Keterangan foto: Pada 3 Oktober 2015, di kota Frankfurt, Jerman, diperingati 25 tahun Jerman Bersatu. (Thomas Lohnes/Getty Images)

Oleh: Zhou Yuan

Tahun lalu seluruh dunia memperingati 100 tahun meletusnya PD-I, tahun ini diperingati lagi 70 tahun berakhirnya PD-II, dan pada Sabtu, 3 Oktober 1990, adalah hari Jerman Bersatu, mantan negeri Jerman Timur secara resmi terintergrasi ke pangkuan Jerman Barat, bangsa Jerman kembali bersatu setelah 45 tahun terpisah dan menjadi sebuah negara demokrasi bebas.

Selama seabad, dua kali perang dunia keduanya dimulai dari Jerman, setelah berperang dan membangun kembali, terpisah dan bersatu kembali, dengan usia 25 tahun, negara relatif muda ini telah berhasil menyelesaikan suatu “mission impossible” untuk menyatukan dua negara.

Saksikan Jejak Sejarah

Setelah Jerman yang telah bersatu merayakan hari jadi ke-5, takdir membawa penulis dari negara RRT yang berpaham sosialisme khas Tiongkok, ke kota Berlin yang baru saja bertransformasi menjadi negara demokrasi, dan memulai studi saya di sana. Kota Berlin tempat disatukannya Berlin Barat dan Berlin Timur adalah miniatur Jerman pada masa itu.

Puing-puing di Berlin Timur yang dulunya merupakan ibukota Jerman Timur menanti untuk dibangun kembali, dimana-mana ada proyek pembangunan, pemerintah Jerman sibuk membangun ibukota, agar ibukota Jerman Barat yang dulunya terletak di Bonn bisa segera dipindahkan kembali ke ibukota Jerman sebelumnya. Mesin derek di tanah kosong di kedua sisi Tembok Berlin di pusat kota menjulang tinggi, situs bersejarah menunggu dipugar, rumah lama dicat kembali. Berbagai kelompok orang dari seluruh dunia berkumpul disini, membawa berbagai paham dan pola pemikiran, penuh harap, menanggung beban, dan melampiaskan rasa tidak puasnya. Semua itu belum pernah terjadi dalam sejarah, bisakah diselesaikan?

Saya sebagai orang asing sampai kebingungan melihat semua ini, ternyata masyarakat bisa terbagi menjadi begitu banyak lapisan, dan setiap orang memiliki banyak kemungkinan untuk merambah, serta kecurigaan menyaksikan bagaimana masyarakat Berlin menciptakan tahap bersejarah ini.

Saat Republik Jerman berusia 10 tahun, departemen pemerintahan mulai melakukan pemindahan besar menuju Berlin. Tidak sempat ikut merasakan kebahagiaan pindahnya Dewan Kongres dan kantor perdana menteri, saya mengakhiri studi dan segera memulai karir saya di Jerman bagian barat. Karena hidup yang sangat realistis, di Berlin tidak cukup banyak perusahaan dan lowongan kerja, karena setelah Uni Soviet mendorong Jerman Timur menuju jalan tirani komunisme, tidak sedikit perusahaan besar Jerman Timur seperti Siemens, memindahkan kantor pusatnya ke Jerman Barat.

Sebelum peringatan 25 tahun Jerman Bersatu, takdir kembali membawa saya ke Berlin. Seolah telah tidak bisa mengenali pusat kota yang makmur ini, di bekas batas Tembok Berlin yang tadinya gersang kini telah berdiri stasiun KA terbesar di seluruh Eropa, Lapangan Potsdamer Platz yang dulu penuh dengan alat derek kini sangat gemerlap, gedung bisnis menjulang tinggi, dan setiap tahun menjadi lokasi utama Festival Film Berlin. Harga rumah di Berlin juga naik menjadi dua kali lipat dibandingkan saat saya meninggalkan kota itu. Jika bukan terkadang pemandangan bangunan lama dan lahan proyek yang sedang digarap tertangkap oleh mata, akan membuat orang yang melihat merasa tidak ada bedanya dengan kota-kota di Jerman Barat.

