JAKARTA – Pemerintahan Jokowi-JK secara resmi telah mengumumkan paket kebijakan ekonomi jilid III. Paket itu terdiri penurunan harga BBM, harga gas dan tarif listrik untuk industri. Untuk intensif kepada pelaku industri diberlakukan penurunan tarif listrik industri, diskon pada malam hari dan penundaan pembayaran tagihan listrik.

PLN dalam siaran persnya menjelaskan akibat diskon listrik itu maka nantinya sebanyak 12.333 pelaku industri menengah dan besar akan merasakan manfaat insentif tersebut. Mereka yang mendapatkan penurunan pelanggan I-3 adalah pelanggan industri menengah daya di atas 200 kVA. Sedangkan pelanggan I-4 adalah pelanggan industri besar daya 30.000 kVA ke atas.

“Saat ini jumlah pelanggan listrik I-3 sebanyak 12.256 pelanggan dan pelanggan I-4 sejumlah 77 pelanggan,” tulisan siaran pers tertulis PLN, Jumat (9/10/2015).

PLN memaparkan, termasuk dalam golongan pelanggan ini diantaranya adalah industri tekstil, manufaktur, logam, besi dan baja yang mempekerjakan tenaga kerja dalam jumlah besar. Langkah ini diharapkan menggairahkan ekonomi Indonesia serta mencegah terjadinya pemutusan hubungan kerja. Paket stimulant yang dirancang PLN didasarkan kepada masukan dari para pengusaha dan dikhususkan bagi dunia industri.

Ada pun paket kebijakan penurunan tarif listrik bagi dunia industri dilakukan PLN secara konsisten dari waktu ke waktu sebagai dampak dari penurunan biaya produksi PLN akibat menurunnya harga bahan bakar. Harga listrik bagi industri skala menengah yang pada Juli 2015 masih Rp 1.219/kWh telah turun bertahap dan menjadi Rp 1.187/kWh pada Oktober 2015. Sedangkan harga listrik bagi industri skala besar yang pada Juli 2015 masih Rp 1.087/kWh telah turun bertahap dan menjadi Rp 1.058/kWh pada Oktober 2015.

Walau demikian, ketidakpastian di masa mendatang akan perubahan besaran makro ekonomi, seperti harga bahan bakar, nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar, dan angka inflasi tidak membuat manajemen PLN menunda penurunan tarif listrik.

PLN mengakui penurunan tarif listrik dinilai sangat berarti positif bagi industri. Karenanya, PLN menawarkan kepada industri skala menengah dan skala besar dengan daya di atas 200 kVA untuk menambah pemakaian listrik pada malam hari, mulai pukul 23.00 WIB hingga pagi hari spukul 08.00.

Tarif listrik bagi penambahan pemakaian listrik ini diberi potongan harga 30%. Karena untuk memanfaatkan insentif tarif malam hari ini kemungkinan industri menambah investasi membeli peralatan produksi, maka PLN bersedia memastikan insentif tarif ini hingga 3 tahun mendatang.

Selain itu, turut diberlakukan penundaan pembayaran tagihan sebagai pertimbangan kondisi perekonomian yang berat. Setiap kebijakan yang menyebabkan industri dapat mengurangi cash-out maka akan membantu dunia industri untuk tetap bertahan.

PLN merancang suatu skema penjadwalan kewajiban pembayaran tagihan listrik bulanan bagi industri, khususnya bagi industri yang daya saingnya lemah terhadap produk impor dan bagi industri padat karya seperti industri tekstil dan industri sepatu.

Skema penundaan pembayaran tagihan ini memungkinkan industri hanya membayar 60% dari total tagihan setiap bulannya, dan keringanan ini diberlakukan untuk 6 bulan atau 10 bulan pemakaian listrik.

Setelah masa pengurangan pembayaran berakhir, PLN masih memberikan tenggang waktu dua bulan bagi industri untuk belum mulai membayar hutang tagihan listrik. Lalu kemudian, pada bulan ke-9 atau pada bulan ke-13 industri mulai mengangsur hutang tagihan listrik. “Itu pun, kewajiban pembayaran hutang setiap bulan hanya dibebankan 50% saja dari hutang tagihan bulanannya,” tulis PLN.

Hingga kemudian hutang tunggakan 6 bulan akan diangsur 12 bulan dimulai pada bulan ke-9, dan tunggakan 10 bulan akan diangsur 20 bulan dimulai pada bulan ke-13. PLN menyatakan optimisme membaiknya ekonomi Indonesia pada 2016, memberi keyakinan bahwa kemampuan industri membayar hutang tunggakan tagihan listrik pada saat jatuh tempo tidak akan terlalu membebani industri. PLN akan berkoordinasi dengan asosiasi industri untuk menentukan, mana industri yang layak diberi kemudahan. (asr)

Share

Video Popular