Cacing es dijuluki sebagai satu-satunya organisme di bumi yang sanggup bertahan hidup di bawah lapisan es, dan dalam pandangan ilmuwan memiliki ciri kehidupan makhluk luar angkasa. Cacing es yang langka dan fisik yang tahan dingin ini dapat membuktikan bahwa kemungkinan di luar bumi juga ada makhluk hidup yang tahan dingin seperti cacing es ini. Mereka bisa berjalan (merayap) bebas di dalam lapisan es, hidup aktif di bawah suhu ekstrem rendah, sementara jika suhu sedikit naik mereka akan membentuk gumpalan yang melekat, demikian pandangan para ilmuwan.

Cacing es daerah kutub merupakan salah satu dari sedikit organisme yang aktif di bawah suhu ekstrem rendah. Oleh ahli biologi, mereka disebut sebagai invertebrata (kelompok hewan yang tidak memiliki tulang belakang) terbesar, organisme paling aktif di hamparan salju yang tertutup. Cacing es kutub hidup di daerah gletser (aliran es) yang di selubungi salju sepanjang tahun. Di area gletser dekat daerah kutub di Oregon, Alaska, AS, dan Columbia, Inggris bisa kita temukan bayangan mereka. Fisik mereka sangat kecil bagaikan sehelai benang hitam yang halus yang merayap di bawah tutupan salju.

Bisa jadi mereka adalah hewan di muka bumi yang paling tidak takut dengan suhu dingin. Di bawah suhu dingin yang menusuk tulang di daerah gletser (aliran es), binatang lainnya nyaris beku menjadi es loli, bahkan sel mereka “gemelutuk” (kraaaak-suara pecahan es/sesuatu) saking bekunya. Namun, bagi cacing es daerah kutub, suhu ekstrem rendah ini justru merupakan lingkungan hidup yang paling nyaman baginya.

Para ilmuwan mendapati, bahwa membrane cell atau selaput sel dari cacing es ini bermetabolisme secara normal di bawah suhu rendah, membran selnya tetap elastis. Cacing es ini tidak hanya tahan dingin tapi juga tahan lapar. Ilmuwan pernah memasukkan beberapa ekor cacing es ke dalam kulkas untuk penelitian. Dua tahun kemudian, cacing es yang tidak makan atau minum itu tetap masih segar bugar di dalam freezer.

Namun cacing es juga memiliki kekurangan yang fatal, yaitu takut panas. Kemampuan bertahan pada suhu tinggi cacing es sangat rapuh, bila suhu lebih dari empat derajat Celsius, maka selaput sel cacing es akan mencair, demikian juga dengan daging di dalam selnya juga akan menjadi zat lekat bak segumpalan jerami.

Misteri persembunyian : Punah di musim dingin

Gaya hidup cacing es juga penuh misteri. Mereka selalu hidup di daerah gletser atau aliran es yang bersalju sepanjang tahun, keberadaan mereka juga tersembunyi. Begitu tiba musim panas, sekumpulan cacing es dalam skala besar menerobos keluar dari lapisan es, untuk mencari makanan. Menurut cerita peneliti yang mencari cacing es, bahwa jika kurang hati-hati kita bisa menginjak puluhan ribu cacing es yang menggulung jadi satu gumpalan.

Cacing es keluar saat mentari terbenam, dan istirahat saat matahari terbit. Di musim panas, sebelum matahari terbit, cacing es sembunyi di dalam lapisan es. Mereka baru keluar setelah matahari terbenam, untuk mencari makanan seperti ganggang, serbuk sari dan makanan sisa lainnya yang bisa dicerna. Karena itu, istilah ilmiah mereka disebut “solifugus”, yaitu menghindari matahari.

Di musim dingin, tempat berkumpulnya cacing es sebagian besar di pegunungan yang ditutupi hamparan salju, jika tidak ada ganggang atau makanan lainnya, mereka lalu bersembunyi di bawah tanah. Namun sejauh ini, tidak ada yang tahu bagaimana cacing es itu melewati musim dinginnya di bawah di tanah. Begitu tiba musim dingin, cacing es itu seakan-akan punah. Ilmuwan menduga mereka bersembunyi di dasar salju dan hibernasi (tidur musim dingin). Namun, baru-baru ini, peneliti mendapati bahwa jika menggali cukup dalam, di musim dingin juga bisa ditemukan cacing es.

Dua ahli biologi asal Amerika pernah beberapa kali ke gunung yang ditutupi salju sepanjang tahun itu untuk menggali (mencari) cacing es. Dan cacing es yang mereka temukan sekarang bersembunyi di dalam lubang di bawah 3 meter bawah tanah.

Memiliki ciri kehidupan makhluk luar angkasa

Cacing es dijuluki sebagai organisme satu-satunya di bumi yang tidak akan mati membeku, dalam pandangan ilmuwan memiliki ciri kehidupan makhluk luar angkasa. Menurut ilmuwan, cacing es yang langka dan fisik yang tahan dingin itu dapat membuktikan bahwa kemungkinan di luar bumi juga ada makhluk hidup yang tahan dingin seperti cacing es tersebut.

“National Geographic” Amerika juga telah mengetahui terkait cacing es, dan mendanai peneliti untuk mencari cacing es.

Menurut “National Geographic Magazine”, bahwa dalam bidang transplantasi organ, nilai cacing es jauh lebih bermakna praktis dari kehidupan makhluk luar angkasa yang direpresentatifkannya. Sel cacing es mampu memnjaga metabolisme normalnya pada suhu rendah. Namun, transplantasi organ mengkonsumsi energi dalam proses pendinginannya, dan cepat menyusut. Jika rahasia metabolisme cacing es itu dapat dapat disingkap, maka dokter dapat menggunakan bahan kimia dan obat-obatan untuk menjaga agar organ bisa bertahan dengan lebih lama.”

Pada tahun 1887 lampau, Edward Sheriff Curtis, seorang fotografer terkenal dari Seattle, AS, untuk pertama kali menemukan cacing es, dan memberinya nama “belut salju”. Namun, jarang diperhatikan. Belakangan baru secara bertahap masuk dalam pandangan peneliti setelah pemanasan global yang mengancam punahnya hewan kutub. (jon/ran)

Share

Video Popular