Keterangan foto: Setelah mengalami berbagai bencana maupun agresi dan ajang perang saudara tak terhitung banyaknya, bangsa Tionghoa tetap eksis selama 5000 tahun serta menciptakan budaya warisan Dewata yang terdiri dari ajaran Taoisme, Budhisme dan Konfusianisme. (wikipedia)

Bangsa Tionghoa telah tiba pada masa untuk memutar balik arah. Setelah seratus tahun diinjak, dipermalukan, dan dihancurkan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT), bangsa Tionghoa telah diposisikan dalam krisis membahayakan. Bagaimana menyelamatkan kondisi ini pada keadaan semula, menghentikan penindasan PKT terhadap bangsa dan rakyat, adalah hal yang semakin mendesak untuk harus segera dilakukan.

Pada saat yang sama, situasi di Tiongkok juga sedang mengalami perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di era yang unik ini, tindakan tokoh ksatria dengan memanfaatkan momentum ini membuatnya mengukir nama harum dalam sejarah, juga membawa bangsa Tionghoa menuju masa depan cerah. Posisi istimewa pada Xi Jinping saat ini sangat menguntungkan dalam berbagai aspek, jika Xi dapat memenuhi takdir Langit meninggalkan PKT dan menyelamatkan rakyat dari krisis, maka nama Xi Jinping akan harum sepanjang sejarah. Setelah bangsa Tionghoa meninggalkan PKT, maka kebangkitan yang sesungguhnya dan kemakmuran akan diraih bangsa ini.

1. Partai Komunis Tindas Bangsa Tionghoa

Bangsa Tionghoa adalah bangsa yang beruntung, karena selalu dilindungi dan dibimbing oleh para Dewa. Setelah mengalami berbagai bencana alam maupun serangan bangsa lain, serta ajang peperangan tak terhitung banyaknya, bangsa ini tetap tegar dan eksis selama lebih dari 5000 tahun, serta menciptakan budaya yang cemerlang, yakni budaya warisan Dewata. Para Sang Sadar yang memahami rahasia.langit dan bumi, para penguasa yang jenius dan agung, para jendral ahli strategi, para ksatria pendobrak dan para sastrawan yang romantis dan elegan, telah mewariskan tak terhitung banyaknya kebijaksanaan dan legenda yang sangat kaya. Nilai luhur berupa bakti, setia, kebajikan dan keadilan telah menganugerahkan kehidupan yang makmur dan harmonis bagi bangsa Tiongkok.

Namun bangsa Tionghoa juga mengalami naas, sejak tahun 1920-an, ajaran sesat komunis masuk ke negeri Tiongkok, tak hanya menewaskan 80 juta – 100 juta jiwa rakyat Tiongkok, yang lebih keji lagi, komunis telah menghancurkan mulai dari agama sampai ke norma kehidupan yang diwariskan para leluhur, seiring dengan Revolusi Kebudayaan, berbagai peninggalan budaya Tionghoa mulai dari artifak, buku dan kitab, situs kuno, bertujuan menghancurkan secara tuntas budaya dan tradisi Tionghoa.

Bangsa Tionghoa sendiri bukan konsepsi suatu bangsa, melainkan konsepsi suatu budaya, oleh karena itu di antaranya termasuk suku Han dan berbagai suku minoritas lainnya, itulah yang disebut bangsa Tionghoa. Kebijakan PKT menghancurkan budaya Tionghoa, adalah kebijakan bersifat pembinasaan etnik terhadap seluruh bangsa Tionghoa.

Pada 1992, pendiri Falun Dafa yakni Master Li Hongzhi menyebarkan ajaran kebijaksanaan alam semesta dengan bahasa yang mudah dimengerti kepada rakyat Tiongkok. Prinsip “Sejati-Baik-Sabar” dalam Falun Dafa telah mencakup intisari dari budaya Tiongkok kuno. Ini memberi kesempatan bagi rakyat Tiongkok untuk membangun kembali hubungan dengan Sang Pencipta di tengah kondisi dimana budaya dan keyakinan tradisional telah di ambang kehancuran, membangun kembali agama kepercayaan, juga menemukan kembali akar budaya bangsa ini. Pada saat itu media resmi PKT memberitakan sebanyak 70 juta – 100 juta orang telah berlatih Falun Dafa, dan orang-orang yang berlatih tidak hanya mendapatkan kesehatannya kembali, moralitas juga meningkat, dan ini sebenarnya memberikan pilihan bagi PKT, jika PKT memilih untuk tidak menindas Falun Dafa, maka PKT juga akan mendapat manfaatnya.

Namun lagi-lagi bangsa Tionghoa mengalami naas. Pemimpin PKT terdahulu Jiang Zemin, berkomplot dengan para anteknya yakni Zeng Qinghong, Li Lanqing, Luo Gan, Zhou Yongkang, dan Bo Xilai, mulai melakukan penindasan kejam terhadap para praktisi Falun Gong. Jiang Zemin mengerahkan kelompok sesat PKT untuk menekan ajaran “Sejati-Baik-Sabar” ini, kebijakan pembantaian praktisi Falun Gong sampai perampasan organ tubuh praktisi Falun Gong dalam keadaan hidup-hidup untuk mendapatkan uang, adalah upaya untuk memutus sumber kehidupan, kemakmuran, dan regenerasi bangsa Tionghoa, berupa kepercayaan, moral, dan keterhubunganan dengan sang Pencipta, juga hendak memusnahkan bangsa Tionghoa secara tuntas.

Munculnya partai komunis serta penindasannya terhadap bangsa Tionghoa, memiliki latar belakang sejarah yang amat mendalam. Ini merupakan suatu proses yang sangat menyiksa bagi bangsa Tionghoa, juga merupakan suatu proses penempaan pahlawan dan kebangkitan kembali.

Tiongkok sekarang, sudah tidak lagi memiliki nafas tradisi. Budaya telah hancur dan agama kepercayaan telah lenyap, yang pada akhirnya berubah menjadi krisis lingkungan, krisis ekonomi, krisis politik dan krisis sosial – tanah, udara, dan sungai-sungai telah tercemar parah, korupsi dan penggelapan merajalela, para pejabat yang berkuasa menyalahgunakan jabatannya untuk merampas uang rakyat, rasa tidak aman terhadap situasi sosial dan politik di dalam negeri telah memicu kaburnya dana dalam skala besar. Dimana-mana terdapat kasus makanan mengandung racun, semua orang ketakutan dan ekstra hati-hati karena takut tertipu, bangsa seperti ini tidak akan memiliki masa depan cerah.

2. Tangkap Jiang Zemin adalah Langkah Pertama Keluar Dari Krisis

Jika menelusuri fenomena kekacauan di atas hingga ke akarnya, adalah bersumber dari sistem pemerintahan PKT dan penindasan terhadap Falun Gong yang dilakukan oleh Jiang Zemin dengan mengerahkan berbagai fasilitas negara. Dari sudut pandang ini, menangkap Jiang Zemin dan meninggalkan PKT adalah langkah pertama untuk menyelamatkan bangsa Tionghoa dari krisis, juga merupakan kunci yang sangat vital bagi Xi Jinping untuk dapat mewujudkan idealismenya dan sukses menjalankan pemerintahan.

Sebenarnya, sejak Jiang Zemin mulai berkuasa pasca peristiwa Pembantaian Tiananmen 1989 hingga saat ini, ia sama sekali belum melepaskan kekuasaan utama pada tingkat tinggi PKT. Lewat para anggota Dewan Tetap Politbiro-nya yakni Zhou Yongkang, Jia Qinglin, Li Changchun, Wu Bangguo, serta antek yang ditempatkan di Komisi Militer yakni Guo Boxiong dan Xu Caihou, Jiang terus mengendalikan pemerintahan Hu Jintao dan Wen Jiabao, memaksa “perintah politik Hu dan Wen tidak bisa keluar dari Zhongnanhai. Pada Kongres Nasional ke-18 setelah Xi Jinping naik jabatan, kelompok Jiang Zemin terus saja melakukan upaya pembunuhan dan teror dengan maksud menghabisi Xi Jinping dan merebut kembali kekuasaan tertinggi RRT.

Sejak 2012 ketika Wang Lijun melarikan diri ke Konjend AS, kita bisa menyaksikan bukan hanya drama ala istana, juga proses kubu Jiang Zemin satu persatu menuai ganjaran akibat perbuatan mereka. Mulai dari Bo Xilai, Li Dongsheng, Xu Caihou, Zhou Yongkang, hingga Guo Boxiong, sampai ke Liu Yunshan, Zhang Dejiang, Zhang Gaoli, Zeng Qinghong, dan Jiang Zemin yang posisinya semakin terjepit. Para algojo yang melakukan kejahatan kejam ini sedang dibersihkan secara menyeluruh atau masih diincar dengan perang anti-korupsi yang dilancarkan oleh Xi Jinping. (sud/whs/rmat)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular