Keterangan foto: Para demonstran dalam lautan warna oranye berkumpul di Independence Square Kiev-Ukraina pada 22 November 2004. (wikipedia)

Oleh: Yang Guang

Revolusi warna telah mengubah wajah dari revolusi tradisional

Sebenarnya ciri yang paling menonjol perbedaan revolusi warna dengan revolusi tradisional yang lalu ternyata bukan terletak pada warna, ada atau tidak dan seberapa banyak efektifitas revolusi dari bunga. Jika diperbandingkan kira-kira memiliki 4 karakteristik yang layak disebut:

1. Gerakan sosial pada dasarnya tanpa kekerasan yang relatif singkat- terutama gerakan protes di jalanan- menggantikan perjuangan bersenjata yang sudah bertahun-tahun dan berubah-ubah.

2. Kewarganegaraan yang tidak membedakan ras dan tingkatan menggantikan revolusi dahulu yang distandarisasi sebagai bercorak klas dan massa.

3. Tidak ada perencanaan matang dan mobilisasi dari partai revolusi atau revolusioner profesional, langsung dari gerakan protes warga yang meningkat secara otomatis.

4. Tidak ada petunjuk dari teori revolusioner yang besar dan mendalam, lebih-lebih tidak ada realisasi cita-cita besar Utopia yang menyesatkan pikiran orang, hanya menuntut nilai-nilai universal seperti kebebasan, HAM, supremasi hukum, konstitusional dan lain-lain yang berteori tidak begitu tinggi.

Empat poin diataslah letak ketrampilan bedah plastik revolusi warna yang telah mengubah wajah revolusi tempo dulu.

Jika harus berevolusi sebaiknya memilih revolusi warna

Tulisan ini tidak ingin membuat keputusan benar atau salah secara sederhana terhadap revolusi warna, karena dalam kenyataan penyebab dari revolusi warna dari berbagai negara walaupun mirip akan tetapi proses dan hasil akhirnya memiliki kelebihan masing-masing, belum tentu sesuai sepenuhnya dengan harapan, keadaan ekonomi dan politik setelah revolusi juga tidak sama. Ada juga yang muncul kemujizatan perkembangan, juga ada yang terjerumus ke dalam lumpur politik. Tetapi tidak peduli bagaimanapun juga jika kita berdiri di sudut yang agak revolusioner, yang bisa dipastikan adalah, tidak peduli revolusi warna itu berhasil atau tidak, periodik kekacauannya lebih pendek dibandingkan dengan revolusi kekerasan tradisional, dengan pengorbanan sosial lebih kecil, maka dari itu jika harus berevolusi sebaiknya memilih revolusi warna.

Ada satu kesamaan bagi negara-negara yang terjadi revolusi warna yakni sistem politik lain di luar lain di dalam, tidak sesuai dengan kenyataan, legitimasi system kontradiktif muncul krisis legitimasi serius. Negara CIS pada saat melepaskan diri dari Uni-Soviet dan meraih kemerdekaan, semuanya berkomitmen kepada rakyatnya akan mendirikan negara demokrasi. Mereka kebanyakan menulis hitam di atas putih tentang sistem pemilu, sistem parlementer, tiga kekuasaan independen dituliskan dalam undang-undang. Namun dalam kenyataan semua janji itu tinggal janji. Pemerintah mengontrol sumber daya, memonopoli media, mengendalikan pemilu, memantau warga, menindas pihak oposisi dan berbagai cara ilegal untuk mempertahankan kekuasaan diktator, kekuasaan berada dalam tangan diktator dalam jangka waktu panjang yang akrab dengan Rusia yang semula adalah pejabat partai komunis. Tapi tidak peduli bagaimanapun, walau itu adalah pemilu palsu, para diktator itu juga harus melewati lintasan pemilu, setiap kali menjelang pemilu, para oposisi cenderung aktif maka pemerintah akan menjadi sangat tegang, karena pemilu palsu tidak akan terhindar pasti ada saatnya terbongkar, maka dari itu kegiatan menciptakan situasi pemilu dari Negara CIS acapkali jika tidak berhati-hati akan berubah menjadi sarang dari revolusi warna.

Sebab dari gerakan “Musim semi Arab” bisa maju pesat bagai badai di negeri presidensial dan berdampak kecil bagi negara monarki sebabnya terletak pada para pemimpin negara-negara presidensial yang memiliki nama presidensial kosong sebenarnya mereka semua berencana menjadi presiden seumur hidup yang memiliki kekuasaan tidak terbatas, bukan monarki tetapi melebihi monarki, bukan hanya kekuasaannya saja yang lebih besar dari monarki, perilaku kekuasaannya juga jauh lebih kasar dari monarki. Jika mempunyai sedikit kemungkinan, maka mereka masih berencana mewariskan jabatan presiden palsu ini turun-temurun. Sebagai contoh dua tahun belakangan ini Presiden Assad yang babak belur adalah anak yang mewarisi jabatan ayahnya.

Tapi yang tidak baik adalah dalam reputasi, dan dalam hukum, para diktator tersebut menyandang sebutan-juga mau tak mau harus disebut- mereka naik ke atas panggung mengandalkan ‘pemilu’, juga semuanya benar-benar mempunyai rumusan pemilu dan ada masa jabatan yang tetap. Fenomena politik yang tidak sesuai dengan kenyataan ini telah menyediakan alasan yang cukup dan peluang hukum bagi para demonstran untuk merobek system palsu dan berjalan menuju revolusi yang sebenarnya.

Negara-negara yang melaksanakan demokrasi palsu, pemilu palsu, sistem presidensial palsu adalah sangat normal dan masuk akal jika terjadi revolusi warna. Penyebab dari revolusi warna adalah internal sebagai penyebab utama, penyebab dari luar sebagai sekunder, tidak seperti apa yang dikecam dan dimaki oleh corong Partai Komunis Tiongkok (PKT) “Harian Rakyat” dan kantor Xinhua, yang mengatakan dikarenakan oleh “Kekuatan musuh Barat” atau ‘Provokasi’ dari ‘Pemerintah AS’, lebih-lebih bukan seperti yang dikatakan oleh kantor Xinhua adalah ‘kekejian’, ‘kekejaman’, ‘kekotoran’.

Bahkan boleh dikatakan, bagi negara yang sistem politiknya ditakdirkan harus diubah, jika tidak diubah tidak cukup untuk membenarkan diri, sebenarnya revolusi warna adalah semacam keberuntungan. Negara-negara CIS seperti Rusia, Kazakhstan, Belarus, Azerbaijan, Turkmenistan, presiden berulang-ulang terpilih lagi, pemilu sama sekali berubah rasa sebenarnya sudah terbentuk atau sedang terbentuk sistem presidensial otokratis seumur hidup, Belarus, Azerbaijan, Turkmenistan dan lain-lain negara bahkan kain penutup malu kepalsuan republik demokratis juga berencana tidak mau digunakan lagi. Terhadap tindakan sewenang-wenang mencampakkan dan tidak mengakui revolusi warna, apa bisa mempunyai kebijakan penyelamatan sistem politik yang lebih tinggi dan piawai? (lin/whs/rmat)

TAMAT

Share

Video Popular