Keterangan gambar. Ilustrasi

Seorang biksu yang berlagak gila menyindir seorang perdana menteri yang berpura-pura baik tapi hatinya busuk. Pengkhianat bangsa ini tak berkutik menghadapi tingkah laku biksu yang dijuluki “Sepuluh Tak Sempurna” ini.

Di balai 500-Lohan Kuil Ciechuang Xiyuan, Provinsi Sucou, China terdapat sebuah arca “biksu gila” yang terbuat dari tanah liat. Pada tubuhnya terdapat sepuluh cacat yakni: mulut miring, bongkok, mata juling, telinga gajah, kepala kudisan, kaki jinjit, tangan cakar, bahu miring, dada busung ditambah lagi hidung bengkok, maka dijuluki biksu “Sepuluh Tak Sempurna”.

Walaupun patung ini berwajah aneh dan cacat, namun tidak jelek, karya ini sangat luar biasa, terutama pita di pinggangnya itu, persis seperti pita sutra asli saja.

Menurut legenda, sebenarnya “biksu gila” itu berasal dari seorang cendekiawan miskin, biasanya ia suka memperbincangkan kecurangan pemerintah kerajaan dan mengecam peristiwa besar dunia. Beberapa kali mengikuti ujian kerajaan, selalu menyindir pedas serta menyampaikan ketidakpuasan melalui risalahnya.

Oleh sebab itu, walau dia bernyali besar serta penuh disiplin ilmu, tapi saat berusia 30 tahun, tidak pernah meraih gelar sarjana apa pun. Dia tahu persis kondisi sosiallah yang tidak baik. Dia kecewa terhadap dunia ini lalu masuklah ke kuil untuk menjadi seorang biksu tukang masak. Kelakuan sehari-hari seperti orang gila saja dan selalu mengoceh terus, oleh karena itu dijuluki “Biksu Gila”.

Pada suatu tahun, Cin Wusu (seorang panglima tentara Cin) mengirim pasukan, menyerang dataran tengah Tiongkok. Berturut-turut menggunakan dua intrik jahat secara beruntun yakni kuda pincang berantai dan gasing besi kopong. Seorang jenderal yang setia dan abdi negara bernama Yue-Fei, memimpin pasukan menghadangnya, dia berhasil mematahkan intrik-intrik jahat Cin Wusu dan memukulnya babak belur.

Justru pada saat itulah, seorang perdana menteri bernama Chinkui yang jahat, licik serta kejam itu diam-diam bersekongkol dengan Cin Wusu. Dia berkonspirasi dan mengatur siasat dengan sang istri dengan mencatut nama kaisar mengeluarkan dekrit palsu dan memerintahkan Yue-Fei kembali ke ibukota, kemudian mengkhianatinya dengan kejam.

Pada pagi hari, hari pertama tahun baru Imlek, Chinkui membawa istrinya sembahyang ke vihara. Mereka berhenti sejenak di depannya dan tampak di alun-alun pas di depan balairung yang megah itu ada beberapa pohon pinus hijau yang subur, tingginya hingga ke ujung langit, di sampingnya terdapat seorang biksu pengemis berpakaian compang-camping sedang menebang sebatang pohon kui (kesturi). Chinkui melihat pohon itu hijau dan segar, tidak tampak seperti pohon berpenyakit, tapi mengapa justru biksu ini menebangnya?

Ia lalu menghampiri dan bertanya: “Semestinya memohon tuah di hari pertama di tahun baru Imlek ini, tapi mengapa justru pohon yang masih bagus ini ditebang?”

Biksu gila itu menengadah, ternyata adalah Chinkui. Tampak dia berjubah merah pakaian kebesaran istana, berlagak anggun dan lapang dada, namun wajahnya penuh kepicikan, sepasang mata segitiganya licin sedang berputar-putar.

Biksu menjawab dengan nada santai, “Di dalam pohon ini, ditumbuhi kutu berhati hitam, batang pohon termakan habis olehnya, jika tidak segera ditebang maka mungkin pohon pinus di sebelahnya akan mengalami nasib buruk”.

Chinkui lalu bertanya, “Kalau begitu digergaji saja, buat apa menggali akarnya membuang tenaga begitu besar?”

Biksu gila itu menimpali, “Astaga, pejabat tinggi seperti Anda ini kok prinsip ini pun juga tidak mengerti? Ada pepatah kuno mengatakan kalau ingin membunuh ular seharusnya dihantam tujuh cun dan menebang pohon pun harus dimulai dari akarnya. Saya menjadi seorang biksu dan datang ke sini, sudah mengetahui dengan jelas bahwa pohon kesturi ini bukanlah barang baik. Coba lihat, daunnya seperti daun sipres, namun batang pohonnya mirip pinus, kalau dibilang kuda ya bukan apalagi keledai, tidak keruan”.

Begitu mendengarnya Chinkui mengetahui bahwa kata-katanya itu mengandung sindiran, dalam hatinya sangatlah tidak senang. Hatinya mengatakan, “Hari pertama tahun baru, belum lagi menunaikan sembahyangnya, malah keburu dihantam pentung oleh biksu. Dari air mukanya tampak rasa canggung.

Istrinya melihat situasi tidak menguntungkan, lalu berbisik kepadanya, “Cepatlah pergi sembahyang saja.”

Chinkui membuang ludah, lalu menuju balairung dengan lenggak-lenggok. Istrinya membantu dia menyalakan lilin merah serta membakar dupa cendana di depan Buddha Tathagata. Dengan rasa hormat dia berlutut di atas bantalan, bersembah sujud berkali-kali sembari berdoa. Setelah selesai sembahyang tampak hari masih pagi, lalu berjalan keliling ke dalam kuil. Ketika berada di ruang makan, terciumlah sepuput bau wangi. Ditengoknya ke dalam, tampak biksu tukang masak memegang paha anjing di tangan, sedang tangan lainnya memegang gelas berisikan arak, dengan kepala miring sedang makan daging dengan lahap.

Sambil makan ia bergumam, “Daging anjing betina kuning ini amat wangi!”

Hati istri Chinkui tercekam sejenak, lalu menarik lengan baju suaminya dan menunjuk ke arah biksu sambil berkata, “Coba lihat biksu yang sedang bakar api itu berbuat dosa, berani-beraninya menyantap daging anjing!”

Hati Chinkui sangat dongkol! Dia berpikir dalam hatinya, Bukankah istrinya yang dimaksud dengan anjing kuning itu? Tetapi Huang (kuning) ini bukan Wang (nama sang istri) sebagai yang dimaksud itu, tetapi cari sana cari sini tidak bisa didapati kesalahannya.

Pada saat dia sedang berpikir, sang istri berkata, “Di tempat kuil Buddha yang bersih dan suci, dilarang membunuh segala makhluk hidup, mengapa Anda sebagai biksu justru berani-beraninya makan daging anjing di sini?”

Biksu gila itu berkata: “Anda sebagai seorang wanita kok tidak tahu, bahwa Zhang Da Di itu makan daging beku, dari dulu sudah ada peraturannya. Apalagi yang saya makan itu adalah daging anjing jahat. Anjing kuning ini berhati busuk dan jahat, banyak orang baik mati karena gigitannya, semua orang sudah tidak tahan lagi ingin cepat-cepat mencincang dagingnya, namun yang saya makan itu hanya pahanya saja, hitung-hitung sudah untung baginya!”

Wang, sang istri itu kepentung lagi, maka cepat-cepatlah keluar bersama sang suami. Pada saat sampai di depan kuil dan baru mau naik ke jembatan, tiba-tiba Chinkui melihat ada tempelan kertas kuning di atas tembok, dengan tulisan sebuah puisi mencang-mencong di atasnya, “Jika ingin menjinakkan harimau itu gampang tapi kalau hendak melepasnya itu sulit, siasat yang dibuat di Jendela Timur sana mengungguli intrik beruntun Cin Wusu, yang menyebalkan ialah wanita ini banyak mulut, berusaha menghentikan biksu tua karena hati ketakutan.”

Chinkui termangu-mangu. Istrinya mengikuti sorotan mata suaminya, waduh! Bukankah yang dimaksud dalam puisi itu adalah kejadian di paviliun Fengpo?

Mereka saling memandang satu sama lain dan tercengang. Mulut Chinkui layaknya tersedak tulang, lama sekali baru terpatah-patah menggerutu: “Protes sudah, protes! Sungguh keterlaluan!”

Saat itu, kebetulan seorang kepala kuil keluar dari dalam. Muka Chinkui pucat kelabu, lalu bertanya kepada kepala biksu itu dengan nada gertak, “Siapa yang menulis puisi ini, cepat cari sana!”

Biksu mendengar nada ucapannya merasakan orang tersebut mungkin ada bekingnya, maka berani melawan lalu berkata dengan gemetaran, “Biar saya yang periksa ke dalam.”

Tak lama kemudian, biksu kepala membawa datang seorang biksu, satu tangan memegang sebatang pentungan, sedangkan tangan lainnya menyandang sebuah sapu bambu, datang tergopoh-gopoh dengan kaki yang pedok. Suami-istri Chinkui melihat, astaga, bukankah biksu pemakan daging anjing itu?

Lalu sengaja mengarah kepadanya, “Saya kira siapa yang tulis, eh rupanya seorang biksu dekil yang berambut kusut dan muka kotor ini!”

Biksu Gila menjawab dengan sinis, “Disangka siapa yang lagi memanggil saya, rupanya gentong tukang makan dalam tapi mengabdi orang luar.”

Chinkui sangat marah dan berkata keras, “Apa kamu sudah mabuk oleh daging anjing, biksu pengemis, mengapa tidak berlutut begitu ketemu saya?”

Biksu mengibas kedua tangannya serta mengerahkan kaki yang pincang, lalu menunjuk ke lutut dan berkata, “Borok ini sedang kumat, tidak bisa berlutut”.

Chinkui mendengar dari kata-kata biksu tahu bahwa dia itu sungguh lihai, lalu bola matanya berputar, manatap jubah kasaya biksu yang rombeng dan membentaknya, “Coba lihat kamu menghadap saya dengan baju rombeng begini, apa jadinya dengan sopan santunmu itu? Masa tidak ada tata krama sedikit pun sebagai seorang biksu?” Hei, hei!

Dengan menertawainya sejenak Biksu Gila lalu berkata, “Anda sebagai seorang pembesar dengan pakaian dan hidangan serba mewah dan mahal, mengerti akan disiplin ilmu serta berakal sehat, kok sampai hati berbicara semacam ini? Janganlah cuma mementingkan pakaian tapi tidak mementingkan manusianya! Jangan melihat wajah luar saya itu jelek, namun hati saya jujur dan terbuka. Tidak seperti tuan besar yang bertopi kerajaan, dengan jubah merah kebesaran, memang kelihatannya bagus, tapi jiwanya jahat dan penuh kelicikan, hanya melakukan hal-hal yang berdosa.”

Chinkui seketika itu tak dapat menjawabnya. Sang istri melihat suaminya dalam keadaan terjepit, hatinya sungguh sedih, tiba-tiba melihat tangan biksu memegang sebuah tongkat pengaduk tepung, disangka alat peniup arang bara, seperti mendapat dewa penolong saja, wajahnya berubah menjadi kecut, lalu menghardik biksu, “Jangan engkau berlagak bodoh dan pura-pura gila! Apa-apaan ini kok alat peniup arang itu tidak ada lubangnya?”

Biksu tahu bahwa dia ingin mencari-cari kesalahan orang, tak bisa tahan lagi dengan berdehem, lalu menjawab, “Alat peniup arang saya ini tidak boleh ada lubangnya, jika ada lubangnya dia akan bersekongkol dengan komplotan asing!”

Kata-kata ini bagaikan sebilah pedang tajam, menusuk tembus ke ulu hati Chinkui sehingga membuatnya sangat berang, dengan bengis berteriak, “Melihat sapu kamu yang masih baru sekali, pasti seorang biksu malas jika bukan, lantas apa?”

Biksu pun membalas dengan nada sangat keras, “Saya dibilang malas? Sapuku ini bukan digunakan untuk menyapu lantai, tapi untuk menyapu bersih semua bajingan pengkhianat bangsa!”

Langsung saja mengacungkan sapunya, dan berlagak bodoh menyapu ke arah Chinkui. Sang istri yang berdiri di sampingnya, terkejut sambil berteriak minta tolong tak henti-hentinya. Chinkui buru-buru mengelak ke pinggir, baru terhindar dari sapunya lalu dengan gerakan cepat sekali, ia lari terpontang-panting menuju biksu dan menarik ikat pinggangnya. Justru dengan tarikan ini membuatnya kaget sendiri, rupanya ikat pinggang yang ditarik itu, berubah menjadi seekor ular panjang, dengan mulut ternganga besar serta lidahnya yang merah darah itu menjulur keluar terus menuju ke muka Chinkui. Sehingga membuat suami-istri itu takut bukan kepalang dan pingsan seketika. Setelah siuman, biksu itu telah hilang entah ke mana.

Kejadian ini kemudian dijuluki “Feng-Seng-Sau-Chin”. Orang-orang pun sangat menghormati sikap biksu itu, lalu mengeramatkannya sebagai Bodhisattva, di balai Lohan Kuil Xiyuan didirikan sebuah arca, generasi selanjutnya menghormati dan memujanya sepanjang zaman.

(Sumber: buku Kisah Kota Kenamaan Shucou-Tiongkok yang diterbitkan oleh penerbit Huacheng)

Share
Tag: Kategori: Uncategorized

Video Popular