Keterangan foto: Bank Sentral Tiongkok mengumumkan penyesuaian terhadap 2 patokan keuangan pada 23 Oktober. Ahli keuangan memprediksikan RMB akan mengalami depresiasi nilai yang lebih dalam. (Yu Gang/Epoch Times)

Oleh Liu Yi

Bank Sentral Tiongkok pada Jumat (23/10/2015) lalu mengumumkan penyesuaian menurunkan suku bunga acuan dan rasio kecukupan modal bagi perbankan. Para ahli memprediksikan bahwa depresiasi nilai tukar Renminbi (RMB) yang lebih besar bakal terjadi dalam beberapa bulan ke depan, mungkin mencapai RMB. 7.75 = USD.1.00

Setelah Bank Sentral mengumumkan penurunan 2 patokan keuangan, para spekulan memprediksikan nilai tukar RMB akan mengalami depresiasi yang lebih dalam. ‘Laohucaijing’ (situs analisa keuangan) mengutip laporan media Bloomberg pada Selasa (27/10/2015) memberitakan bahwa para analis keuangan luar juga memprediksikan, Bank Sentral Tiongkok bisa mendepresiasi lebih lanjut nilai tukarnya sebelum akhir bulan Juli tahun depan.

Ahli strategi keuangan Commonwealth Bank of Australia, Andy Ji mengatakan, apalagi kalau Bank Sentral Tiongkok nantinya jadi menerapkan Pelonggaran Kuantitatif (QE), maka dipastikan nilai RMB akan lebih lemah. Saat ini, penyusutan RMB belum melebihi besarnya penyusutan nilai tukar mata uang negara lainnya, sehingga, apresiasi nilai nyata yang rendah bisa melemahkan fungsi QE, terutama saat sekarang Tiongkok sedang terperangkap dalam masalah perputaran uang.

Direktur penelitian pasar modal Rabobank (Hongkong), Michael Every menjelaskan sebelum Bank Sentral Tiongkok mengumumkan penurunan 2 patokan, salah satu alasan RMB didevaluasi adalah kinerja ekonomi yang buruk, nilai tukar yang ditetapkan tidak lentur, cadangan devisa terus menurun.

“Bila tidak dilakukan demikian, saya tidak melihat mereka memiliki cara lain untuk mengatasi dan merealisasikan keinginan RMB go internasional. Kinerja kuat RMB sekarang ini sebenarnya adalah buatan,” jelasnya.

Nilai tukar RMB terhadap USD sebelum akhir tahun ini diramalkan Rabobank bisa jatuh ke 6.6 – 6.8 bahkan 7.75 sampai akhir tahun depan.

Laporan mengatakan bahwa pada Jumat (23/10/2015) itu tingkat diskonto suku bunga dan nilai tukar berjangka 3 bulan yang dapat mencerminkan kekuatan nilai RMB di waktu mendatang sudah dipersempit sampai level terendah sejak 11 Agustus 2015. Selain itu, nilai tukar RMB terhadap USD di pasaran Hongkong jatuh ke level terendah sejak 1 bulan terakhir. Bahkan lebih rendah 0.7 % dari harga di pasaran luar negeri. Hal ini mengindikasikan bahwa pasar sedang ramai ‘membuang’ RMB.

Dana Moneter Internasional pada November akan mengumumkan apakah RMB dapat dimasukkan dalam keranjang SDR (Special Drawing Right). Sebelumnya, ada pengamat keuangan yang beranggapan bahwa pemerintah Tiongkok tidak akan membiarkan RMB mengalami depresiasi nilai yang besar, sehingga akan terus melakukan intervensi pasar. Beberapa analis percaya nilai tukar RMB akan ‘dipatok’ olen pemerintah pada angka 6.4

Tetapi Andu Ji lebih percaya bahwa Bank Sentral Tiongkok demi RMB bisa go internasional (masuk SDR), bisa memilih mengurangi intervensi, sehingga nilai tukar RMB diperkirakan masih akan menyusut 2.3 % hingga akhir tahun.

Ahli strategi valuta asing, investasi dan peneliti Credit Suisse (Singapura) Koon How Heng mengatakan, setelah pemerintah Tiongkok meluncurkan serangkaian tindakan untuk mencegah penjualan besar-besaran RMB, maka dakam jangka pendek ini RMB akan tetap stabil. Lagi pula pasar juga berharap RMB bisa masuk keranjang SDR. Meskipun demikian, akibat ekonomi Tiongkok yang melamban, penurunan nilai sekitar 3.1% bisa saja terjadi dalam setahun ke depan.

Ahli strategi valuta asing HSBC di Hongkong, Wang Ju mengatakan, “2-3 tahun mendatang ini masih merupakan tahun penuh kesulitan buat RMB. Dengan dilaksanakannya kebijakan moneter dan mulai dibebaskannya pengontrolan atas arus modal, menurut saya RMB masih akan tetap di bawah tekanan”.

Manager senior Value Partners, Gordon Ip mengatakan, “Kalau RMB mengulangi peristiwa 11 Agustus (devaluasi), maka dampak buruk pada sentimen pasar bisa terjadi, kredibilitas akan jatuh begitu juga harga obligasi Tiongkok”.

Untuk menghindari terus merosotnya nilai tukar RMB, pemerintah Tiongkok pada 11 Agustus 2015 silam, secara inisiatif menetapkan nilai tukar yang sudah didepresiasikan. Setelah itu, mengeluarkan isyarat bahwa devaluasi hanya terjadi sekali tidak akan berkelanjutan. Dalam rangka untuk menghilangkan dugaan buruk pasar terhadap devaluasi susulan, pemeriintah melakukan intervensi pasar melalui cadangan devisa mereka yang tebal. Sehingga guncangan RMB sementara ini bisa diatasi.

Bank Sentral Tiongkok pada 23 Oktober 2015 itu juga mengumumkan penurunan suku bunga acuan untuk keenam kalinya sejak November tahun lalu. Pasar global mulai khawatir terhadap pengulangan ‘peristiwa 11 Agustus’ yang mungkin akan kembali mengguncangkan pasar valuta asing dan saham dunia. Pembukaan bursa valas pada 26 Oktober 2015 menunjukkan nilai RMB lagi-lagi anjlok.

Ada pengamat keuangan yang berpendapat bahwa akibat tekanan berat pada ekonomi, Bank Sentral Tiongkok bisa saja menurunkan lagi patokan keuangan mereka pada tahun ini demi mempertahankan angka pertumbuhan. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular