Sinkronisitas adalah pengalaman dari dua atau lebih peristiwa yang tampaknya tidak berhubungan secara kausal yang terjadi bersamasama dalam sebuah kejadian yang bermakna (bagi sang pengamat). Peristiwa yang dianggap sebagai sinkronisitas harus terjadi bersama-sama secara kebetulan. Bagi penulis Robert Torres, itu adalah suatu pengalaman Surgawi.

Jika Anda yakin sinkronisitas hanya kebetulan, maka pasti Anda belum pernah membaca salah satu dari tulisan pakar di bidang ini. Psikoterapis terkenal, Carl Gustav Jung menciptakan istilah sinkronisitas pada tahun 1920 sebagai referensi keselarasan antara kekuatan secara universal dengan pengalaman seseorang.

Kekuatan ini telah dicari selama berabad-abad di banyak tradisi spiritual sebagai sarana untuk mencari keselarasan dengan “aliran alam semesta”. Biasanya diperlukan waktu bertahun-tahun meditasi, pembelajaran, ritual atau cara lain untuk menavigasi perjalanan menuju “individuasi harmonik” ini.

Bagi sejumlah orang, pencarian yang dilakukan adalah di dalam batin diri sendiri, namun bagi orang lain itu pencarian berupa spiritualitas di luar diri.

Pengalaman pertama saya dengan sinkronisitas adalah saat kelahiran saya. Saya lahir pada tanggal 21 Maret pada pukul 03:03, yang merupakan bulan ketiga, minggu ketiga, jam ketiga, dan menit ketiga, atau 3333. Hal ini juga tepat pada masa ekuinoks. Itulah keselarasan saya dengan kekuatan universal, planet, ruang, dan waktu.

Minat saya dalam meneliti sifat metafisik hadir setelah saya mengalami perjumpaan supranatural dengan sebuah wujud cahaya. Setelah pertemuan ini, saya merasakan banyak pemahaman tentang konsep esoteris seperti aliran, semangat, kesatuan, dan bahkan Ketuhanan.

Apa yang menghubungkan kita?

Dalam buku Jung, An Acausal Connecting Principle, terdapat istilah subjektif yang menghubungkan kita.

Tanpa seorang pengamat (Anda), tidak akan ada pikiran, tidak ada sinkronisitas, sehingga tidak ada artinya. Pikiran terhubung ke peristiwa, pikiran terhubung ke gerakan materi, dan ini adalah subjektif, bukan berasal dari penyebab objektif.

Penelitian saya dimulai dengan Carl Jung, namun selama ribuan tahun sebelum Jung, manusia telah mengalami sinkronisitas. Sebelum “sinkronisitas”, manusia purba menggunakan kata-kata seperti simpati, harmoni, dan kesatuan.

Pada abad ke-4 SM, filsuf Yunani, Heraclitus melihat segala sesuatu sebagai hal yang saling terkait, tidak ada yang terisolasi, dan semua hal terkoneksi. Demikian pula, Hippocrates mengatakan: “Terdapat sebuah aliran umum, sebuah napas yang umum. Semuanya terjadi di dalam simpati.” Ide klasik menyatakan bahwa keterpisahan adalah ilusi termasuk sebuah ikatan di antara benda mati. Sejumlah pihak menyatakan bahwa semua materi memiliki kesadaran.

Peran kesadaran dan paranormal dalam sinkronisitas

Jung memiliki minat yang mendalam dan banyak pengalaman dengan hal-hal paranormal. Ia bekerja dengan seorang fisikawan pemenang Hadiah Nobel, Wolfgang Pauli yang juga konon memiliki pengalaman dengan telekinesis. Berbagai peralatan eksperimen akan mengalami kerusakan yang tidak dapat dijelaskan ketika ia berada di sekitarnya. Hal itu pun sering dijadikan bahan canda dimana para ilmuwan lain takut akan kehadirannya selama percobaan karena mereka percaya bahwa ia akan menyebabkan kerusakan pada alat-alat mereka. Hal ini dalam fisika dikenal sebagai “The Pauli Effect”.

Jung dan Pauli bersama-sama membantu merintis studi parapsikologi. Banyak ilmuwan lain juga telah maju ke ranah ini, dan kesadaran sering dilihat sebagai kunci untuk menjelaskan kemampuan seperti telekinesis, remote viewing, dan meramal. Sebuah contoh yang bagus adalah “bidang morfik” milik Rupert Sheldrake. Ia menunjukkan kepada kita bagaimana bidang menciptakan hubungan. Dalam bukunya, A New Science of Life, ia mengutip eksperimen dimana tikus diberikan pelatihan khusus dan, setelah itu, tikus di laboratorium menjadi jauh lebih mampu mempelajari hal yang sama. Seolah-olah tikus berbagi bidang dimana pengetahuan yang diperoleh melalui pelatihan ini menjadi tersedia untuk semua hal.

Fisikawan David Bohm berpendapat dalam Implicate and Explicate Order bahwa kesadaran dimulai di luar ruang-waktu kita, dalam “aliran” dimana semua pengetahuan eksis dan material realitas kita terbentuk. Hal itu kemudian terungkap ke dalam dimensi kita, hanya untuk kembali ke “aliran”.

Teori-teori ini turut dieksplorasi oleh Michael Talbot dalam Holographic Universe maupun Fisikawan David Peat dalam Meaning and Form.

Kesadaran itu sendiri tidak dapat diukur secara ilmiah. Banyak yang percaya bahwa itu ada di luar otak, mungkin dalam bidang Akashic, konsep tradisional India tentang ringkasan dari semua pengetahuan semua makhluk hidup di sepanjang waktu.

Walaupun saya setuju dengan banyak teori tentang semacam “matriks” ini, namun apa yang bekerja di balik semua kecerdasan itu?

Sebuah kekuatan intelijen

Manusia telah lama mengakui adanya kecerdasan yang lebih besar, meskipun muncul dalam berbagai bentuk. Semua ilmuwan terbesar dalam sejarah sampai pada kesimpulan yang sama. Einstein mengatakan: “Setiap orang yang secara serius terlibat dalam mengejar ilmu pengetahuan menjadi yakin bahwa roh terwujud dalam hokum alam semesta, dan roh jauh lebih unggul daripada manusia.”

Max Planck, seorang pendiri fisika kuantum, mengatakan: “Semua berasal dari materi dan eksis, hanya berdasarkan dari kekuatan. Kita harus berasumsi balik bahwa kekuatan ini adalah adanya kesadaran dan kecerdasan pikiran. Pemikiran ini adalah matriks dari semua materi. “

Isaac Newton percaya bahwa alam semesta adalah sebuah sistem mekanik, diatur ke dalam mekanisme gerakan oleh Tuhan dan kemudian berjalan secara sistematis. Ada orang lain yang percaya bahwa semua eksistensi materi adalah pancaran dari Tuhan. Beberapa ilmuwan tidak percaya ada intelijen eksternal sama sekali. Dan ini bukanlah pendapat saya!

Banyak teori dan keyakinan yang terus bertahan sampai saat ini bahwa pikiran Anda sendiri dapat mengubah dunia luar dalam kaitannya dengan diri Anda sendiri. Meskipun ada yang terpisah, antara koordinasi intelijen dalam control diri, namun Anda adalah kreator bersama.

Ketika sinkronisitas bermanifestasi sebagai suatu peristiwa luar yang terkait dalam makna, jelas bahwa Anda membantu menciptakannya.

Tapi berbagai peristiwa juga bertepatan tanpa kita berpikir tentang mereka, seperti saat kelahiran saya sebagai 3333. Jauh di dalam diri kita selalu merasa bahwa kita sedang diawasi, bahkan di sebuah ruangan kosong, kita tidak pernah benar-benar sendirian. Berapa kali peristiwa selaras yang tampak begitu aneh dan statistik itu bukankah tidak mungkin terjadi secara kebetulan? Mereka harus berasal dari luar. Ini berarti bahwa The Source atau The One akhirnya mengendalikan itu semua di luar sana dan tidak berada di dalamnya.

Albert Einstein mengatakan, “Sinkronisitas adalah cara Tuhan agar tetap anonim.” (Robert Torres /Osc)

Robert Torres adalah penulis Sin Thesis. Ia juga seorang penyanyi, penulis lagu, seniman, dan kontributor majalah freelance. Dia mengajak para pembaca untuk berbagi pikiran mereka dengannya di rttowers3@gmail.com.

Share

Video Popular