Alkisah, ada seorang dewa pada zaman dahulu kala yang bernama Wang Che Cung. Saat itu merupakan zaman perang pada masa dinasty Cow, di mana setiap negerinya saling berperang untuk menaklukkan lawan masing-masing. Pada saat para ahli perang merancang persatuan dan mengumandangkan buah pikiran mereka ke mana-mana, Wang Che Cung kebetulan tinggal di gunung. Dia menganggap sistem aksara yang diterapkan pada waktu itu tidak efisien dalam hal penulisannya dan juga tidak luas penggunaannya. Lagi pula orang-orang sangat sulit untuk mempelajarinya dalam waktu yang singkat. Pada waktu itu masalah tersebut sudah sangat serius, di mana segala sesuatu hal begitu mendesak, maka tulisan ataupun aksara sangat penting secara universal.

Setelah Kaisar Chin Se menyatukan seluruh negeri, dan menganggap bahwa Wang Che Cung telah berjasa menyatukan seluruh negeri melalui reformasi tulisan atau aksaranya, maka ia mengundangnya ke negeri Chin untuk menduduki suatu jabatan penting, akan tetapi ditolak oleh Wang Che Cung. Kaisar Chin pun menjadi marah setelah mengetahui penolakan tersebut, lalu memerintahkan utusan untuk memanggil Wang Che Cung ke negeri Chin.

“Aku telah menaklukkan setiap negeri Hou (China) dan menyatukan seluruh negeri, siapa yang berani tidak tunduk dan setia padaku! Wang Che Cung hanyalah seorang cendekiawan, berani-beraninya menolak perintah suci putra kayangan, benar-benar keterlaluan. Kali ini panggil dia ke mari, dan jika dia masih tidak datang juga, maka bunuh dia dan bawa kepalanya ke mari sebagai hukuman kedisiplinan agar supaya orang-orang sepertinya tidak berani lagi bertingkah angkuh dan memberontak!” kata Kaisar gusar.

Utusan kaisar tiba di gunung dan bertemu dengan Wang Che Cung lalu menyampaikan perintah panggilan dari Kaisar Chin Se, kemudian Wang Che Cung mengubah dirinya menjadi seekor burung besar lalu terbang. Utusan tersebut merasa kaget dan takut sambil berlutut mengatakan, “Jika kau begini caranya, bagaimana aku harus mempertanggungjawabkan di hadapan kaisar, dan sudah pasti kaisar akan membunuhku. Mohon dewa yang arif kasihanilah aku!”

Burung itu sengaja menjatuhkan tiga helai bulunya setelah berputar-putar di angksa, dan utusan tersebut kemudian mengambil tiga helai bulu tersebut untuk diserahkan kepada kaisar sebagai bukti tugas yang telah diembannya. Setelah mendengar bahwa Wang Che Cung telah berubah menjadi dewa, maka kaisar merasa menyesal sekali. Tempat Wang Che Cung berubah menjadi burung adalah di Gunung Luo yang berada di He Pei, dan masyarakat setempat selalu bersembahyang disana.

Sekali lagi sejarah tersebut menjelaskan bahwa huruf atau aksara dan kebudayaan Tiongkok pada zaman dahulu adalah untuk diwariskan atau diturunkan bagi umat manusia. Zaman prasejarah Tiongkok merupakan masyarakat setengah dewa dan setengah manusia. Dan semua ini merupakan suatu pengaturan dalam sejarah.

Share

Video Popular