Suatu ketika, Sang Buddha melihat neraka. Terlihat lautan api di mana banyak sekali orang-orang yang berdosa, melolong kesakitan, berusaha mencari jalan keluar, tapi usaha mereka semua sia-sia.

Ketika Sang Buddha melihat pemandangan yang memilukan ini, hatinya dipenuhi oleh rasa belas kasih dan beliau mencoba memikirkan jalan untuk menyelamatkan mereka. Sayangnya, dosa-dosa yang mereka lakukan sangatlah berat dan tidak ada suatu hal pun yang dapat melepaskan mereka dari penderitaan. Akhirnya, Sang Buddha melihat ada seorang yang dapat diselamatkan, meskipun dia telah melakukan semua perbuatan jahat.

Suatu hari di kehidupannya yang lampau waktu orang tersebut sedang berjalan, dia hampir menginjak seekor laba-laba. Tepat pada saat itu, rasa kasih menyelimutinya, dia berhenti dan membiarkan laba-laba itu pergi. Karena satu perbuatan baik ini, orang itu punya kesempatan untuk diselamatkan dari neraka.

Maka, Sang Buddha dengan lembut mengangkat seekor laba-laba yang sedang merajut jaring, dan beliau menjulurkan seutas benang sutera ke dasar kolam. Setelah melalui sela-sela kelopak bunga dan daun, serta lumpur, benang itu akhirnya mencapai neraka. Ketika melihat seutas benang itu, orang itu sangat senang. Dengan segera ia meraih benang itu dan mulai memanjat naik.

Dari neraka ke kolam teratai rasanya jauh sekali. Dia memanjat untuk waktu yang lama sekali. Ketika merasa lelah, dia pun berhenti di tengah jalan untuk beristirahat. Saat itu, dia melihat ke bawah dan melihat banyak orang yang juga sedang memanjat.

Dia menjadi khawatir, “Aku mungkin tidak akan mendapatkan kesempatan yang lain lagi untuk menyelamatkan diri. Apabila benang sutera ini putus karena berat oleh orang-orang itu, aku akan jatuh lagi ke neraka yang menakutkan itu.”

Dia berteriak kepada orang-orang di bawahnya, “Benang ini adalah milikku, tidak seorang pun dari kalian yang dapat menyentuhnya!”

Tapi orang-orang di bawah tetap memanjat naik. Dalam kepanikannya, orang tersebut menendang yang lain supaya kembali ke bawah. Ketika dia melakukan hal itu, benang tersebut mendadak putus, dan semua orang jatuh kembali ke lautan api.

Buddha telah berharap untuk dapat menyelamatkan jiwa-jiwa yang menderita itu, tapi hanya karena kemarahan satu orang semuanya kembali ke neraka. “Mengapa cinta manusia sangat rapuh?” gumam Sang Buddha. “Dia hanya tahu mencintai dirinya sendiri dan tidak ke orang lain. Oleh sebab itu manusia selalu harus menanggung penderitaan dari lingkaran reinkarnasi.” (Sumber: Berita Tzu Chi Indonesia)

Share

Video Popular