Mencari Jejak Peninggalan Jerman Timur

Hidup tentram selama 15 tahun di Jerman Barat, menikahi suami warga Jerman, dan mempunyai 2 anak, begitulah pekerjaan dan keluarga saya berjalan. Kualitas infrastruktur disini sangat baik, lingkungan juga tidak mengalami perubahan yang terus menerus. Bagi kami, Jerman Timur hanya sebatas gambaran yang kami peroleh dari televisi dan surat kabar, juga Pajak Solidaritas sebesar 5% yang dipotong setiap bulannya dari gaji, kami tahu uang itu digunakan pemerintah untuk membantu pembangunan mantan Jerman Timur.

Kini kami kembali pindah domisili ke Berlin, atau tepatnya pindah ke kota kecil di luar kota Berlin, masuk ke wilayah negara bagian Brandenburg, yang dulunya merupakan wilayah Jerman Timur. Saat masih studi di Berlin Barat saya pernah ke kota ini, dalam ingatan saya jalan-jalan di kota ini rusak dan rumah-rumah tua di sepanjang jalan yang catnya sudah usang. Para kerabat di Jerman Barat mendengar kami akan pindah ke kota itu segera heboh, “Astaga, tingkat pengangguran di kota itu adalah yang tertinggi di Jerman! Para pemuda yang tidak bekerja suka membuat onar, apa kalian tidak takut?”

Diiringi kecurigaan sebagai warga luar daerah, kami pun menjadi warga di kota bekas wilayah Jerman Timur itu. Setiap hari di meja makan selalu ada satu topik pembicaraan: dimanakah bisa ditemukan jejak peninggalan Jerman Timur. Sudut pandang saya berangkat dari seseorang yang berasal dari negara berpaham sosialisme hingga mengalami kehidupan di Berlin setelah bersatu, sementara suami saya adalah seorang Jerman Barat yang asli.

Ternyata sulit sekali ditemukan. Jalanan disini sangat rata, rumah-rumah telah dicat baru, hotel di pusat bisnis dan berbagai tempat hiburan tidak berbeda dengan yang ada di Jerman Barat, bahkan kecepatan internet lebih cepat karena jaringan yang baru dibangun, bahkan di Jerman Barat belum mencapai taraf itu. Masyarakat disini terasa lebih terbuka apa adanya. Mengurus sesuatu di kantor pemerintahan, para petugas sangat ramah dan kooperatif menjelaskan setiap detil dengan cermat, seolah takut warga tidak mengerti sehingga mengalami kesulitan. Membawa anak-anak keluar rumah, naik turun mobil pun selalu ada saja warga yang membantu mendorong kereta bayi dan menggendong anak, sepertinya ini bukan kegiatan karena tidak ada lowongan pekerjaan.

Tetangga kami pun sangat bersahabat, mereka adalah sepasang suami istri asal Berlin Timur, setelah Jerman Bersatu mereka pindah ke luar kota, membesarkan 3 anak. Kini putri tertua mereka telah duduk di bangku kuliah di Jerman Barat dan sudah berkeluarga dengan 1 anak, sedangkan putra keduanya lulus SMA dan bergabung dengan tentara nasional, dua tahun diutus ke medan perang di Afganistan, kini telah kembali ke rumah dan mempersiapkan diri untuk ujian masuk perguruan tinggi. Tahun lalu keluarga mereka mengalami musibah, sang suami tiba-tiba terserang stroke, istrinya terpaksa menanggung beban keluarga, meskipun sang suami masih sulit berbicara, namun kondisi fisiknya terus membaik.

Sedangkan pemilik dari rumah kami sebelumnya juga merupakan tipikal keluarga yang bangkit dari nol setelah Jerman Bersatu. Ia pernah hidup di masa Jerman sebelum dan sesudah bersatu masing-masing setengah usia hidupnya. Di Jerman Timur ia belajar menjadi tukang kayu, setelah bersatu ia mendirikan perusahaan kontraktor, sampai akhirnya juga membangun rumahnya sendiri. Urusan kantornya semakin lama semakin banyak, rumahnya sudah tidak mencukupi, sehingga ia menjual rumah ini dan membangun rumah yang lebih besar lagi. Saat pindah ia khusus meninggalkan kayu afkir untuk kami, mengingatkan kami saat cuaca mendadak menjadi dingin, kayu-kayu itu bisa dibakar untuk menghangatkan rumah.

