Hasil riset terbaru ilmuwan mengenai punahnya dinosaurus beranggapan bahwa kepunahan tersebut disebabkan faktor ganda yakni akibat adanya tabrakan asteroid terhadap Bumi dan dampaknya yang telah memicu meletusnya gunung berapi. Kesimpulan ini sangat menyerupai dengan pandangan supranatural di tengah masyarakat.

Menurut surat kabar Sydney Morning Herald edisi 2 Oktober 2015, Profesor Paul Renne dari University of California Berkeley, AS berpendapat, pada zaman kapur sekitar 66 juta tahun lalu, setelah Bumi ditabrak asteroid, terjadi letusan gunung berapi berskala besar. Kedua faktor ini telah menyebabkan kepunahan dinosaurus dan musnahnya 70% hewan di Bumi.

Riset: Tabrakan asteroid sebabkan letusan gunung api skala besar

Dalam kurun waktu panjang, teori yang diterima oleh dunia ilmiah pada umumnya adalah hanya ada satu faktor tunggal penyebab punahnya makhluk hidup di zaman kapur. Ada yang berpendapat, penyebabnya adalah sebuah benda seukuran gunung menabrak Semenanjung Yucatán, di tenggara Meksiko, memisahkan Laut Karibia dari Teluk Meksiko dan telah membentuk kawah berdiameter 180 km. Ada juga yang bersiteguh pada teori bahwa di masa itu terjadi letusan gunung berapi di seluruh dunia yang menyebabkan kepunahan dinosaurus, terutama gunung api di India sebagai contoh, pada saat ledakan memuntahkan lahar seluas 1,5 juta km², yang kemudian karena terjadi pengikisan geologi sehingga membentuk Deccan Traps yang terlihat saat ini.

Situs ilmiah Gizmodo pada tanggal 1 Oktober 2015 lalu memberitakan, analisa Renne terhadap teori ini adalah: “Pada saat terjadi kepunahan di zaman kapur, kecepatan proses letusan gunung api dan aliran lahar mengalami perubahan sangat signifikan, yang dulu telah ditemukan bukti terkait antara kejadian tersebut, tapi sebelumnya tidak dikaitkan dengan benar”. Sementara tim riset Renne menggabungkan kedua kejadian itu sebagai pertimbangan.

Informasi yang dipublikasikan oleh University of California Berkeley pada tanggal 1 Oktober lalu mengutip pandangan Renne bahwa: “Pada dasarnya tidak mungkin menyimpulkan peristiwa atmoseferik pada saat itu disebabkan oleh satu penyebab karena terjadi secara bersamaan”. Dan Renne mengemukakan tabrakan asteroid yang menyebabkan letusan gunung api kemudian untuk jangka waktu lama menyebabkan terjadinya perubahan substansi kimia pada lapisan atmosfir. Debu dan gas beracun menyelimuti Bumi, terjadi perubahan drastis pada iklim, dan ekosistem telah dihancurkan.

Selain itu menurut berita di surat kabar LA Times tanggal 1 Oktober 2015 lalu, tim Renne berpendapat aktivitas gunung api di seluruh dunia mulai dari letusan kecil yang kerap terjadi berubah menjadi letusan besar yang terjadi tiba-tiba. Volume lahar yang dimuntahkan saat itu mencapai 500.000 km³, cukup untuk menutupi muka Bumi dengan lahar setebal 1 meter.

Berdasarkan pengukuran isotop Argon-40/Argon-39 yang terdapat di Deccan Traps, tim riset menyimpulkan bahwa letusan yang terjadi 66 juta tahun lalu itu telah menghambat recovery makhluk hidup di Bumi selama 50.000 tahun. Hasil riset tersebut dipublikasikan di majalah Science. Pakar asteroid dari Purdue Universitt, Henry Melosh mengatakan, “Hasil (riset) ini akan memicu perdebatan luas.” Melosh menyatakan, dirinya sangat memuji teknologi pengukuran dalam riset ini, namun ia tidak berhasil diyakinkan. Menurutnya, tabrakan asteroid terhadap bumi dan letusan gunung api tidak ada kaitannya. Kepunahan dinosaurus terjadi mendadak begitu saja, dan bukan terjadi secara perlahan.

Kesimpulan Renne mirip dengan pendapat seorang praktisi supranatural

Di situs zhengjian.org pada bulan Juni 2009 lalu diberitakan, seorang praktisi Falun Gong dengan kemampuan clairvoyance (kemampuan supernormal) mengamati kondisi masa kepunahan dinosaurus, yang ternyata banyak kemiripan dengan teori Renne.

Pemilik kemampuan supranatural tersebut dalam artikelnya yang berjudul Dharma Destiny menulis, 67 juta tahun silam, sebuah asteroid berdiameter 25 km menabrak Bumi dengan kecepatan 30 km/detik yang menyebabkan pergeseran lempeng daratan serta letusan gunung api, sehingga hampir seluruh hewan dan tumbuhan di Bumi termasuk dinosaurus punah, dan Bumi memasuki periode zaman es. Penulis dengan detil memaparkan: “67 juta tahun silam, di daratan, lautan, dan udara di Bumi hidup berbagai jenis dinosaurus. Suatu pagi yang tenang, ketika masyarakat baru terbangun dari tidurnya, tiba-tiba dari langit terdengar suara luar biasa keras dan unik… sebuah asteroid berdiameter 25 km (sebesar sebuah kota kecil) dengan kecepatan 30 km/detik bergesekan dengan udara menimbulkan suara menggelegar menabrak Bumi. Tak lama kemudian terdengar suara yang mengguncang, menyusul bergetarnya seluruh Bumi. Bumi tertabrak hingga meninggalkan orbit sebelumnya, menjauhi Matahari. Setelah asteroid itu menabrak Bumi, beberapa lempengan daratan Bumi pun tenggelam ke dasar laut. Debu dan serpihan batu setelah terjadi tabrakan tersebut berikut air laut yang berubah menjadi gas membentuk kepulan awan berbentuk jamur raksasa yang terus membubung tinggi hingga menyelimuti seluruh permukaan Bumi, hingga menghalangi sinar Matahari, Bumi pun menjadi gelap gulita. Bersamaan dengan itu tsunami super raksasa setinggi 5 km melanda Bumi, disusul dengan hujan deras selama berhari-hari.”

Penulis juga menuliskan: “Yang lebih menakutkan adalah, tabrakan asteroid menyebabkan pergeseran besar pada kerak Bumi dan lempeng daratan. Sejumlah daratan tenggelam ke dasar samudera. Sebagian lempengan di dasar laut terdorong ke permukaan laut mencuat ke udara. Yang dulunya samudera berubah menjadi daratan, yang dulunya daratan tenggelam ke dasar samudera berikut seluruh makhluk hidup dan peradaban di atasnya. Karena kerak dan lempeng Bumi tidak stabil dan terus bergeser, menyebabkan tak terhitung banyaknya gunung api terus meletus, Bumi diselimuti debu dan asap sepanjang hari, gelap gulita bahkan jari tangan pun tidak terlihat. Abu vulkanik yang pekat membubung tinggi menutupi permukaan Bumi, kondisi seperti ini berlangsung selama 32 tahun. Karena tidak ada sinar Matahari, seluruh tumbuhan dan hewan di Bumi pun nyaris habis, dinosaurus lambat laun juga ikut punah karenanya, dan Bumi pun memasuki masa zaman es. Begitulah manusia pada zaman itu musnah. Segelintir yang tersisa pun memasuki masa peradaban yang berikutnya.”

Penulis menambahkan: “Pada saat lempeng daratan bergeser, ada sebuah gunung di dasar laut yang dekat dengan pantai mencuat ke atas permukaan laut setinggi lebih dari 8.000 meter, pantai tersebut ikut mencuat ke atas permukaan laut setinggi ribuan meter. Manusia pada zaman kita ini menyebut puncak gunung itu sebagai Puncak Everest, dan pantai tersebut membentuk dataran tinggi yang disebut Dataran Tinggi Tibet.” (Lie)

Share

Video Popular