Keterangan foto: Eropa saat ini sedang menghadapi krisis terbesar dalam sejarah pengungsi modern. Pengungsi berbaris untuk membeli tiket kereta api. (Nikolay DOYCHINOV / AFP / Getty Images)

Oleh Hai Ning

Sejak terjadi krisis pengungsi Eropa, setiap harinya ada sekitar 10.000 orang pengungsi yang masuk ke Eropa. Mereka kebanyakan berasal dari Suriah, Afghanistan, Irak, daerah sekitar Gaza. Beberapa negara Afrika utara dan selatan Sahara yang membawa serta orang tua dan anak-anak menempuh perjalanan jauh menuju daratan Eropa untuk mencari kehidupan baru. Mereka adalah korban dari kegagalan pemerintahan, akibat dari penganiayaan dan konflik agama yang masih berlangsung serta ancaman teroris. Namun yang lebih dikhawatirkan adalah mereka ini cuma bagian riak dari gelombang pengungsian yang lebih besar.

New York Times mengutip laporan survei Gallup World Poll terhadap 450.000 penduduk dari 151 negara antara tahun 2009 – 2011 melaporkan bahwa sekitar 60 juta orang di seluruh dunia memilih untuk meninggalkan negara asal mereka dan berpindah hidup di negera lain bila dimungkinkan.

Dari mana para pengungsi itu berasal ?

Kebanyakan mereka yang memilih meninggalkan tempat asal mereka alias menjadi pengungsi adalah penduduk negara Islam dan daerah di sekitarnya. 25 % penduduk Afghanistan menyatakan kepada Gallup World Poll bahwa mereka ingin bisa keluar dari Afghanistan. Pengungsi asal Afghanistan yang masuk Eropa tahun ini sudah mencapai 100.000 orang. Di Suriah, sekitar 6 – 8 juta penduduk terlantar akibat perang saudara yang berkobar. Dan 4 jutaan orang melarikan diri ke negara seperti Libanon, Turki dan Jordania untuk menghindari perang.

Masyarakat Koptik yang berjumlah sekitar 5 juta jiwa di Mesir sekarang ini merupakan komunitas Kristen terbesar di Timur Tengah. Mereka khawatir bahwa Mesir menjadi lingkungan yang semakin tidak stabil dan penuh permusuhan. Etnis kuno lainnya seperti Yazidi, Assyria, di Irak, kelompok Kristen ajaran Nestorius dan Chaldean kini sedang menghadapi ancaman pembersihan etnis dan perbudakan dari kelompok bersenjata Islamic State.

Memang saat ini belum sampai terjadi pengungsian besar-besaran dari mereka, tetapi, dengan gencarnya pemboman dari Arab Saudi serta serangan dari kelompok bersenjata Hutsi, menipisnya persediaan makanan, obat-obatan yang membuat kelangsungan hidup penduduk kian bermasalah. Pengungsian penduduk Yaman hanya tinggal menunggu waktu. Eritrea, sebuah negara kecil yang terletak di Afrika bagian utara diseberang Yaman yang memiliki jumlah penduduk sekitar 25 juta jiwa hampir sama dengan Afghanistan, sekarang ini menjadi sumber terbesar pengungsi Eropa yang berasal dari Afrika.

Negara besar Afrika lainnya, Nigeria yang memiliki populasi (180 juta) hampir 2 kali Jerman. 40% penduduknya berharap bisa pindah ke negara-negra Barat.

Mengapa bisa timbul pengungsian?

Krisis pengungsi di Eropa saat ini adalah yang terbesar dalam sejarah modern ini. Banyak orang telah menyadari bahwa gelombang pengungsi masih akan terus berlanjut bahkan membesar. Presiden Dewan Eropa Donald Tusk di Twitter menyatakan bahwa jumlah pengungsi ke Eropa bukan lagi berjumlah ‘ratusan ribu’ tetapi sudah ‘jutaan’ orang.

Banyak orang menjadi pengungsi karena menghindari penganiayaan, kemiskinan, konflik antar etnis, ancaman teroris dan perang yang berkecamuk. Perdamaian yang rapuh dari beberapa generasi masyarakat negara-negara totaliter Arab di Timur Tengah dan Afrika utara kini sedang menghadapi keruntuhan. Organisasi teroris seperti IS dan Boko Haram mengambil kesempatan untuk mengisi kekosongan kekuasaan. Mereka meninggalkan kematian dan ketakutan kepada masyarakat di tempat-tempat yang diduduki.

Kondisi alam juga ikut menyiram minyak ke dalam api bagi pengungsian. Bagaimana tidak, Suriah sedang mengalami kekeringan panjang di saat konflik senjata terjadi di negara itu. Penggurunan yang semakin parah di bagian selatan Gurun Sahara, membuat daerah tak layak huni penduduk semakin meluas. Termasuk Asia Selatan di seputar Teluk Benggala, serangan badai dalam sekejab membuat jutaan orang Bangladesh menjadi pengungsi akibat kerusakan ekologinya.

Berapa banyak pengungsi yang bisa ditampung Eropa ?

Professor dari Oxford University Alexander Betts berpendapat bahwa negara kecil seperti Libanon saja mampu menampung sampai 1 juta pengungsi, maka Eropa yang daerahnya jauh lebih luas seharusnya mampu memberikan penampungan untuk puluhan atau bahkan ratusan kali kemampuan Lebanon.

Negara anggota Uni Eropa hanya Polandia, Slovakia, Ceko dan Hungaria yang secara tegas menolak pembagian jatah (rata-rata 120.000 orang / negara) menampung pengungsi. Meskipun banyak politisi dari negara-negara tersebut mendukung program penampungan. Namun, dengan dilatarbelakangi oleh orang-orang Muslim dari generasi terdahulu yang beremigran ke Eropa untuk bergabung dengan kelompok teroris, membuat negara-negara di Eropa itu merasa kewalahan dalam mengatasi gangguan yang ditimbulkan, sehingga program yang diusung oleh Dewan Eropa itu sulit untuk memperoleh dukung penuh dari anggota.

Mantan Menteri Luar Negeri Jerman Joschka Fischer dalam peringatan terhadap kemungkinan munculnya golongan sayap kanan ekstrem akibat arus pengungsi mengatakan bahwa banyak negara Uni Eropa sekarang sudah memiliki sistem kesejahteraan yang termasuk unggul di dunia. Namun, jalannya politik, nilai-nilai moral dan administrasi pemerintahan dari negara-negara tersebut bisa menjadi rusak akibat terdobrak oleh urusan pengungsi ini.

Peneliti dari Pusat untuk Transisi Demokrasi Internasional (ICDT) Sonja Licht mengatakan, negara-negara industri di belahan bumi utara tampaknya perlu untuk mempersiapkan diri, karena penduduk dari negara-negara yang kurang maju di belahan selatan ingin bermigrasi.

“Rupanya pengungsi bukan hanya urusan Eropa, tetapi juga urusan dunia” tegasnya. (Sinatra/rmat)

Share

Video Popular