Keterangan Gambar: Mengapa harga emas naik akhir-akhir ini? (internet)

Bank of America Merrill Lynch’s chief investment strategist, Michael Hartnett mengatakan bahwa jika resesi ekonomi masih memburuk, investor makin percaya bahwa perubahan besar berkaitan dengan kebijakan akan diambil pemerintah pada tahun depan. Negara-negara Barat dan Jepang bisa jadi bergeser dari QE ke stimulus fiskal, sedangkan Tiongkok justru bergeser dari stimulus fiskal ke QE atau devaluasi mata uang mereka. Dalam situasi demikian ini, emas, Treasury Inflation-Protected Securities (TIPs) biasanya akan difavoritkan untuk jadi pelindung.

Akhir-akhir ini harga emas menguat cukup signifikan, naik 9 % sejak akhir bulan Juli. Menanggapi kenaikan ini Michael Hartnett memberikan interprestasinya. Perubahan besar dalam kebijakan bisa terjadi pada beberapa negara kuat, perubahan itu menjadi berdampak positif pada jumlah permintaan akan emas.

Dalam laporan terakhirnya, Michael Hartnett mengatakan, entah deflasi atau ketimpangan ekonomi yang terjadi akhir-akhir ini, semua tidak mampu menggerakkan dinamika pasar. Sebaliknya, pengenalan kebijakan pelonggaran kuantitatif (QE) untuk mendorong inflasi dan merangsang kerja justru memperkuat penopangan harga aset. Namun, situasi saat ini telah berubah.

Menyadari akan ketimpangan global, politisi berbuat tidak benar dan berbagai masalah lain, politisi populis (seperti Trump, Sanders, Carbyn) serta partai politik (seperti SNP, Syriza) sedang naik daun. Suara-suara yang menghimbau the Fed menaikkan tingkat suku bunga semakin membesar, karena hanya dengan demikian tabungan para lansia mendapat imbalan.

Perubahan yang terjadi pada kehidupan masayarakat tidak besar, namun pertumbuhan ekonomi global yang lemah pada 2015 telah menjadi ancaman bagi kehidupan orang kebanyakan.

Hartnett percaya bahwa bilamana resesi tetap berlanjut, tingkat pengangguran meningkat, deflasi, ketimpangan sosial dan permasalahan lainnya semakin diperparah, maka investor dapat melihat perubahan besar dalam kebijakan bakal terjadi pada 2016. Kita semua sebaiknya berwaspada.

Secara umum, Hartnett beranggapan bahwa negara-negara Barat dan Jepang mungkin akan beralih dari pelonggaran kuantitatif dan kebijakan suku bunga nol menuju stimulus fiskal. Contohnya seperti, pemerintah meningkatkan belanja negara melalui pembangunan proyek-proyek infrastruktur atau melakukan redistribusi pendapatan yang lebih radikal. sedangkan pemerintah Tiongkok mungkin saja akan bergeser dari kebijakan stimulus fiskal yang agresif menuju pelonggaran kuantitatif, suku bunga rendah atau nol, devaluasi mata uang dan kebijakan lainnya untuk menunjang pertumbuhan ekonomi yang mereka harapkan.

Berdasarkan penilaian di atas, jelas Hartnett dalam laporannya yang menyebutkan bahwa resesi ekonomi, kebijakan baru akibat kegagalan QE akan menopang TIPs, emas, komoditas, saham-saham perusahaan Tiongkok berkapasitas menengah kecil menjadi aset favorit yang dicari investor. Menurunnya tingkat inflasi akan mendorong kenaikan permintaan terhadap emas, TIPs, real estate. Mungkin saja redistribusi pendapatan yang menguntungkan kaum miskin dengan merugikan kaum kaya kembali terjadi. (Secretchina/sinatra/rmat)

Share

Video Popular