Suasana diskusi dan bedah buku Revolusi Pancasila karya Yudi Latif

JAKARTA – Revolusi berangkat dari krisis multidimensi yang mengancam hingga kemudian dibutuhkan jalan keluar menjawab “biang penyakit” merajalela.  Revolusi Pancasila hadir dengan menawarkan kepada konsep manusia bebas dari penjara materialisme.  Tak seperti Revolusi Prancis dan Rusia yang menekankan pada materialisme.

Hal demikian diungkap dalam seminar dan bedah buku “Revolusi Pancasila” karya Yudi Latif selaku Ketua Harian Pusat Studi Pancasila, Universitas Pancasila di Jakarta Convention Center, Selasa (27/10/2015). Hadir sebagai pembicara kunci, Presiden Republik Indonesia ke-5 Megawati Soekarno Putri.

Penulis buku dalam karyanya menyatakan Revolusi Pancasila bukan revolusi proletar melainkan revolusi kemanusiaan yang seirama dengan tuntutan budi nurani kemanusiaan. Tuntutan itu bermula dari kodrat kemanusiaan sebagai makhluk religius yang berprikemanusiaan, makhluk sosial dan individual. Sifat kemanusian yang kodrati menghendaki wewujudkan keadilan sosial, kemerdekaan kolektif dan kemerdekaan individu.

Sebagaimana pendekatan nilai-nilai Pancasila, revolusi politikal diarahkan untuk menciptakan agen perubahan dalam bentuk konsentrasi kekuatan nasional melalui demokrasi permusyawaratan berorientasi persatuan. Termasuk dalam aspek ekonomi lebih berorientasi kepada keadilan sosial melalui pemerataan kesempatan dan jaminan sosial menuju kesejahteraan Indonesia.

Sementara Cendikiawan Muslim, Komarudin Hidayat mengatakan bentuk ideologisasi bangsa Indonesia melalui Pancasila sudah sangat mengakar pada elemen bangsa Indonesia. Apalagi keberadaannya turut diperjuangkan berbagai elemen bangsa seperti NU dan Muhamadiyah. Hingga bisa dikatakan, Pancasila memiliki kesuksesan ideologi yang mengakar serta tidak terlepas gerakan kebangsaan.

Menurut Komarudin, walaupun pada kenyataannya Indonesia dikenal sebagai bangsa plural dan pancasilais, namun terkadang masih belum terekat dengan seutuhanya dalam elemen bangsa. Oleh karena itu, Revolusi Panasila harus ditopang dengan Revolusi Kependidikan agar Pancasila menjadi akar tunggal bangsa Indonesia. “Kalau tidak diisi Pancasila akan melepas etnis dan tidak menjadi indonesia, jika ruh Pancasila terabaikan,” tuturnya.

Pakar Filsafat dan dosen Sekolah Tinggi Filsafat Drijarkara, Jakarta, Herry Priyono menegaskan Pancasila adalah daya bahasa dalam pembentukan Indonesia. Tanpa pancasila tidak ada Indonesia walaupun rezim sebelumnya seperti Orde baru berniat baik tetapi melakukan pemaksaan dan membunuh Pancasila.

Menurut dia,  benar atau salahnya bangsa Indonesia  tergantung kepada Pancasila walaupun keberadaannya  pernah dibusukan. Hingga kemudian dibutuhkan keseriusan untuk kebangkitan pancasila dari pada keterpurukan. “Pancasila adalah kriteria validitas Indonesia. Pancasila kriteria benar salahnya suatu kebijakan. Pancasila kriteria baik buruknya perilaku,” tuturnya. (Muhamad Asari)

Share

Video Popular