Oleh: Zheng Xiaoqi

Keterangan gambar: “Environmental Investigation Agency”, sebuah NGO yang bermarkas di London mengatakan: “Tanzania merupakan sumber terbesar pasokan gading gajah ilegal di dunia, dan RRT adalah negara pengimpor gading terbesar.” (AFP)

Dalam beberapa dekade terakhir, penyelundupan gading gajah Afrika sangat marak, dan akibat perdagangan ilegal gading gajah ini, telah menyebabkan diburunya lebih dari 500.000 ekor gajah. Pemerintah Afrika mengumumkan, seorang wanita WN Tiongkok telah ditangkap, yang merupakan salah seorang pelaku utama penyelundupan gading, dan dikenal dengan sebutan “Queen of Ivory”.

Menurut berita Fox 8 Oktober 2015 lalu, wanita RRT tersebut bernama Yang Feng Glan, yang akhirnya tertangkap oleh National and Transnational Serious Crimes Investigations Unit Tanzania setelah diburon selama setahun. Selama ini Yang selalu bergerak dalam perdagangan gading gajah ilegal di Beijing, Uganda, dan juga Tanzania. Organisasi “Elephant Action League” yang bermarkas di Amerika Serikat menyatakan, hingga saat ini, penjual gading gajah ilegal yang terkenal bengis ini telah mendatangkan banyak masalah.

Pihak berwenang mengatakan, Yang merupakan mata rantai yang krusial antara para pemburu di Afrika dengan pembeli di RRT, lewat penyelundupan gading gajah dan cula badak ilegal dia meraup untung besar. Minggu ini, Yang Feng Glan yang telah berusia 66 tahun itu akan diadili di pengadilan di ibukota Tanzania, Dar es Salaam. Wanita itu akan digugat atas penyelundupan gading gajah senilai USD 3 Juta selama tahun 2000 hingga 2014. Menurut nara sumber, Yang juga dituduh terlibat perdagangan internasional tersebut sejak 1980, melibatkan dua orang pemburu setempat.

Tanzania memiliki nama harum sebagai “surga perburuan gading gajah Afrika”. Narasumber pemerintahan menyebutkan, selama 5 tahun terakhir, sebanyak 85.000 ekor gajah telah dibunuh karena perdagangan gading ilegal. Sekitar 50 tahun silam, populasi gajah di negara itu masih terdapat 350.000 ekor, namun hingga tahun 2009 hanya tinggal 100.000 ekor saja, dan sekarang di Tanzania hanya tersisa 35.000 ekor gajah.

Menurut data dari majalah “National Geographic”, jumlah gajah Afrika pada 1979 adalah sebanyak 1,3 juta ekor dan pada 2007 telah menurun menjadi hanya 500.000 ekor saja, dan mungkin akan terus menurun beberapa tahun kemudian.

AS telah melarang perdagangan gading gajah, walaupun gading gajah jenis antik sekalipun hanya bisa diperjualbelikan di Hawaii. Karena memperbolehkan perdagangan artefak, akan memberi perlindungan bagi para pelaku penjualan gading gajah baru ilegal. Menurut pakar, tertangkapnya Yang Feng Glan merupakan pukulan telak bagi industri perburuan ilegal ini.

Di tengah komunitas etnis Tionghoa di Tanzania, Yang mempunyai pengaruh cukup besar, dia juga dicurigai memanfaatkan transaksi pembelian senjata dan kendaraan untuk menyuap para pejabat setempat agar melindunginya, serta membantu kelompok pemburu liar.

CEO “Elephant Action League” bernama Andrea Crosta menyatakan, ini adalah penangkapan terpenting dalam beberapa tahun terakhir ini. Tertangkapnya Yang tidak hanya akan memukul para rekan bisnisnya di RRT, juga akan akan menjadi pukulan bagi pejabat setempat yang korup. Selama belasan tahun terakhir, dia terus menjual dan menyelundupkan gading gajah dalam jumlah besar, tidak mungkin melakukan semua itu tanpa dukungan pejabat setempat.

“Environmental Investigation Agency”, sebuah NGO yang bermarkas di London menyatakan: “Tanzania merupakan sumber terbesar pasokan gading gajah ilegal di dunia, dan RRT adalah negara pengimpor gading terbesar.”

Surat kabar “New York Times” memberitakan, orang Tiongkok telah membentuk jaringan penyelundupan yang sangat luas di Tanzania. Penyelundupan gading gajah kembali memberitahu kepada para penyelidik “Environmental Investigation Agency”, bahwa pejabat diplomatik RRT di ibukota Tanzania, Dar es Salaam, merupakan pembeli utama gading gajah tersebut. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular