Burung hantu dan burung raja udang yang ditemukan di Pulau Enggano (Dokumentasi Tim LIPI)

JAKARTA – Tim peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menemukan sejumlah spesies baru di Pulau Enggano, Bengkulu. Temuan ini melalui Ekspedisi Enggano sebagai rangka melakukan eksplorasi Pulau Enggano pada 16 April – 5 Mei 2015 lalu.

Selama eksplorasi Pulau Enggano, tim peneliti LIPI berhasil mengoleksi dan mendata informasi kekayaan dan potensi hayati yang terbilang masif di Pulau Enggano. Peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI, Amir Hamidiy mengatakan temuan yang menarik ada beberapa spesies baru dan catatan baru, khususnya dari kelompok mamalia. Temuan itu adalah dua new records: Cynopterus brachyotis dan Hipposideros cervinus (mamalia kecil), kemungkinan penemuan berupa jenis baru, catatan baru ataupun perubahan status taksonomi: Pteropus sp., Rhinolophus sp. dan Hipposideros sp.

Amir yang juga merupakan Ketua Tim Ekspedisi Enggano LIPI memaparkan penemuan spesies baru lainnya adalah ikan kandidat jenis baru yaitu Stiphodon sp. Sementara, jenis ikan lainnya yang menarik dan terungkap sejumlah lima jenis: Hypseleotris sp., Redigobius sp., Stenogobius sp., Schismatogobius sp, Ambassis sp. dan Mugilogobius sp. Dia menambahkan, tak tertutup kemungkinan bila jenis-jenis ini merupakan spesies endemik di Pulau Enggano, namun diperlukan penelitian lebih lanjut dan waktu khusus untuk mengetahui status taksonominya.

Di sisi lain, Amir mengungkapkan bahwa pihaknya juga menemukan kandidat jenis baru dari kategori krustase, yaitu Macrobrachium bariense dan M. Placidulum. Kedua jenis udang ini biasanya hanya terdapat di sebelah timur garis Wallace dan sekarang dapat dijumpai di pulau Enggano.

Amir dalam pemaparannya mengungkapkan, biasanya ukurannya relatif besar, tetapi yang dijumpai di Enggano berukuran kecil dan sudah dewasa. Selain menemukan kandidat jenis baru, Amir dan timnya juga mendata berbagai kekayaan fauna maupun flora yang selama ini jarang terjamah. Dari Fauna, burung diyakini jenis baru adalah burung hantu, Ninox spp dan raja udang, Alcedo spp. Jenis Raja udang di Enggano berbeda dengan yang ada di Pagai dan Mentawai.

“Dari jenis fauna, kami mengungkap ada 35 jenis burung, 13 jenis mamalia kecil, 3 jenis mamalia besar, 13 jenis reptil, 2 jenis amfibi, 52 jenis ikan, serangga (ngengat 100 jenis, kupu-kupu 4 famili, capung 15 jenis , lalat buah 3 jenis), 24 jenis moluska, dan 25 jenis krustasea,” paparnya di Gedung LIPI, Jakarta, Kamis (5/11/2015).

Dari jenis flora, sambungnya, eksplorasi ini juga berhasil mengoleksi flora tumbuhan tinggi: Jamur, tumbuhan rendah, lumut dan satu jenis baru dari kelompok jahe-jahean (Zingiberaceae). Tim juga mencatat adanya tumbuhan yang bermanfaat yaitu pemanfaatan tumbuhan untuk alat musik, seperti markis atau kecrek yang terbuat dari batok kelapa, kulele yang terbuat dari kayu ba’ba atau nyun, pahum atau gendang yang dibuat dari pohon waru, dan bass yang dibuat dari kayu ba’ba.

Selanjutnya pemanfaatan tumbuhan untuk obat-obatan, jenis-jenis seperti Dukung Anak (Phylanthus niruri), Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus), Temu Lawak (Curcuma xanthorrhiza), Alang-alang (Imperata cylindrica L.), dan akar I’it (Musa sp.) dapat dimanfaatkan untuk obat-obatan.

Pemilihan Pulau Enggano sebagai destinasi ekspedisi tim peneliti LIPI karena pulau ini merupakan pulau samudera (Oceanic Island), yang tidak pernah bergabung dengan pulau Sumatera sepanjang sejarah geologinya. Pulau Enggano merupakan pulau yang terletak di Samudera Hindia sekitar 100 km sebelah barat pulau Sumatera, memiliki luas sekitar 402,6 km2 dengan garis pantai panjang 106,7 km dan titik tertingginya (Bukit Koho Buwabuwa) hanya sekitar 281 mdpl. (asr)

Share

Video Popular