Keterangan gambar: Kebiasaan meratakan data yang dipaksakan kepada gadis-gadis Afrika. (foto internet)

Kebiasaan ‘menyeterika’ payudara yang kurang manusiawi ini masih dilakukan di daerah pedesaan di Afrika Selatan, Nigeria, Kamerun dan negara lainnya di Afrika. Immanuelle adalah seorang wanita Afrika berusia 23 tahun yang sudah menerima perlakuan ‘diseterika’ payudaranya sejak ia masih kecil. Alasan yang tersembunyi di balik kebiasaan itu tidak lain hanya karena untuk melindungi para gadis dari pelecehan atau serangan seksuaal para lelaki.

Di negara-negara Afrika itu, banyak ibu-ibu akan menggunakaan sekop atau batu panas untuk ‘menyeterika’ payudara anak gadis mereka agar rata seperti dada laki-laki. Kebiasaan yang dikenal sebagai ‘menyeterika’ payudara tersebut dilakukan dalam rangka mencegah terjadinya pelecehan atau serangan seksual. Emmanuelle adalah salah satu korban yang mengaku pasrah dan frustasi. Sekarang, untuk menyusui anak bayinya ia terpaksa menahan rasa sakit membiarkan semut api menggigit payudaranya untuk merangsang pembengkakan agar keluar air susu.

Laporan ETtoday menyebutkan bahwa sekitar 3.8 juta wanita Afrika menjalani kebiasaan ‘menyeterika’ payudara rata-rata pada usia antara 11 – 15 tahun. Dan bahkan ada yang lebih awal pada usia 8 tahun.

Keterangan gambar: Seorang anak gadis dengan dipegang oleh kerabat sedang ‘diseterika’ dada oleh ibunya. (foto internet)

Hanya untuk menutupi jenis kelamin, mencegah pelecehan seks dan hamil di luar nikah para penduduk lokal melakukan kebiasaan yang kurang manusiawi itu kepada anak-anak gadis mereka. Mereka percaya bahwa dengan payudara ‘rata’ anak-anak gadis bisa terus bersekolah dan tetap dikira masih ‘ingusan’ yang belum waktunya untuk berumah tangga.

Laporan menyebutkan bahwa kebiasaan itu menjadi rahasia antara ibu dengan anak, orang tua laki jarang yang mengetahui. Di negara-negara Afrika itu, ‘menyeterika’payudara tidak digolongkan tindak kekerasan. Bahkan para gadis tersebut bahkan percaya bahwa ibu mereka melakukan itu adalah demi kebaikan dan masa depan, sehingga memilih untuk menahan rasa sakit secara diam-diam.

Pejabat PBB mengatakan bahwa kebiasaan ‘menyeterika’ payudara selain berpengaruh pada perkembangan fisik dan mental anak gadis, juga meningkatkan resiko terkena kanker payudara dan menyebabkan gangguan pada asimetri payudara sehingga tidak bisa memproduksi air susu secara normal. Sangat mungkin untuk menimbulkan infeksi, iritasi di daerah tersebut.

Di beberapa keluarga mampu, kebiasaan itu mereka alihkan dari sekop atau batu panas menjadi cara ikatan dengan menggunakan kain atau perban khusus untuk mencapai hasil dada rata seperti kaum pria. (Secretchina/sinatra/rmat)

Share

Video Popular