JAKARTA – Serangan kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan telah menyebar luas.  Sebaran asap yang sudah menyebar ke Pulau Jawa. Lalu mengapa sebaran asap sudah masuk ke Pulau Jawa? ini sangat tergantung pada arah angin termasuk Jakarta.

Berdasarkan pantauan satelit Himawari dari BMKG pada Minggu (25/10/2015) pukul 08.30 WIB, lebih dari tiga per empat wilayah Indonesia tertutup asap tipis hingga tebal. “Hanya Jawa Tengah, DIY, sebagian Jawa Timur, NTT, Sulut, Maluku Utara dan bagian utara Papua saja yang tidak tertutup asap,” kata Kepala Pusat Data dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta, Senin (26/10/2015).

Dia menjelaskan asap tebal masih mengepung beberapa daerah. Pada pukul 09.00 WIB, jarak pandang  di Padang 200 meter berasap, Pekanbaru 1.000 meter berasap, Jambi  900 meter berasap, Palembang 200 m berasap, Pontianak 800 m berasap, Ketapang 200 m berasap, Palangkaraya 100 m berasap, dan Banjarmasin 400 m berasap.

Catatan BNPB, pasokan asap dari hotspot juga masih besar. Hotspot pantauan satelit Terra & Aqua pada Minggu pagi ada 1.187 hotpsot. Kualitas udara (PM10) di Pekanbaru 570 berbahaya,  Jambi 518 Berbahaya, Palembang 325 Sangat Tidak Sehat, Pontianak 169 Tidak Sehat, Banjarbaru 73 Sedang, Samarinda 147 Sedang, dan Palangkaraya 1.511 Berbahaya.

“Hampir dua bulan lamanya warga di Riau, Jambi dan Palangkaraya terkepung asap level Berbahaya,” ujar Sutopo.

Sementara asap tipis yang menutup langit Jakarta sudah berlangsung sejak Jumat (23/10/2015) hingga sekarang. Partikel halus dari asap tipis ini melayang di atmosfer pada ketinggian sekitar 1.000-3.000 meter.

Pada pagi hari kelihatan lebih tebal karena bercampur dengan kabut atau uap air. Masyarakat tidak ada yang perlu khawatir dengan adanya sebaran asap tipis dari kebakaran hutan dan lahan tersebut. Sifatnya temporer, yang mudah berubah setiap saat tergantung pada arah dan kecepatan angin.

“Kualitas udara di Jakarta saat ini masih normal hingga sedang,” pungkas Sutopo. (asr)

Share

Video Popular