Hasil penelitian di Swedia menyebutkan bahwa sejak tahun 1990-an, radiasi Matahari di belahan dunia semakin kuat, kecuali Tiongkok yang polusi udaranya parah. Gambar di atas adalah kondisi polusi udara di wilayah Beijing, Tiongkok(STR / AFP)

Sebuah penelitian di Swedia menyebutkan bahwa sejak tahun 1990-an, radiasi Matahari di permukaan Bumi global semakin kuat, dan sinar Matahari juga makin cerah, kecuali daratan Tiongkok yang polusi udaranya semakin parah.

Dalam studi tersebut, para ilmuwan dari University of Gothenburg, Swedia dan ilmuwan Amerika manganalisis data pengukuran partikel polusi udara Tiongkok dan data meteorologi jangka panjang dengan model matematika.

Dan hasilnya ditemukan bahwa faktor yang menyebabkan rendahnya radiasi Matahari di Tiongkok karena lemahnya angin dan parahnya polusi udara di negara tersebut. Selama beberapa dekade terakhir, tiupan angin di Tiongkok semakin lemah. Ketika kecepatan angin melambat, mengakibatkan himpunan partikulat mengalami peningkatan, sehingga mendorong pembentukan kabut, dan membuat cahaya semakin redup.

Hasil studi terkait menunjukkan bahwa di daerah yang tercemar di Tiongkok, dimana ketika kecepatan angin kurang dari 3,5 meter per detik pada siang hari, maka sinar Matahari akan bertambah gelap. Sementara itu, di antara radiasi Matahari yang menurun di negara tersebut, ada sekitar 20% disebabkan oleh partikel polusi udara negara setempat, dan 20% lainnya disebabkan oleh kecepatan angin yang terlalu lemah

Peneliti terkait mengatakan, akibat dari redupnya sinar Matahari itu membuat cahaya (Matahari) di permukaan (Bumi) negara bersangkutan jauh lebih sedikit, dan ini akan memengaruhi fotosintesis, yang selanjutnya akan berdampak pada iklim, lingkungan dan ekonomi. Sejauh ini, para peneliti masih mempelajari bagaimana dampak dari gelapnya sinar Matahari itu terhadap aspek-aspek terkait di Tiongkok.(Jhn/Yant)

Share

Video Popular