- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Seperti Ini Wujud Kebakaran Konsesi Hutan di Kalimantan Barat

JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi pada 1,7 juta hektar di wilayah hingga kini masih merajalela. Tak hanya di Sumatera, kebakaran gambut kini masih terjadi di Kalimantan. Berdasarkan rekaman drone dari tim Greenpeace Asia Tenggara, kebakaran merata terjadi di area konsensi kelapa sawit dan bubur kertas (Pulp).

Rekaman drone Greenpeace yang berdurasi selama 4 menit itu menunjukkan kebakaran lahan gambut dan hutan yang meluas di kawasan tepian Taman Nasional Gunung Palung, Ketapang, Kalimantan Barat, pada 19-21 September 2015.

Rekaman ini memperlihatkan sejumlah pepohonan yang bertumbangan dan kering kerontang akibat terkena kobaran api. Tak bisa dihitung melalui angka beberapa pohon yang mati hingga membuat sejumlah lahan gundul dari pepohonan. Kebakaran lahan gambut itu terlihat masih terus berlanjut, asap dari lahan gambut terbakar masih terus membubumbung menjulang ke angkasa.

Bak suasana medan perang, dataran luas akibat bekas terbakar terbentang menghampar di kawasan itu. Sungguh jauh dari kedigdayaan Indonesia yang dikenal sebagai hamparan luas hutan yang indah. Api pun terlihat masih menyala membakar lahan konsesi sawit sawit itu. Beberapa kali terlihat asap pun masih mengepul pada seputaran area gambut yang terbakar dan siap “menyerang” warga di Kalimantan dan sekitarnya.

Greenpeace menilai rekaman ini menunjukkan api yang berkobar di tanah gambut dalam, di seputar taman nasional dan konsesi kelapa sawit akibat dari puluhan tahun pembalakan liar dan penggundulan hutan untuk perkebunan kelapa sawit dan pulp. Sebagaiman diketahui Taman nasional Gunung Palung memuat populasi terbesar orang utan yang bertahan di dunia.

Indonesia’s forest fires – 19-21 September 2015 [1]

Pemimpin Proyek kehutanan Greenpeace Asia Tenggara, Bustar Maitar, mengatakan tatkala pemerintah bersiap mengikuti pertemuan di Paris untuk menyelamatkan bumi dari bencana pemanasan global, bumi Indonesia sudah terbakar. Dia menambahkan, perusahaan yang menghancurkan hutan dan tanah gambut telah mengubah Indonesia menjadi sebuah bom karbon besar, dan kekeringan telah melengkapinya dengan ribuan sumbu.

“Pemerintah Indonesia tidak bisa lagi menutup mata terhadap penghancuran ini, saat separuh dari Asia akan menanggung akibatnya,” ujarnya di Jakarta dalam siaran pers dikutip, Minggu (11/10/2015).

Tak hanya di Kalimantan Barat, data Greenpeace, pada Juli dan Agustus 2015, api menyebar di Taman Nasional Tesso Nilo di Riau, Sumatra, sebuah wilayah penting dalam habitat harimau. Kawasan ini sudah rusak oleh pembalakan ilegal termasuk untuk pengembangan kelapa sawit.  Kebakaran juga dilaporkan terjadi di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah.