Beberapa dekade lalu di Washington, DC, suatu malam di musim dingin, seorang istri pengusaha tak sengaja menjatuhkan tas di sebuah rumah sakit.

Pengusaha itu sangat khawatir dan pergi keluar untuk mencarinya malam itu juga. Tas tidak hanya berisi uang sekitar 100 000 dollar AS, tetapi juga sebuah dokumen penting bagi perusahaannya.

Begitu sampai di rumah sakit, ia melihat seorang gadis kurus berjongkok di samping dinding lorong. Badan anak kecil itu gemetar kedinginan, dan di lengannya ia mendekap sebuah tas yang sedang ia cari-cari.

Nama gadis itu adalah Hiada dan dia berada di rumah sakit untuk menemani ibunya yang sedang sakit. Ibu dan anak itu saling bergantung satu sama lain untuk bertahan hidup. Mereka sangat miskin sehingga menjual segala sesuatu yang bisa dijual untuk biaya tinggal di rumah sakit selama satu malam. Tanpa uang yang tersisa, mereka akan diusir dari rumah sakit pada hari berikutnya.

Malam itu, Hiada berjalan mondar-mandir di lorong rumah sakit hampir putus asa. Dia berdoa kepada Sang Pencipta dan berharap untuk bertemu orang yang baik hati yang akan membantu menyelamatkan ibunya. Tiba-tiba, seorang wanita turun dari lantai atas dan tasnya jatuh tanpa ia sadari, mungkin karena dia membawa hal-hal lain di bawah lengannya juga. Wanita itu bergegas melewati lorong. Hiada adalah satu-satunya orang di lorong pada waktu itu, dan dia memungut tas yang terjatuh. Ketika ia berlari keluar pintu belakang mengejar pemilik tas itu, wanita itu sudah pergi dengan sebuah mobil.

Hiada kembali ke ruang rumah sakit. Ketika dia membuka tas, ibu dan gadis kecil itu terkejut dengan bundelan uang yang ada di dompet. Mereka tahu bahwa saat itu uang tersebut bisa memberi harapan bagi sang ibu. Namun, ibu Hiada meminta anaknya untuk kembali ke lorong dan menunggu pemilik datang kembali untuk mengambil barangnya.

Meskipun dengan upaya terbaik, pengusaha tidak berhasil menyelamatkan nyawa sang ibu. Kemudian, pengusaha mengadopsi gadis yatim piatu ini. Ibu dan anak ini tidak hanya membantu pengusaha mendapatkan uang 100 000 dolla AS, kembali, tetapi hal yang lebih penting adalah dokumen perusahaan membuat usahanya sangat sukses dan menjadikannya seorang miliuner tidak lama setelah itu.

Setelah menyelesaikan kuliah, Hiada yang diadopsi oleh pengusaha, membantu miliuner ini mengurus bisnisnya. Meskipun Hiada tidak pernah ditunjuk secara langsung untuk memegang sebuah posisi, dengan berbagai kesempatan yang ia dapat, kebijaksanaan dan pengalaman dari miliuner memberi pengaruh bagi Hiada, menjadikannya seorang pengusaha yang matang.

Dalam tahun-tahun terakhirnya, sang miliuner meminta pendapat Hiada dalam berbagai masalah. Menjelang tutup usia, ia meninggalkan sebuah wasiat sebagai berikut:

“Sebelum saya mengenal Hiada dan ibunya, saya sudah punya banyak uang, tapi ketika saya berdiri di hadapan ibu dan gadis yang menemukan jumlah uang tak terbayangkan ini, meski dalam keadaan sakit dan kemiskinan, namun mereka tidak memasukkannya ke dalam saku mereka sendiri, saya menemukan bahwa mereka adalah orang yang paling kaya.

Mereka menjaga standar tertinggi sebagai manusia. Ini adalah apa yang tidak saya miliki sebagai seorang pengusaha. Uang saya hampir semua datang dari tipu daya dan pertarungan dengan orang lain. Merekalah yang membuat saya memahami bahwa yang paling penting untuk dimiliki dalam hidup adalah perilaku baik dan moral. Saya mengadopsi Hiada bukan untuk berterima kasih atau mendapat simpati. Sebaliknya, saya memandang dia sebagai teladan untuk menjadi manusia.

Dengan adanya dia di samping saya, saya akan ingat dengan jernih setiap saat, apa yang layak saya lakukan dan apa yang tidak layak untuk saya lakukan, cara apa yang pantas untuk mendapatkan uang, dan apa yang tidak pantas.

Ini adalah alasan mendasar bagi bisnis saya untuk menjadi berkembang dan kemudian menjadi seorang miliuner. Setelah kematian saya, saya mewariskan semua jutaan dollar aset saya untuk diwarisi oleh Hiada.

Ini bukanlah pemberian, tetapi agar bisnis saya menjadi lebih sukses dan berkembang di kemudian hari. Saya sangat percaya bahwa anak saya yang berpendidikan akan memahami keputusan Ayahnya yang penuh pemikiran.”

Ketika anak sang miliuner yang tinggal di luar negeri pulang kembali, ia dengan teliti membaca wasiat ayahnya dan segera menandatangani perjanjian aset warisan tanpa ragu-ragu. Ia mengatakan, “Saya setuju dengan Hiada mewarisi semua aset ayah saya. Saya hanya mengusulkan bahwa Hiada menjadi istri saya.”

Setelah melihat tanda tangan putra sang miliuner, Hiada berpikir sejenak dan kemudian menandatangani surat: “Saya menerima semua aset dari pendahulu, termasuk anaknya.”(Wid)

Share

Video Popular