi dalam mengusung tala 440 hertz, dan tampaknya tuduhan menyebarkan agresi telah disandangkan oleh pendukung A = 432 hertz di kemudian hari.

Musisi Perancis dan pendukung A = 432 hertz, Robert Dussaut mengatakan (berdasarkan Laurent Rosenfeld):

“Lawan saya telah menjawab bahwa orang Amerika menginginkan tala berada di 440 getaran per detik, karena jazz [yang telah meningkatkan titinadanya menjadi 440 dan di atasnya], dan kita harus menyesuaikan dengan mereka. Ini sungguh mengejutkan saya bahwa musisi orkestra dan penyanyi kita harus demikian tergantung pada pemain jazz dari sisi lain [lautan] Atlantik. …. Pertimbangan komersial yang datang pertama kali. Para seniman memilikinya tetapi untuk turun tahta.”

Selain kekhawatiran politik dan komersial, perdebatan frekuensi tala (tunning) juga berpusat pada klaim bahwa getaran (vibrasi) 432 hertz lebih bermanfaat bagi tubuh manusia, dan juga bahwa 432 adalah sebuah angka yang khusus, bahkan mistis, penuh makna. ((Ajg)

Bersambug

Share

Video Popular