Keterangan foto: Revolusi EDSA (Epifanio de los Santos Avenue) adalah sebuah demonstrasi massal tanpa kekerasan di Filipina yang terjadi pada 1986. Aksi damai didominasi warna kuning itu selama 4 hari yang dilakukan oleh jutaan rakyat Filipina di Metro Manila mengakhiri rezim otoriter Presiden Ferdinand Marcos dan pengangkatan Corazon Aquino sebagai presiden. (wikipedia)

Oleh: Yang Guang

Revolusi tiga warna Perancis dan Revolusi Merah Partai Komunis Tiongkok (PKT)

Lafayette, panglima Tentara Revolusi Nasional di zaman Revolusi Prancis mencipta de Tricolore (Bendera Tiga Warna), makna awalnya hanya dua warna merah dan biru yang mewakili bangsawan dan warga Paris, warna putih yang berada di tengah dua warna merah dan biru mewakili keluarga kerajaan Prancis. Setelah kepala raja dipenggal, makna de Tricolore tersebut berubah menjadi Liberté, égalité, fraternité (kebebasan, kesetaraan, persaudaraan), tiga macam tujuan politik yang tinggi, dengan demikian Revolusi Prancis telah membubung mendapatkan makna universal yang lebih tinggi dari zamannya, melampaui sejarah, pengarah masa depan dan penyinar dunia. Itulah kepiawaian penggunaan warna pada revolusi.

Sedangkan bagi revolusi komunisme di berbagai negara tanpa ada yang mengomando telah secara serempak memilih warna merah sebagai tanda pengenal yang bisa dipakai bersama, hal itu bukan hanya berdasarkan kalimat meracau dari Karl Marx saja, lebih dari itu ia adalah sebuah metafora mengenai kediktatoran kekerasaan, semacam pernyataan ideologi yang haus darah dan mengagungkan pembantaian.

Misalnya revolusi PKT, mereka menghabiskan banyak energi untuk menggarap warna, mulai dari: mengibarkan Bendera Merah, mendirikan Pasukan Merah, mulai kebangkitan dengan membentuk Basis Separatis Merah, hingga memenangkan perang saudara dan mendirikan pemerintahan Merah dan berkuasa di Negeri Merah, mewariskan takhta kepada Penerus Merah.

Warna merah menyelimuti segenap penjuru Tiongkok selama 60 tahun lebih ini, bahkan disaat Revolusi Kebudayaan (1966-1976) ada wacana untuk mengganti rambu lalu lintas menjadi hijau berhenti dan merah berarti boleh jalan. Setelah reformasi keterbukaan (bidang ekonomi) pasca 1989, PKT belajar dari Negara Barat mendirikan pasar bursa saham, namun dalam simbolisasi, berlawanan dengan praktek internasional, mereka menetapkan warna hijau sebagai index turun dan merah berarti naik.

Belakangan ini Xi Jinping bahkan menemukan frasa “Gen Merah”. Suatu bentuk ekspresi kesukaan berlebihan terhadap suatu macam warna biasa, yang cenderung bernuansa aliran sesat. Membicarakan hal ini, revolusi PKT tentu saja tidak sesuai dengan ciri revolusi warna tanpa kekerasan dari warga yang berunjuk rasa, tapi malah lebih obsesif dalam memuja warna dari berbagai revolusi warna apapun pada masa kini dan merupakan warna kediktatoran dari “Revolusi Warna.”

Hannah Arendt (teoritikus politik Jerman, 1906-1975) mengatakan, “Perang dan revolusi menentukan wajah abad XX”. Tetapi tidak bisa dipungkiri, sampai akhir abad XX, reputasi revolusi sudah anjlok. Sebelum Revolusi Warna yakni sebuah spesies baru tersebut dilahirkan, peristiwa tetenger utama dari revolusi yang tercatat dalam sejarah dunia adalah kerusuhan massa, pemberontakan bersenjata dan perang saudara maupun perang eksternal. Secara keseluruhan, tidak lebih adalah semacam “sebuah dentuman meriam.” Sedangkan pasca revolusi, tatanan pemerintahan baru yang terbelenggu masalah, acapkali masih mengandalkan guillotine, Cheka (organisasi yang eksis 1917-1922 di bawah rezim Uni Soviet, yang menginvestigasi dan mengeksekusi para lawan politik Lenin), Gulag (kamp kerja paksa maut antara 1930-1955 untuk mengurung para disiden yang dianggap membahayakan Stalin), penindasan kontra-revolusi, pemerintahan teror ala Revolusi Kebudayaan untuk didirikan dan dipelihara.

Seperti revolusi di Inggris dan Amerika Serikat yang tidak mudah dan bangsa yang sangat mahir be-revolusi bagaimanapun adalah langka, kebanyakan bangsa di dunia, disaat revolusi tidak mau be-revolusi, begitu sekali berevolusi maka keterusan be-revolusi dan belum puas jika tidak sampai membuat kemarahan dan ketidakpuasan merajalela. Karena itu, sampai pada akhir abad XX, melalui perenungan berkelanjutan dari para filsuf maka urusan revolusi (termasuk partai revolusi, faksi revolusi, kaum revolusioner dan embel-embel yang lain) sudah tidak lagi menyentuh sanubari.

Revolusi warna telah mengubah wajah dari revolusi tradisional

Revolusi telah mengubah wajah abad ke 20, beruntung revolusi di abad ke 21 sendiri juga mengubah wajah dengan cepat dan meningkatkan nilai warna. Berawal dari eksistensi pemilu palsu yang umum terjadi di berbagai negara bagian Uni Soviet, telah menyebabkan terjadinya Revolusi Mawar Georgia, Revolusi Oranye Ukraina dan Revolusi Tulip Kirgistan, kemudian berkat pelaksanaan system presidensial seumur hidup di berbagai Negara Arab telah meletus gerakan “Musim semi Arab”, yang dicetuskan oleh Revolusi Yasmin (melati) Tunisia, maka Mesir, Libya, Yaman dan Suriah kesemuanya telah terperosok ke dalam arus pasang revolusi, sejauh ini geopolitik dari bekas negara Soviet, Eropa Tengah dan Timur, Timur Tengah dan Afrika Utara telah berubah secara dramatis, sedangkan setelah Revolusi Warna bergabung ke dalam keluarga besar revolusi, wajah lama revolusi telah berubah dengan penampilan baru.

Sejak lama sudah diketahui, hubungan antara warna dan revolusi warna tidaklah begitu erat kecuali di Ukraina, efek pengenal atau penghimbau dan efek mobilisasi dari warna tidak begitu menonjol. Adapun sebutan bunga-bunga revolusi itu adalah penamaan dari media Barat yang terkesan asal-asalan. Hubungan antara bunga dan revolusi juga tidak kuat, di semua negara Arab yang pernah terjadi revolusi warna, kasus bakar diri di depan umum lebih berdampak “revolusioner” daripada bunga-bunga dan kelengkapannya.

Abad lalu di tahun 1980-an ketika warga Filipina menggulingkan kediktatoran pemerintah Marcos secara efektif mereka menggunakan pita lengan kuning. Di abad ini gerakan “tentara X-shirts”(X bisa berwarna merah, kuning, hitam atau putih) yang banyak terjadi di Thailand dan Taiwan menggunakan seragam berwarna dalam skala besar, “Gerakan mahasiswa bunga matahari” Taiwan dan “Gerakan payung (Umbrella Movement)” Hong Kong yang masing-masing menggunakan peralatan yang bersifat peraga secara berulang-ulang, masih lebih berbobot jika diperbandingkan dengan yang terjadi di Negara-negara ex Uni Soviet dan Negara-negara Arab di Timur Tengah. (whs/rmat)

TAMAT

 

 

Share

Video Popular