Keterangan gambar: Saat tergali, tampak jelas sebuah paku keling bulat bekas dipalu. (gambar internet)

Oleh: Ye Yu-huan

Ron Wyatt menemukan sebuah lubang terbuka di lambung kanan kapal dengan menggunakan GPR. Dan dengan menggunakan bor buatan sementara, ia mengambil sampel inti (pemboran) di dalam lubang tersebut dan menemukan beberapa benda yang sangat menarik. Di bawah ini Anda akan melihat artefak prasejarah yang dikirim ke laboratorium untuk analisis. Keterangan gambar dari kiri ke kanan di bawah ini adalah sebuah lubang pengeboran, selanjutnya adalah kotoran hewan yang sudah mengalami proses petrifikasi (membatu), sebuah antler (tanduk rusa tanduk rusa jantan yang baru tumbuh dan belum berubah menjadi tulang keras), dan terakhir adalah seikat bulu kucing.

Mungkin temuan paling penting di atas Bahtera Nuh itu sendiri adalah tak lebih dari pada sebatang kayu besar yang telah membatu. Ketika pertama kali ditemukan, sepertinya ia hanya dianggap sebatang balok besar. Tapi studi terbaru menunjukkan bahwa itu sebenarnya adalah papan tiga lapis yang dilekatkan dengan suatu lem organik! Dan teknik penjepitan (papan) ini tidak ada bedanya dengan teknik modern.

Perlapisan/ laminasi membuat bobot total yang mampu di topang papan-papan itu jauh lebih besar daripada penyatuan/ perlapisan sederhana. Ini berarti bahwa tingkat pengetahuan dalam hal konstruksi zaman dulu itu jauh melampaui daripada yang kita kenal sebelumnya

Keterangan gambar: Artefak prasejarah yang ditemukan di atas kapal (bahtera nuh) (network pic)

Dalam Kitab Kejadian 6:14, Tuhan menyuruh Nuh membuat sebuah bahtera dari kayu gofir. “Bahtera itu harus kau buat berpetak-petak dan harus kau tutup dengan pakal dari luar dan dari dalam.”

Kita suka membayangkan bahwa manusia itu berevolusi dari sebuah era yang bersih serta teratur, dan setiap teknologi yang diberi nama itu juga sudah ditemukan. Kita memiliki Zaman Batu (orang-orang zaman itu mulai menggunakan busur dan panah serta peralatan batu), Zaman Perunggu (zaman logam yang dipadukan dan pembakaran untuk membuat peralatan dan barang keperluan sehari-hari), dan terakhir masuk ke Zaman Besi (zaman pembakaran bijih besi, lalu diberi tambahan material lain, seperti misalnya arang yang digunakan untuk memperkuat produk besi dan baja).

Temuan yang paling mengejutkan adalah detector logam yang ekstra sensitif. Beberapa kali tim memukul dengan kuat, dan ketika digali, yang tampak terlihat adalah sebuah rivet (paku keling) bundar. Dari pengamatan yang sederhana atas logam itu, tampak jelas bekas pukulan (palu) pada paku keling yang ditancapkan ke sebuah lubang.

Jika Anda tidak memiliki kesan apapun terkait paku keeling yang digunakan untuk bangunan, maka temuan ini dipastikan akan memberi anda kesan yang dalam.

Dari hasil analisis terkait material logam yang digunakan untuk membuat paku keling menunjukkan bahwa mereka (logam) mengandung 8.38% besi, 8.35% aluminium dan 1.59% kombinasi titanium. Dan sekadar catatan, kita tidak bisa menunjukkan perbandingan kandungan yang tepat di antara logam-logam bawaan tersebut.

Kita tahu, di antara beberapa aluminium itu mengandung campuran logam, karena di alam, logam alumunium tidak terdapat dalam keadaan bebas tetapi terdapat dalam senyawa oksidanya. Artinya, ini adalah pengetahuan yang sangat canggih secara metalurgi dan rekayasa. Karakteristik dari paduan besi – alumunium merupakan hasil studi Russian Chemical Bulletin (2005) yang menjelaskan bahwa alumite yang terbentuk dari lapisan logam itu untuk melindungi material agar tidak berkarat dan korosi. Dan dengan tambahan titanium bisa memperkuat logam lebih lanjut. Dan ini tampaknya berhasil dilakukan oleh orang-orang zaman dulu. (Screetchina/joni/rmat)

Tamat

Share

Video Popular