Keterangan gambar: Konghucu

Dalam karyanya yang berjudul “Peraturan untuk Murid”, Konghucu telah menguraikan secara rinci tentang bagaimana berbakti terhadap orang tua, dan ini terhadap kita sebagai orang-orang di zaman sekarang, khususnya anak-anak muda, adalah suatu yang sangat bermanfaat.

Seorang yang bajik dan adil serta baik, baik di rumah maupun di dalam masyarakat pasti seorang yang baik, memperlakukan orang dengan baik dan tulus, bakti terhadap orang tua, menyayangi anak-anak, hatinya ataupun pikirannya tiada keegoisan.

Taat adalah dasar kebudayaan Tiongkok, pepatah orang dahulu mengatakan, “Seratus kebaikan, ketaatan yang utama”. Seseorang, apabila tidak berbakti dan menghormati orang tuanya, dianggap sebagai “pendurhakaan”. Saat ini, sering kali kita mendengar atau melihat, baik sastra dalam film atau dalam kehidupan nyata, acap kali ada pembalasan budi terhadap orang tua, “Mengapa melahirkan aku?”

Sebenarnya, seperti yang dikatakan orang-orang “pembalasan berganti dari baik dan jahat”, nasib malang manusia, semuanya dikarenakan telah berbuat yang tidak baik tidak bermoral pada kehidupan dahulu, di kehidupan berikutnya ia baru mengalami nasib malang, untuk membayar utang yang ditinggalkan ketika berbuat jahat dahulu. Saling membalas dengan kejahatan, hanya bisa mendatangkan kesengsaraan yang semakin banyak pada diri sendiri. Jika semua orang bisa menjaga moralitas dan tata krama, baik sebagai orang tua anak-anak, atau sebagai anak-anak dari orang tua, dari yang kecil di dalam sebuah keluarga, hingga yang besar sebuah masyarakat, semuanya akan sangat selaras.

Dalam ajaran terhadap murid-muridnya, Konghucu telah menjelaskan tentang bagaimana bersikap santun terhadap orang tua dalam kehidupan sehari-hari, ketika orang tua melakukan kesalahan, bagaimana selayaknya menunjukkan kesalahannya, dan lain sebagainya.

Di rumah, ketika orang tua berteriak memanggil kita, seyogianya segera menyahut, jangan bertele-tele. Segera laksanakan, apabila ada suatu hal yang harus kita kerjakan dari orang tua, jangan sengaja menundanya, atau bermalas-malasan. Saat orang tua menginginkan kita belajar baik dan memberi pengarahan pada kita, harus bersikap hormat dan tidak boleh semena-mena, harus menyimak baik-baik setiap perkataan orang tua. Apabila kita telah berbuat salah, orang tua menyalahkan kita, seyogianya dituruti dan menanggung segala akibat kesalahan itu, tidak boleh durhaka terhadap mereka, membuat mereka sedih. Sebagai anak, pada musim dingin harus memperhatikan apakah pakaian yang dikenakan orang tua cukup hangat, demikian juga dengan tempat tinggal apakah hangat.

Pada musim panas, harus memikirkan apakah orang tua merasa nyaman. Setiap bangun pagi, harus melihat-lihat orang tua, menanyakan apakah sehat-sehat saja; setelah pulang malam, harus memberi salam pada orang tua. Saat keluar, beritahu dulu pada orang tua hendak ke mana, setelah pulang kembali ke rumah, harus menemui orang tua, agar mereka merasa lega. Waktu istirahat dalam kehidupan sehari-hari memiliki prosedur yang pasti, lagi pula terhadap segala hal yang dikerjakan, tidak mengubahnya dengan semena-mena.

Masalahnya, meskipun kecil, jangan bertindak atas kemauan sendiri, dan tidak memberitahu pada orang tua, seandainya bertindak sesuka hati, maka akan merugikan kewajiban sebagai anak, meskipun sesuatu yang kecil, jangan menyembunyikannya secara diam-diam tanpa sepengetahuan orang tua, jika diketahui orang tua, perasaan hati orang tua pasti sangat sedih. Sesuatu yang disukai orang tua, sebagai anak seyogianya berusaha memenuhinya, dan sebaliknya sesuatu yang tidak disukai orang tua, seyogianya dikesampingkan. Seandainya tubuh kita mendapat luka, pasti akan menimbulkan kecemasan orang tua, jika kepribadian kita merosot, bisa membuat orang tua merasa malu. Orang tua menyayangi anak-anaknya, dan anak-anak bisa berbakti terhadap orang tua, itu adalah suatu hal yang sangat alami, pembaktian seperti ini apalah sulitnya? Seandainya orang tua benci pada kita, namun masih tetap bisa berbakti dengan sepenuh hati, itu baru patut dipuji.

Pada umumnya, orang selalu beranggapan, bahwa setelah ada pengorbanan orang tua untuk anak-anaknya, anak-anak baru mau melaksanakan kewajibannya untuk berbakti, dan ini, dengan proses tawar-menawar di pasar apakah ada bedanya?

Jika orang tua melakukan kesalahan, sebagai anak harus menasihati supaya memperbaikinya dan saat memberi nasihat, jangan sekali-kali bermuka masam atau dengan suara nada yang tajam, ekspresi wajah harus lembut dan ceria, setiap kata harus lembut dan ramah. Seandainya orang tua tidak menerima nasihat dari kita, maka harus menunggu saat orang tua lagi bersuka cita baru dinasihati lagi. Namun, jika orang tua tetap keras kepala tidak mau mendengar nasihat kita, orang yang berbakti tidak tega jika orang tua terperosok ke dalam kesalahan, bahkan dengan tangisan, untuk memohon agar orang tua memperbaiki kesalahannya, meskipun harus mendapat kecaman atau pukulan orang tua juga tidak akan mengeluh sedikit pun. (Minghui/rmat)

Share

Video Popular