Pada masa Dinasti Ming, di kota Yangzhou ada seorang hartawan yang kaya dengan membuka toko kelontong. Ia memiliki seorang anak dan dua cucu, hidupnya sangat makmur.

Belakangan hartawan ini jatuh sakit. Ketika akan meninggal, ia mengeluarkan sebuah timbangan, berpesan pada sang anak yang menjaga di sisinya.

“Ini adalah siasat saya mencari uang! Di dalam tangkai timbangan ini adalah kosong, lagi pula berisi air raksa, jadi dalam jual beli tidak sedikit saya mendapatkan keuntungan, sekarang baru bisa memiliki begitu banyak harta. Kamu mesti baik-baik memanfaatkannya, ya!” Katanya.

Seusai mendengarnya, dalam hati si anak sangat terkejut, tidak disangka ayahnya sendiri ternyata melakukan hal yang sangat tidak bermoral. Namun, ayah dalam kondisi sakit berat, terpaksa bungkam tidak bersuara, tidak mau dalam kondisi demikian berdebat dengan ayah.

Setelah ayahnya meninggal dunia, anaknya kemudian menghancurkan timbangan itu, dan berusaha berbuat baik, menolong orang yang hidup susah, untuk menebus kesalahan dan dosa ayahnya.

Dengan demikian tulusnya ia berbuat baik, hingga tidak sampai 3 tahun, harta keluarga sudah habis separuhnya, namun bagi dirinya, itu malahan adalah kesukarelaan hati.

Tetapi, tak disangka kedua anaknya yang masih kecil malah berturut-turut meninggal dunia, dan ini membuatnya sangat pedih. Ia tidak habis mengerti, mengapa bisa terjadi hal demikian, dan sejak itu ia kerap kali mengeluh pada Sang Ilahi, berbuat baik tidak mendapatkan balasan baik.

Suatu malam hari, ia bermimpi, mimpi akan sebuah tempat, bentuknya sangat mirip dengan istana, bertemu dengan seorang pejabat istana, duduk di atas balairung, dan berkata di hadapannya.

“Ayahmu bisa menjadi kaya, adalah buah amalnya pada kehidupan dahulu. Dalam takdirnya ia memang memiliki kekayaan itu, sekalipun tanpa perlu mengandalkan timbangan air raksa itu; namun ia menaruh maksud yang tidak baik, menggunakan cara yang bejat ini, hingga menambah dosanya sendiri, karena sampai mati pun tidak bertaubat, sekarang sedang mendapat balasan pahitnya. Raja Langit tahu ia berniat tidak baik dan serakah, maka mengutus bintang perusak dan bintang pemboros reinkarnasi menjadi anakmu, untuk menghancurkan harta keluargamu. Setelah harta keluarga hancur, masih harus ditambah lagi dengan pembakaran. Dan kamu sendiri? Juga akan mendapat sisa-sisa bencana ayahmu, bukan saja kekurangan sandang pangan bahkan pendek usia. Ayahmu mengira dengan mewariskan demikian banyaknya harta keluarga untuk anak cucu, pasti bisa menikmati turun-temurun; namun mana ia tahu: Sang anak tidak bisa hidup lama, dan lahirnya sang cucu adalah untuk menghancurkan keluarga, kini untung saja kamu memiliki niat baik, selama 3 tahun dengan tulus berbuat baik, untuk membayar dan menebus dosa ayahmu, ini adalah hal yang langka, maka Sang Ilahi khusus memerintahkan saya membawa kembali kedua turunan pemboros ini, dan tidak lama lagi akan menurunkan anak yang berbudi, untuk kecemerlangan keturunanmu, dan memperpanjang usiamu. Kamu seyogianya terus membina kebaikanmu, jangan mengeluh bahwa raja Langit tidak adil.

Setelah ia siuman, tiba-tiba ia sadar dengan apa sebenarnya yang telah terjadi: “Oh, ternyata demikian!”

Sejak itu, ia semakin berbuat baik, dan belakangan ternyata istrinya memang melahirkan 2 anak sekaligus, lagi pula setelah dewasa lulus dalam ujian kerajaan tertinggi.

(Sumber: Minghui-school.com/ Disusun oleh: Xin Jing-jing, Ilustrasi: Wen Xuan, Ning Rufang)

Share
Tag: Kategori: Uncategorized

Video Popular