Keterangan foto: Logo Angkatan Laut Amerika Serikat: “Angkatan Keadilan Global (A global force for good)”. (Foto oleh penulis)

Oleh: Mu Chunxiao

Ikrar AL adalah ikrar pada Tuhan dan setia pada konstitusi AS. Kata-kata pertama dalam konstitusi AS adalah “We the people” (kami selaku rakyat). Yang dilindungi oleh AL Amerika adalah rakyat dan kepentingan negara, bukan kepentingan satu orang atau satu partai.

Setelah menandatangani kontrak tiba saatnya mengucap ikrar, saya sedikit penasaran dengan kata-kata dalam ikrar itu. Saat tiba di suatu ruangan tempat mengucapkan ikrar dimana terkibar bendera AS dan bendera AL, sekelompok orang baru saja pergi. Perwira yang memimpin pengucapan ikrar berkata pada perwira yang membawa saya, “Dia bukan di kelompok saya, kami sudah selesai mengucap ikrar.”

Perwira yang membawa saya menjelaskan, “Tadi pagi dia belum memilih pekerjaan, baru sore hari dipilih, sehingga dia tertinggal, Anda ulangi sekali lagi untuk dia.”

Perwira itu bertanya pada saya, ada dua versi pernyataan sumpah, yang baru dan yang lama, yang mana yang saya pilih. Lalu ia bertanya lagi apakah saya umat Kristiani, jika bukan maka saya tidak perlu mengangkat tangan kanan dengan telapak tangan terbuka, juga tidak perlu mengucapkan kalimat terakhir. Bukankah sangat demokratis? Semua orang diberi hak untuk memilih dalam segala hal.

Mari kita lihat kata-kata sumpah jabatan:

The Oath of Enlistment (for enlisted):
“I, _____, do solemnly swear (or affirm) that I will support and defend the Constitution of the United States against all enemies, foreign and domestic; that I will bear true faith and allegiance to the same; and that I will obey the orders of the President of the United States and the orders of the officers appointed over me, according to regulations and the Uniform Code of Military Justice. So help me God.”

Saya, ……… (marga) (di dalam AL hanya menyebut marga tanpa menyebut nama), bersumpah bahwa saya akan mendukung dan membela konstitusi Amerika Serikat, dari semua musuh baik dalam maupun luar negeri; dan saya setia dengan teguh pada konstitusi Amerika Serikat; dan saya akan mematuhi peraturan militer, mematuhi perintah Presiden AS dan misi yang diberikan kepada saya oleh perwira yang ditunjuk untuk memimpin saya. Tuhan, tolonglah saya.” (NB: Kalimat terakhir boleh tidak diucapkan).

Ikrar AL adalah ikrar pada Tuhan, dan setia pada konstitusi AS. Kata-kata pertama dalam konstitusi AS adalah “We the people” (kami selaku rakyat). Yang dilindungi oleh AL Amerika adalah rakyat dan kepentingan negara, dan bukan kepentingan satu orang atau satu partai.

Baik kata-kata dalam ikrar AL, ataupun dalam akidah pelaut (Sailors Creed) dan 11 aturan umum (General 11), sama sekali tidak ditemukan bayang-bayang Partai Republik maupun Partai Demokrat. Sebaliknya, AL Amerika melarang prajurit menyampaikan pandangan politiknya. Karena yang dilindungi militer adalah kepentingan rakyat, adalah kebebasan dan demokrasi dunia, adalah norma universal, tidak ada kaitannya dengan partai manapun. Ini barulah makna sejati dari seorang prajurit. Sumpah setia pada satu partai bukanlah seorang prajurit sejati, namun hanya budak pengawal partai yang memakai seragam.

Tapi prajurit di AS berhak untuk memberikan suaranya memilih presiden. AL sebisa mungkin memberikan kemudahan bagi para prajuritnya yang bertugas di pangkalan militer di luar negeri untuk tetap bisa turut serta memberikan suaranya dalam pemilu. Wahai para “prajurit” yang berkorban nyawa bagi partai komunis, “partai” yang kalian lindungi tidak pernah memberi kalian hak untuk memberikan suara, untuk apa terus melindunginya?

Usai upacara pengambilan sumpah, perwira perekrut dari kantor perwakilan San Francisco mengantarkan kami satu persatu pulang ke rumah. Setiap orang diberi sebuah ransel AL, didalamnya terdapat bolpen, gelas, T-shirt, dan topi bisbol yang bertulisan US Navy, serta sebuah buku tipis yang berjudul “Start”.

Teman sekamar saya bernama Wen Shu berkata, “Kak, begitu mudahnya menjadi anggota militer di AS. Di RRT, menjadi prajurit sangat sulit. Dulu ketika Tante saya lulus kuliah dan ingin menjadi anggota militer, ibu saya memberikan kado bagi perwira perekrut, semua orang juga melakukan hal yang sama, tidak ada yang tahu berapa banyak hadiah yang diberikan orang lain, juga tidak tahu berapa banyak harus memberi.”

Saya katakan, ini Amerika, kamu boleh memberi hadiah kecil, tapi nilainya tidak boleh lebih dari USD 10, lebih dari itu adalah melanggar hukum. Pihak AL juga meminta kita menanda tangani sura kesepakatan, melarang kita ada hubungan pribadi dengan para perwira perekrut, juga dijabarkan berbagai detil yang mungkin akan terjadi. Contohnya, tidak boleh berteman dengan perwira perekrut, tidak boleh mengundang perwira perekrut ke pesta pribadi kita. Akan tetapi AL juga cukup manusiawi, boleh saja mengadakan pesta, dengan catatan seluruh staf di kantor perekrutan harus diundang untuk hadir.

Peraturan AS selain mencakup aspek yang abstrak, juga mempunyai referensi konkrit untuk melindungi keadilan dan kemurnian hubungan antar manusia. Keadilan, inilah aturan yang selama ini saya dambakan namun tidak pernah saya dapatkan sebelumnya. Inilah kehidupan yang saya inginkan.

Saya menelepon ke rumah (di daratan Tiongkok) untuk memberitakan kabar baik ini. Kakak laki-laki saya berkata, “Kamu saja bisa menjadi prajurit, kalau begitu artinya Amerika tidak sehebat yang kita bayangkan!”

Saya tidak bisa terima pernyataan ini, dan bertanya, “Memangnya saya ini kenapa? Sekarang berperang pun belum tentu harus selalu menggunakan senapan dan pedang. AL Amerika sendiri menyebut dirinya ‘satuan prajurit keadilan dunia’ (a global force for good).”

Dari tahanan hati nurani di RRT kini menjadi prajurit keadilan, apakah saya tidak pantas?

Diskriminasi sangat dilarang di AL Amerika. Tidak diperbolehkan diskriminasi yang bersifat SARA, asal usul warga negara asli atau bukan, dan jender. Di dalam AL jarang terdengar istilah “kulit hitam” atau “kulit kuning”, umumnya mereka menggunakan istilah orang Afrika dan orang Asia. Bagi orang yang berperilaku diskriminatif, begitu diselidiki kebenarannya, maka orang tersebut akan langsung dibatalkan kontraknya.

Satu contoh yang terjadi di dekat saya. Pada kelas pelatihan kerja, seorang pria kulit putih berkata pada seorang pria Filipina “ayam kuning kecil”, perwira instruktur langsung membawanya keluar ruangan, dan prosedur di AL untuk langsung membatalkan kontraknya pun segera dijalankan. Cepat sekali, dan sangat mencengangkan, sama sekali jauh di luar bayangan saya. Setelah itu, seorang perwira instruktur lainnya masuk, dan bertanya pada peserta keturunan Asia lainnya, apakah merasa disakiti.

Mr. Guan menceritakan saat dirinya dalam masa pelatihan di AL, seorang perwira instruktur bertanya padanya, mengapa tidak menjadi AL di RRT saja. Seseorang mendengar hal itu dan langsung melaporkan bahwa perwira tersebut diskriminatif terhadap etnis Tionghoa, tak lama langsung ada tim datang untuk menginvestigasi peristiwa tersebut.

Sedangkan di RRT, di sebuah negara diktator, kebijakan yang ditetapkan oleh “partai” adalah semacam kebijakan diskriminatif. Di dalam negeri saat akan menandatangani kontrak untuk suatu pekerjaan, aturan terakhir menyebutkan bahwa calon karyawan harus ikut ambil bagian dalam tindakan memfitnah Falun Gong. Ini sama saja artinya dengan calon karyawan tidak boleh menandatangani kontrak dan tidak akan mendapat pekerjaan jika tidak memfitnah Falun Gong. Ini adalah diskriminasi agama kepercayaan. Sebenarnya, pembatasan domisili di RRT, jika menurut kriteria AL Amerika, adalah diskriminasi terhadap tempat kelahiran. (sud/whs/rmat)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular