Oleh: Dr. Frank Tian, Xie

Pada saat Presiden AS Obama menggelar pesta di Gedung Putih untuk menyambut kedatangan pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT), Xi Jinping, sebelum melangkah masuk ke ruang pesta, keduanya turun dari tangga, berlalu persis di depan lukisan potret mantan presiden AS Truman. Mungkin Obama tidak tahu menahu misteri dibaliknya, Xi Jinping sendiri juga tidak memperhatikan, karena lukisan potret di Gedung Putih terlalu banyak.

Tapi di RRT, terutama bagi kelompok masyarakat berusia paruh baya ke atas, nama Truman begitu terkenal dan diingat, karena Truman pernah meramalkan bahwa kekuasaan merah PKT akan berubah pada generasi ketiga atau keempat, dan hal ini diketahui masyarakat luas Tiongkok pada masa itu, serta sempat dikecam dan dikritik oleh media PKT. Pada kunjungan pemimpin generasi keempat PKT Xi Jinping ke AS kali ini, ramalan Truman itu mungkin akan segera menjadi kenyataan.

Dialog Xi dan Obama Kurang Perkembangan Nyata

Pembawa acara “Hot Interactive” bernama Fang Fei bertanya setelah berakhirnya kunjungan Xi ke AS, manfaat apa yang diperoleh RRT dari kunjungan ini. Jika ditelaah satu persatu, “hasil” kunjungan Xi ke AS kali ini tidak begitu banyak. Kebijakan “diplomatik buku cek” ala PKT, menghamburkan uang untuk membuka jalan, memberi janji bantuan dana, sudah sangat dimaklumi banyak pihak.

Tak terkecuali kunjungan kali ini, dengan pembelian 300 unit pesawat Boeing, tidak perlu lagi khawatir akan pertemuan Serikat Buruh Seattle dengan para tokoh pengusaha. Pemerintah PKT mengumumkan “49 hasil kunjungan” yang sangat birokratis dan dangkal. Masalah terbesar antara RRT dan AS sama sekali tidak ada perkembangan nyata; pihak asing tetap khawatir terhadap kondisi perekonomian RRT yang memprihatinkan.

Pertemuan Xi Jinping dengan Obama kali ini agak tergesa-gesa, dari benturan dalam hal waktu kunjungan dengan Sri Paus saja sudah bisa dinilai. Kunjungan Xi kali ini terjadi beberapa hari tumpang tindih dengan waktu kunjungan Sri Paus; media Barat umumnya berpendapat, Sri Paus telah merebut pamor Xi Jinping. Paus Fransiskus tiba di AS dari kunjungan ke Kuba, selama kunjungannya diliput penuh oleh media massa AS, baik presiden maupun wakil presiden beserta istri tiba di bandara menyambut kedatangan Paus, kebaktian Misa di Philadelphia menyedot hampir sejuta umat, Time Warner bahkan membuka saluran televisi khusus dan menayangkannya pada 15 juta penonton di seluruh AS.

Namun kunjungan Paus ke AS telah ditetapkan sejak setahun sebelumnya, sedangkan kunjungan Xi Jinping ke AS baru mulai dipersiapkan setengah tahun lalu. Jelas dalam hal ini akan ada orang di Kemenlu RRT yang akan dipecat karenanya. Antara RRT dengan Vatikan tidak ada hubungan diplomatik, saling tidak berkomunikasi, mungkin ini juga merupakan salah satu penyebabnya.

Kurang berhasilnya pertemuan Xi dan Obama juga terlihat dari tidak adanya pidato resmi menyampaikan pernyataan bersama seperti yang diharapkan orang banyak. Di RRT masalah ini paling diperhatikan, seperti negosiasi Kesepakatan Investasi RRT-AS (BIT), RMB bergabung dengan IMF dalam Special Drawing Rights (SDR), AS mendukung AIIB yang diprakarsai RRT dan lain-lain, kedua belah pihak tidak meraih perkembangan yang nyata.

Hal yang paling diperhatikan AS yakni keamanan internet, meski pertemuan Xi dan Obama ini telah mencapai kesepakatan awal, tapi kesepakatan itu pada dasarnya sama sekali tidak diterima oleh kalangan petinggi RRT maupun AS. Xi Jinping mengatakan, “Pemerintah RRT tidak akan ikut ambil bagian, atau memotivasi, atau mendukung siapa pun melakukan tindakan pencurian rahasia dagang dalam bentuk apa pun.”

Disinilah letak permasalahannya, bagi pemerintah RRT, segala informasi, termasuk politik, dagang, dan militer, semua adalah rahasia negara. Jika AS dan RRT harus saling menghentikan mendapatkan rahasia dari internet, itu sama saja dengan menyuruh negara-negara besar untuk menghentikan kegiatan mata-mata, dan di tengah masyarakat modern ini, dengan kondisi moral masyarakat sedemikian rupa, hal ini sama sekali tidak mungkin terlaksana. Direktur Intelijensi Nasional AS, James Robert Clapper, Jr. dengan lugas mengatakan, dirinya sama sekali tidak optimis terhadap kesepakatan yang dicapai AS-RRT untuk tidak melakukan dan tidak mendukung kegiatan mata-mata ekonomi lewat internet.

Kekhawatiran kalangan bisnis di AS adalah, pihak RRT memaksa mereka mengalihkan teknologi milik AS agar bisa memasuki pasar RRT, dan rahasia dagang mereka terus menerus dicuri, masalah seperti ini tidak selesai walaupun dengan adanya dialog Xi dan Obama. Kerjasama seperti Microsoft dengan Xiaomi, Intelligent Cloud Platform dari Microsoft yang diluncurkan lewat “Mi Cloud Service”, atau kesepakatan antara Baidu dengan Microsoft agar Baidu menjadi mesin pencari dan halaman utama yang diakui Microsoft Edge di RRT, software taxi kerjasama dengan Lyft dari AS, serta kerjasama kedua pihak mengembangkan layanan Cloud, pasar Cloud dan lain-lain, semua itu bukan hal yang benar-benar dibutuhkan oleh sektor bisnis AS.

Pihak luar membandingkan kunjungan Xi Jinping ke AS dengan kunjungan Deng Xiaoping dulu. Mungkin, memang ada hal yang layak untuk dibandingkan. Saat Deng berkunjung ke AS, sepulangnya dari AS Perang Vietnam pun dimulai. Kali ini Xi berkunjung ke AS, sepulangnya dari AS tidak tertutup kemungkinan akan kembali membuat onar dengan Vietnam di Laut Selatan. RRT tidak mungkin berseteru di Laut Timur dengan sekutu AS yakni Jepang, juga tidak begitu memungkinkan untuk bentrok di Laut Selatan dengan sekutu AS Filipina, satu-satunya yang bisa diserang hanyalah sekutu sesama komunisnya, yakni Vietnam, toh Amerika tidak akan membantu Vietnam. Kali ini, AS sudah ditembusi, juga telah setuju, mungkin akan segera angkat senjata.

Sepertinya antara RRT dengan AS hampir tidak ada hasil nyata sama sekali, lalu mengapa setengah tahun lalu Xi Jinping memutuskan untuk berkunjung ke AS?

Sepertinya Xi bukan tipe orang yang suka melakukan hal-hal yang bersifat formalitas semata, juga tidak punya kebiasaan pamer menjadi sorotan publik internasional. Maka dari itu, tujuan sebenarnya dari pertemuannya dengan Obama secara empat mata pasti tidak boleh diketahui oleh publik, pasti ada rahasia “tak terungkap” di balik itu. Apa rahasia itu? Jika kita melihat kembali gebrakan Xi sejak menjabat, sebenarnya dalam gerakan anti-korupsi itu telah menyingkirkan hampir seluruh mekanisme dari beberapa generasi mantan pemimpin tertinggi PKT terdahulu, maka tidak sulit untuk melihat bahwa Xi adalah penggali kubur PKT yang sangat gigih!

Apakah Xi Jinping sendiri menyadari hal ini? Mungkin Xi telah sadar tapi mungkin juga tidak menyadarinya. Karena jika takdir mengatakan PKT akan runtuh, di bawah kehendak takdir, Xi seolah menjadi tokoh yang sedang berusaha keras “menumpas korupsi melindungi partai”, tapi sebenarnya sedang “menunaikan tugas dari Langit”. Proses ini persis seperti yang diramalkan oleh mantan presiden AS yang ke-33 yakni Harry S. Truman.

Mengenai topik yang diperdebatkan, pada dasarnya baik AS maupun RRT masing-masing menyatakan sikapnya, persis seperti masalah RRT-Taiwan, masing-masing berpegang pada prinsipnya. Tapi sikap seperti ini sebenarnya menandakan diawalinya suatu era baru, menandakan terompet perang antara kedua kubu telah dibunyikan. Tentu saja perang ini adalah antara dunia bebas dengan kubu terakhir komunis yakni PKT, lalu apa peran yang dimainkan oleh Xi Jinping?

Kita masih belum tahu akan hal itu. Karena Xi Jinping sangat berbeda dengan Hu Jintao, Xi mempunyai seorang putri lulusan Harvard University AS yang ikut serta dalam rombongan kunjungan tersebut, putri kandungnya bisa menterjemahkan, memudahkan Xi Jinping bisa bertukar pendapat secara langsung dengan Obama dalam kondisi yang benar-benar terjamin privasinya. Kondisi ini sangatlah berbeda dengan Hu Jintao dulu, karena Hu Jintao sama sekali tidak berkesempatan untuk berbicara langsung dengan presiden AS, jika isi hatinya diutarakan, maka penterjemahnya Li Zhaoxing yang merupakan antek Jiang Zemin akan segera memasuki ruangan dan campur tangan langsung.

Media asing yang pro-PKT juga menyadari adanya keanehan situasi internasional saat ini, dengan pertimbangan ingin membantu PKT diam-diam, situasi dunia dirasakan sangat tidak stabil. Yang terlihat seolah-olah RRT dan Rusia bersekutu melawan AS. Tapi situasi sebenarnya justru kemungkinan kebalikannya. Pertemuan antara Obama dan Xi Jinping di dalam ruangan rahasia persis menjelang Putin bersiap-siap menyerang Suriah dari udara mendukung Assad serta memukul kaum oposisi Suriah yang didukung oleh negara Barat. Dalam Rapat Besar PBB setelah itu, Obama bersikap dingin dan sinis pada Putin.

Di tengah hubungan multi-lateral yang aneh ini, meskipun RRT tetap menjaga sikap baik dengan Rusia, tapi ini mungkin justru merupakan awal dari bentrok yang bakal terjadi, dan akan menjadi awal bagi PKT untuk menjauhi sang “Beruang Kutub” dan mendekati Amerika. Kerjasama RRT dengan AS untuk pertama kalinya terjadi pada era tahun 70-an, kali ini mungkin akan terulang kembali. Namun akankah kerjasama kali ini bisa terwujud sangat tergantung pada apakah Xi Jinping mampu mengamankan situasi di dalam negeri, mampu menguasai situasi politik dan ekonomi di RRT. Apapun hasil akhirnya, seluruh pengamat sepakat, perubahan raksasa RRT dan dunia sedang mendekat selangkah demi selangkah. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular