Keterangan Foto : Kabut asap yang sudah menyelimuti Phuket, Thailand (Twitter)

JAKARTA – Berdasarkan data yang dihimpun oleh Greenpeace Asia Tenggara, kebakaran Hutan di Indonesia mengakibatkan ancaman kesehatan yang serius di seluruh Asia Tenggara. Akibatnya diperkirakan akan mengakibatkan 110,000 kematian dikarenakan penyakit pernafasan dan  penyakit lain.

Tak hanya itu, kebakaran gambut dan konsesi hutan yang merajalela di Indonessia juga merupakan sumber signifikan emisi gas rumah kaca, yang akan mengancam iklim dunia.Data pemerintah juga menunjukkan bahwa perusakan hutan dan tanah gambut merupakan penyebab dari hampir dua per tiga dari emisi GHG Indonesia.

Menurut Greepeace, kebakaran hutan dan tanah gambut yang parah di Indonesia saat  El Niño tahun 1997 menghasilkan emisi karbon yang diperkirakan setara dengan 40% dari emisi bahan bakar fossil dunia sedangkan pada 2015 diramalkan El Niño terbesar sejak tahun 1997.

Pemimpin Proyek kehutanan Greenpeace Asia Tenggara, Bustar Maitar, mengatakan kebakaran hutan di Indonesia mengingatkan tentang warisan kerusakan dari industri sawit dan pulp. Oleh karean itu, perusahaan perlu menghadapi tantangan dan bekerja bersama untuk mematahkan kaitan antara produksi komoditas dan penghancuran hutan.

“Kebijakan anti perusakan hutan yang unilateral ternyata telah gagal,” ujarnya di Jakarta dalam siaran pers dikutip, Minggu (11/10/2015).

Menurut dia, perusahaan perlu menghapus insentif ekonomi untuk menghancurkan hutan, dengan pelarangan perdagangan dengan siapapun yang memusnahkan hutan. Apalagi perusakan hutan telah meningkat secara dramatis antara 2010 sampai 2013, meskipun pada 2011 telah dilakukan moratorium penerbitan ijin baru pembukaan hutan primer dan tanah gambut.

Beberapa tahun terakhir ini, perusahaan-perusahaan yang memperdagangkan atau menggunakan minyak sawit dan komoditi lain telah menyerukan tindakan terhadap perusakan hutan. Namun demikian  indikator yang dari World Resources Institute menunjukkan bahwa perusakan hutan tetap cenderung meningkat.

Analisis Greenpeace mengungkapkan bahwa hampir 30% dari titik api pada 2014 dan pada tahun ini sesungguhnya terjadi di daerah yang dimaksudkan untuk dilindungi di bawah moratorium. Dari semua titik api di kawasan moratorium, lebih dari 60%-nya berada di lahan gambut. Di Asia Tenggara, kebakaran yang berkaitan dengan deforestasi, terutama di hutan gambut, merupakan sumber utama kabut asap di wilayah tersebut.

Share

Video Popular