Sebuah mobil sedan putih ringsek akibat tertindih truk tronton bermuatan. (Foto : network)

Hasil mengejek antara mobil sedan dengan truk tronton yang berlangsung selama 2 jam pada jalan bebas hambatan di propinsi Anhui, Tiongkok, akhir bulan lalu akhirnya menjadi berita pada sejumlah media. Kejadian ini akhirnya berbuah malapeetaka dan tragis.

Atas peristiwa itu sopir truk kembali menjadi sasaran kritik publik. Tetapi seorang supir bermarga Yang menjelaskan tentang apa yang dipikirkan oleh para pengemudi mobil sedan yang kurang mau mematuhi aturan berlalu lintas. Dia diketahui sudah 20 tahun menekuni profesinya sebagai pengemudi truk.

Lalu bagaimana kejadian ini bermula? news.163.com memberitakan bahwa terjadi mobil sedan meledek truk tronton di jalan bebas hambatan propinsi Anhui yang berjalan hingga 2 jam lamanya. Ulah ledek meledek itu baru berakhir di jalan tol antara Shanghai – Shaanxi dekat keluaran ke kota Hefei pada sekitar pukul 4 sore.

Akhirnya, sopir truk kembali menjadi bulan-bulanan caci maki masyarakat, tetapi pengemudi truk tronton lainnya sesungguhnya juga ingin menyampaikan unek-unek kepada masyarakat terutama para pengemudi kendaraan sedan. Entah sejak kapan, truk tronton diidentikan dengan momok. Sehingga ada orang yang menyarankan untuk menjauh jika bertemu truk. Tetapi ada pula pengemudi sopir sedan yang mungkin karena memiliki sifat melecehkan atau sebab lainnya, merasa bahwa orang lain saja mengalah mau memberi jalan kepadanya.

Ada pula pengemudi yang ‘suka meledek’ sopir truk dengan mengurangi kecepatan secara tiba-tiba setelah mobil sedan berhasil mendahului dan berada di depan truk tronton. Sopir bermarga Yang itu mengingatkan bahwa hal itu sangat berbahaya “Karena sekuat apa pun mobil sedan tidak mungkin mampu menahan berat badan truk tronton yang menindihnya. Justru merugi adalah diri sendiri.”

Pengakuan sopir bermarga Yang tersebut menuturkan pengemudi mobil sedan sering berulah dengan maksud untuk meledek truk tronton mungkin, mereka secara tiba-tiba berpindah jalur lalu mengurangi kecepatan ketika kendaraannya sudah berada di depan truk tronton. “Menurut saya itu sama saja dengan mau cari mati,” serunya.

Jika truk-truk terutama yang membawa muatan tidak berhasil segera menghentikan laju kendaraan maka truk bisa mengeruduk dari belakang ataupun terbalik dan menghimpit mobil sedan. Tentang sopir truk tronton kurang suka menginjak pedal rem, seorang sopir mengatakan bahwa alasannya adalah masalah bahan bakarnya truk-truk besar itu bisa 3 banding 1. “Untuk mengembalikan kecepatan truk yang bermuatan penuh atau melebihi kapasitas, akan sangat menyedot bahan bakar.”

Alasan lainnya adalah karena sopir truk besar biasanya membawa muatan jarak jauh, belasan jam di atas kendaraan dan kurang istirahat, sehingga menurunkan daya reaksi dan kurang awas. Bila jalurnya tiba-tiba diambil oleh sedan yang meledek dengan mengurangi kecepatan. Sopir truk belum tentu mampu mengurangi laju kecepatan atau menguasai kendaraan dengan baik sehingga sedan akan menjadi korban. Sungguh tragis, gara-gara mengejek akhirnya harus membayar dengan nyawa. (SecretChina/Sinatra/asr)

Share

Video Popular