Keterangan gambar: Ilustrasi

Oleh Hai Ning

Sebuah survei terbaru menemukan, meskipun Tiongkok selama sekian tahun terakhir terus menabur uang kepada berbagai negara miskin dunia, tetapi pembuat kebijakan di negara-negara berkembang hanya sedikit yang mau percaya terhadap saran atau usulan Tiongkok.

Financial Times Inggris menyebutkan, dari laporan penelitian organisasi non pemerintah Amerika ‘AidData’ diketahui bahwa pemerintah Tiongkok antara tahun 2000 – 2013 telah menyalurkan berbagai bentuk bantuan kepada negara-negara Afrika yang secara akumulasi berjumlah sebesar USD. 95 miliar. Namun ketiga instansi Tiongkok yang digunakan sebagai penyalur bantuan yakni, China Development Bank (CDB), Exim Bank of China (EBC) dan Kedutaan Besar RRT (KBRRT), selalu terganggu oleh masalah sikap ketidakpercayaan dari negara-negara Afrika yang menerima investasi maupun bantuan mereka.

‘AidData’ melakukan survei terhadap pejabat berwenang dari 126 negara berpenghasilan rendah, termasuk 47 kepala negara dan hampir 250 orang menteri atau pejabat penanggungjawab wilayah. Hasil survei yang berkaitan dengan ‘Tingkat Kegunaan dari Usulan yang Diberikan’, CDB berada diurutan ke 75 dari 86 lembaga pembangun bilateral atau multilateral yang terlibat. EBC berada diurutan ke 59 dan KBRRT di 70.

Hasil survei yang berkaitan dengan ‘Pengaruh dari Agenda yang Diusulkan oleh Organisasi Asing terhadap Negara’, lembaga Tiongkok di luar negeri juga berada di ututan bawah, jauh dari lembaga bantuan dan pengembangan internasional lainnya seperti Bank Dunia, Dana Moneter Internasional serta Gavi, sebuah aliansi kesehatan swasta global yang berkomitmen untuk meningkatkan aksesnya dalam masalah imunisasi di negara miskin.

Tiongkok terus berusaha untuk menyaingi pengaruh Bank Dunia atau lembaga-lembaga bantuan Barat di negara berkembang. Survei terhadap validitas praktek Tiongkok menunjukkan efektifitasnya yang rendah. Selama 10 tahun terakhir, Amerika dan Inggris makin khawatir terhadap meningkatnya pengaruh Tiongkok di negara-negara berkembang sehingga menggeser lembaga donor tradisional. Namun eksekutif ‘AidData’ Brad Parks menanggapi hal ini dengan mengatakan bahwa ketakutan itu telah dibesar-besarkan.

Untuk waktu yang lama Tiongkok lebih dianggap berkeinginan untuk mencari keuntungan komersial daripada bertujuan amal di Afrika. Sementara itu, dalam urusan memberikan bantuan, Tiongkok tidak lupa untuk menyisipkan kepentingan komersial, lagi pula lebih senang melakukan investasi di bidang perkeretaapian atau membangun pelabuhan utama yang berhubungan langsung dengan perdagangan mereka.

Tiongkok lebih mempertimbangkan pengaruh politiknya di negara Afrika. ‘AidData’ dalam penelitian yang berbeda menemukan bahwa Tiongkok menyalurkan bantuan atau melakukan investasi di kampong halaman pemimpin berkuasa di negara Afrika yang besarnya rata-rata bisa mencapai 4 kali lipat dari yang mereka lakukan di wilayah lain negara itu. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular