Keterangan gambar: Bentuk simetris dan tata letak-nya yang logis dari objek itu jelas menunjukkan kalau struktur itu adalah hasil buatan manusia. (foto internet)

Oleh: Ye Yu-huan

Pada 1960 silam, gambar seperti di atas dijadikan sebagai judul artikel Bahtera Nuh? Ilustrasi pada artikel tersebut dipublikasikan di majalah LIFE, sementara pada tahun yang sama, sebuah tim eksplorasi yang dibentuk warga Amerika bersama dengan kapten Durupinar tiba di lokasi itu setelah satu setengah hari perjalanan yang melelahkan. Mereka sangat mengharapkan dapat menemukan beberapa benda prasejarah atau apapun itu yang tak terbantahkan terkait dengan Bahtera Nuh. Mereka menggali di sekitar wilayah itu, tapi sayangnya tidak menemukan benda apapun yang dapat menegaskan tentang sebuah legenda dunia yang dinanti-nantikan dengan harap-harap cemas dan seolah-olah itu adalah sebuah pesan yang terjadi secara alami.

Sebagian besar media di seluruh dunia merasa jemu tentang temuan terkait dan Bahtera Nuh telah menjadi sebuah kisah bukan lagi cerita. Pada 1977 Ron Wyatt tiba di tempat itu. Setelah mendapatkan izin resmi, Ron dan peneliti lainnya melakukan serangkaian penyelidikan yang lebih menyeluruh selama bertahun-tahun. Mereka menggunakan detektor logam untuk menyelidiki, memindai dengan radar bawah tanah dan analisis kimia (ilmu alam) dan temuan mereka sungguh mengejutkan. Bukti mereka sangat kuat tak terbantahkan, karena berbagai indikasi menunjukkan, bahwa itu adalah Bahtera Nuh.

Keterangan gambar: (Atas) Jalur setapak Bahtera Nuh. (Bawah) Struktur kapal dari radar pemindai membuktikan bahwa bagian yang menonjol itu adalah puing-puing yang runtuh dari beberapa tingkat (kapal) tersebut (foto internet)

Bukti visual

Bagian pertama dari penyelidikan itu adalah memeriksa objek tersebut dan mengukurnya. Wujudnya sangat mirip dengan objek berbentuk perahu. Pertama sebagaimana yang anda harapkan bentuk haluan kapal itu memang seperti busur, sedangkan ujung lainnya tumpul seperti buritan. Sementara itu, jarak dari haluan ke buritan sekitar 515 kaki, atau tepatnya 300 hasta Mesir. Sedangkan lebarnya rata-rata 50 hasta. Data-data ini dan presisi ukuran sebagaimana yang disebutkan dalam Alkitab itu sama.

Di ujung lambung kanan dekat buritan ada empat tonjolan vertical muncul dari tanah, dan dalam setiap jarak tertentu, tampak beberapa “tulang” lambung kapal. Sementara itu, dari sisi yang berlawanan, tepatnya di lambung kiri dekat buritan, sebatang “tulang” mencuat dari dalam tanah. Anda bisa dengan jelas melihat bentuknya yang melengkung itu. Banyak “tulang-tulang” lambung di sekelilingnya yang masih terkubur di dalam tanah, namun, semua itu bisa dilihat setelah ditiliti dengan seksama.

Perhatikan baik-baik objek atau benda yang sudah sangat tua itu, jika objek itu memang Bahtera Nuh, maka dipastikan kayu-kayu itu sudah memfosil. Zat organik telah digantikan oleh mineral. Hanya dengan melihat bentuk dan jejaknya kita baru bisa mengetahui kalau benda itu ternyata kayu. Mungkin itu tempat yang mengecewakan bagi penjelajah pada 1960 silam. Awalnya mereka pikir bisa menemukan kayu-kayu itu, tapi lebih baik ada daripada tidak sama sekali dan meski sudah hancur sekalipun.

Ditilik dari tengah objek itu bisa disaksikan dengan jelas bekas tanah longsor, dan jelas objek itu tergelincir lebih dari satu mil jauhnya dari lokasi semula. Menurut geographer, objek itu semula berada di ketinggian 1000 kaki di atas gunung 1.000 kaki tinggi, dan ditutupi oleh lapisan kerak lumpur. Menurut mereka, bahwa gempa bumi yang terjadi pada1948 silam itu telah menghancurkan lapisan lumpur-lumpur yang mengeras dan membuat struktur itu mencuat ke atas. Dan ini telah dikonfirmasi kepada kami dari penduduk setempat yang “tiba-tiba muncul” di sana ketika itu.

Keterangan gambar: Ditilik dari tengah objek itu bisa disaksikan dengan jelas bekas tanah longsor. (Foto internet)

Menurut catatan tentang Bahtera Nuh dalam alkitab, kapal itu memiliki 6 tingkat. Bentuk kapal yang kita asumsikan itu identik dengan bentuknya yang cembung di tengah kapal. Kita akan segera melihat, struktur kapal yang dipindai radar itu membuktikan bahwa bagian-bagian yang timbul itu adalah puing-puing dari tingkat yang runtuh itu.

Meskipun sebagian besar orang menduga bentuk kapal itu adalah persegi panjang, tapi itu hanya cocok untuk menggambarkan dek paling atas. Bodi kapal yang halus mengkilap itu mutlak bagi kapal raksasa tersebut untuk menjaga keseimbangan di atas air dan terjangan gelombang.

Hasil scan radar Ron Wyatt dari tim pencitraan SIR menunjukan bahwa struktur (objek) itu berada di bawah tanah. Bentuk simetris dan tata letak-nya yang logis dari objek itu jelas menunjukkan kalau struktur itu adalah hasil buatan manusia. Dan tidak tertutup kemungkinan dari sebagian besar struktur maupun tata letaknya menunjukkan itu adalah Bahtera Nuh. (joni/rmat)

 

Share

Video Popular