Sungguh tidak habis pikir, rumah dan jalan baru serta infrastruktur bisa dibangun dengan investasi pemerintah, bisa dibangun selama ada uang, tapi dalam 25 tahun, menggabungkan dua ideologi yang berbeda, rakyat dengan sikap antusias bersama-sama menjaga ketertiban masyarakat, bisa dikatakan suatu “keajaiban”, seperti orang Jerman Barat membangun kembali negaranya dan menciptakan “keajaiban ekonomi” setelah PD-II, sepertinya orang Jerman selalu bisa mencari cara penyelesaian setiap kali mendapat masalah, apa yang mereka andalkan?

Menghadapi Kesulitan Baru

Suami saya berhasil menemukan perbedaan Jerman Timur dan Jerman Barat: disini tato sangat trendi, banyak pemuda membuat tato, toko-toko yang menyediakan jasa lukis tato juga sangat banyak. Ia berkata, hal ini mungkin disebabkan adanya kehampaan spiritual setelah paham sosialisme Jerman Timur tercerai berai. Terutama bagi kaum muda, ketika jiwa mereka tidak menemukan pegangan, menjadi sangat mudah mengikuti tren. Di era tahun 60-70 an di Jerman Barat, juga pernah mengalami tahap ini, tapi sudah lama berlalu. Saya pikir, liku-liku kecil seperti ini pun akan dengan segera berakhir.

Akan tetapi waktu pun terus memberikan masalah baru bagi manusia. Baru sebulan lebih kami pindah ke kota bekas Jerman Timur ini, misi yang belum pernah ada dalam sejarah kembali diberikan bagi warga Jerman: ratusan ribu pengungsi dari Suriah, Afganistan, dan negara-negara Afrika memenuhi Jerman, atas dasar kemanusiaan, Jerman membuka pintu bagi mereka. Tapi apa yang harus dilakukan selanjutnya, bagaimana menempatkan orang-orang ini, bagaimana menghadapi pengungi yang akan datang lebih banyak lagi? Dampak apakah yang akan ditimbulkan oleh orang-orang itu?

Di era internet ini penyebaran informasi sangat cepat, berita negatif pun tersebar cepat: banyak pengungsi palsu; organisasi teroris menyusupkan kaki tangannya; kasus pemerkosaan terhadap wanita Jerman oleh pengungsi semakin parah, wanita berambut pirang sebaiknya tidak keluar rumah seorang diri; konflik antar pengungsi yang menganut aliran kepercayaan berbeda; golongan Neo-Nazi bangkit dan membakar kamp pengungsi; pemerintah berbagai daerah kesulitan menemukan tempat untuk menampung pengungsi… kian lama kian banyak suara mempertanyakan, kehidupan warga Jerman yang tadinya tentram, mengapa tiba-tiba harus menerima banyak orang asing dengan latar belakang dan kepercayaan yang sama sekali berbeda ini?

Suasana ini serasa pernah saya rasakan, teringat 20 tahun lalu ketika baru tiba di Berlin, seringkali ada orang berbaik hati mengingatkan saya, “Sebagai orang asing jangan naik bus umum seorang diri di malam hari di Berlin Timur, karena tingkat pengangguran di Jerman Timur tinggi, kaum muda menyalahkan orang asing atas hal ini, sehingga melampiaskannya pada orang asing”.

Saat bersekolah di Humbolt University di Berlin Timur, para pelajar Jerman Timur di sekitar saya sering mengeluh, karena Jerman Bersatu, kedua orang tuanya kehilangan pekerjaan dan harus menerima tunjangan pengangguran, kondisi ini lebih buruk daripada sebelum Tembok Berlin dirobohkan. Orang Jerman Barat juga mengeluh, negara yang kami bangun dengan susah payah, harta yang dikumpulkan dengan susah payah, mengapa tidak bisa dinikmati dengan tenang, malah harus diserahkan untuk membersihkan sampah bekas paham komunis ala Jerman Timur dulu.

Sejarah sepertinya berputar 25 tahun setiap satu siklus. Saat Jerman Bersatu, kereta api mengangkut orang Jerman Timur yang berbahagia diangkut ke Negara Jerman dari Hungaria dan Austria, mereka melarikan diri dari Jerman Timur sebelum Tembok Berlin dirobohkan. Seperempat abad kemudian, gerbong demi gerbong kereta berisi pengungsi lagi-lagi dari Austria dan Hungaria mengalir kembali ke Jerman. Presiden Jerman Gauck dalam pidato peringatan 25 tahun Jerman Bersatu mengatakan, “Seperti di tahun 1990, kita menghadapi tantangan baru, yang harus diemban oleh beberapa generasi. Yang berbeda dengan waktu itu adalah, bangsa yang tidak serumpun ini sekarang harus tumbuh bersama.”

Nilai yang Dipertahankan Bersama

Masalah kehidupan itu sangat realistis. Belum lama ini di dalam kotak surat saya terdapat sepucuk surat dari pemerintah kota, yang ditujukan pada setiap warga. Surat itu mengatakan, rumah pemerintah yang ada sekarang tidak cukup untuk menampung para pengungsi, sehingga harus menyewa rumah penduduk untuk menyelesaikan masalah ini. Setiap orang di setiap rumah diperhitungkan mendiami luas 12 meter persegi, jika ada ruang yang tersisa harus dilaporkan pada pemerintah, dan akan digunakan untuk menampung pengungsi, setiap warga diharapkan mengembangkan jiwa sosial untuk membantu sesama.

Menurut penuturan di surat itu, kebutuhan luasan yang didiami kami sekeluarga sebanyak 4 orang adalah melebihi 48 meter², masih ada luas yang tersisa, tapi saya juga tidak rela berbagi dengan orang asing. Saya berkata pada suami, “Kita harus mengatur strategi. Jangan dilaporkan dulu, sambil melihat perkembangan lebih lanjut.”

Suami saya marah dan berkata, “Apa kamu sudah tidak waras? Simpan surat ini, saya mau mengadu pada pemerintah, ini adalah rumak kita sendiri, mengapa pemerintah berhak menyewakannya pada orang asing? Ini pelanggaran hukum!”

Saya baru tersadar, benar, ini adalah negara demokrasi, harta pribadi dilindungi oleh undang-undang, bahkan pemerintah pun tidak berhak mengalihkannya. Apakah pemerintah kota sudah sedemikian terdesak, sehingga terpikir cara bodoh seperti ini?

Beberapa hari kemudian, surat kabar setempat memberitakan, pemerintah kota telah mengklarifikasi surat tersebut dipalsukan oleh oknum mengatas-namakan pemerintah, dan telah ditangkap polisi untuk diproses. Meskipun mengalami tekanan sangat besar untuk mengatasi masalah pengungsi, namun prinsip hukum demokrasi tetap tidak tergoyahkan, pemerintah menghargai bantuan sukarela, tapi tidak akan memaksa. Tentu warga diharapkan menyisihkan tempat tinggalnya, bahkan bagi orang yang menyewa kamar, selama pemilik rumah setuju, kamar yang disewanya pun boleh dialihkan untuk disewa pemerintah sebagai tempat menampung pengungsi. Sedangkan mengenai surat itu, diperkirakan dilakukan oleh kaum ekstrimis sayap kanan untuk semakin mengacaukan suasana yang sedang keruh.

Melihat berita ini kami pun merasa lega. Nilai mempertahankan hukum kebebasan demokrasi membawa Jerman berhasil merampungkan misi mempersatukan dua Jerman. Mungkin 25 tahun kemudian jika menoleh kembali, tidak akan ada orang merasa was-was lagi akan masalah pengungsi, mungkin pada saat itu akan ada tantangan baru lagi menanti untuk dihadapi.

Sehari sebelum peringatan 25 tahun Jerman Bersatu, surat kabar bergambar terbesar Jerman yakni “Bild” menerbitkan edisi khusus, yang dibagikan gratis pada seluruh keluarga di seluruh negeri sebanyak lebih dari 40 juta keluarga, “Jerman tidak bisa terus menerus memenuhi harapan dunia, tapi Jerman bersedia membantu, bersedia mengulurkan tangan, bersedia menyumbang, mari singsingkan lengan baju, sisihkan milyaran untuk digunakan pada sesuatu yang lebih baik: demi kemanusiaan. Jalan bagi warga Jerman dalam mencari jati diri belum berakhir. Jalan yang kita tempuh sekarang bukan sesuatu yang seharusnya, betapa beruntungnya kita.” (sud/whs/rmat)

 

Share

Video Popular