Keterangan Foto : Akibat asap di Palangkaraya, Kalimantan Tengah yang membuat langit menguning, 17 Oktober 2015 (@Sutopo_BNPB)

JAKARTA – Sejak berbulan-bulan lalu kabut asap di Sumatera dan Kalimantan terus mengepung warga sekitar. Bahkan kabut asap dikarenakan pembakaran hutan dan lahan hingga kini bertambah pekat dan bertambah parah. Berbagai upaya pemadaman dibakarnya lahan gambut yang terbakar hingga 1,7 juta hektar masih terus dilakukan hingga saat ini.

Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menulis pada Kamis (22/10/2015) hanya pada perbatasan Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, langit kawasan sekitar menajadi kuning akibat pekatnya kabut asap. Bahkan sensor Satelit Terra Aqua tak mampu menembus akibat pekatnya kabut asap.

“Langit menguning. Jarak pandang 50 m di perbatasan Kalsel-Kalteng,” tulisnya dalam akun twitternya @Sutopo_BNPB.

Pekatnya kabut asap hampir sama terjadi di Pekanbaru, Riau bahkan pada hari yang sama jarak pandang di Pekanbaru sudah mencapai 50 meter. Catatan Sutopo, kabut asap di Pekanbaru bukan hanya hanya datang dari kiriman asap Sumatera Selatan namun juga berasal dari sejumlah wilayah Riau yang terbakar.

Sutopo mengatakan berbagai upaya sudah maksimal dilakukan. Namun sejumlah titik api masih terjadi pada sejumlah kawasan. Bahkan baru-baru ini, sebanyak dua unit pesawat Beriev Be-200 bantuan dari Rusia telah mendarat di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang. Pesawat pengebom air ini mampu mengangkut 12.000 liter air dalam waktu 14 detik.

Penerbangan di Pekanbaru juga dibatalkan dikarenakan asap. Sebanyak 78 penerbangan dari Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru dibatalkan, Rabu (21/10/2015). Sehari sebelumnya puluhan maskapai penerbangan juga dibatalkan. Kejadian ini bukan pertama atau keduakalinya bahkan sudah terjadi beberapa kali sebelumnya. Bandara di Sultan Thaha Syaifudin, Jambi juga lebih sebulan tak beroperasi sepenuhnya.

Catatan Greenpeace Asia Tenggara, 40% titik api di seluruh Indonesia berlokasi di lahan gambut. Bahkan sampai bulan April 2014, 75% peringatan bahaya kebakaran di Sumatera berasal dari lahan gambut.

Data Greenpeace menyebutkan, apabila dibiarkan dalam kondisi alaminya yang tergenang air, maka lahan gambut akan jarang sekali terbakar. Tak hanya itu, hutan hujan tropis yang dibiarkan alami juga jarang terbakar. Hanya saja akibat ulah pengrusakan lahan gambut dan hutan oleh perkebunan dan manusia mendatangkan malapetaka bara api.

Sedangkan kebakaran di Riau sangat terkait dengan pengembangan bubur kertas dan kelapa sawit. Di luar Riau, konsentrasi kebakaran besar tahun ini berada di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, Jambi dan Sumatera Selatan. Provinsi-provinsi ini memliki lanskap lahan gambut yang luas.

Bagi Greenpeace, solusi yang tepat adalah mencegah kebakaran bukan memadamkan kebakaran. Langkah jangka panjang ini, memerlukan aksi nyata bagi pemerintah dengan mengatasi akar penyebab pembakaran hutan dan lahan. Perusahaan juga harus menghentikan pembukaan hutan dan lahan gambut. (asr)

Share

Video Popular