Ilustrasi teater dan tari Baratayuda (Istimewa)

JAKARTA – Lembaga Presenting Indonesia, Gelar menampilkan pentas kolaboratif dalam format teater gerak dan tari yang mengambil cerita dari dunia pewayangan bertajuk ”Baratayuda”. Wayang ini akan dipentaskan, Minggu (8 /11/2015) di Gedung Pewayangan Kautaman, di Jalan Raya Pintu 1 Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta.

Sebagiamana ceritanya, panitia penyeleggara, Rooslina Paloepi mengatakan Baratayuda adalah perang delapan belas hari antara Pandawa dan Kurawa yang menjadi puncak cerita konflik atas hak pemerintahan kerajaan Kuru di Hastinapura dalam kisah pewayangan Mahabarata.

Kisah ini, lanjutnya, sebuah karya sastra kuno yang konon ditulis oleh Bhagawan Byasa atau Wyasa dari India. Kisah ini terdiri dari delapan belas kitab, maka dinamakan Astadasaparwa. Namun ada pula yang meyakini bahwa kisah ini sesungguhnya merupakan kumpulan dari banyak cerita yang semula terpencar-pencar, yang dikumpulkan semenjak abad ke-empat sebelum Masehi.

Tak hanya itu, karya panggung Baratayuda kali ini diproduseri oleh Gelar, produser program-program kebudayaan yang sejak 1999 sudah aktif mempromosikan kesenian tradisi Indonesia dengan format yang beragam. ”Pergelaran Baratayuda melibatkan partisipasi dari berbagai komunitas pencinta seni tradisi dengan latar belakang bervariasi namun memiliki semangat yang sama dalam berkesenian,” ujarnya dalam siaran pers, Sabtu (7/11/2015).

Baratayuda yang didukung oleh pendukung dari berbagai latar belakang menembus batasan-batasan usia, strata sosio-ekonomi, pendidikan maupun profesi. Turun tangan langsung menggarap pergelaran ini adalah tokoh-tokoh dalam dunia seni pertunjukan tradisi yaitu Blacius Subono, Joko S. Gombloh dan Elly D Luthan berkolaborasi dengan aktor-aktor populer seperti Gery Puraatmadja dan Ramon Tunka, hingga komunitas-komunitas akar rumput seperti komunitas pertunjukan Komunitas Kreasi Seni Sampah, Karuhun Subang dan Reog Surabaya.

Sedangkan komunitas kerajinan Batik Pekalongan, Lurik & Blangkon Blitar akan menyediakan pakaian untuk penari dan musisi. Kerajinan Goni dan Akar Sukabumi akan menyediakan kebutuhan aksesoris yang dikenakan para penari di atas panggung, begitu juga komunitas Topi Bambu dari Kota Tangerang . Pengrajin Sandal Bandolan Purwokerto dan pengrajin Patung Batu Trowulan tak mau ketinggalan memamerkan produk di venue pertunjukan.

GELAR dikenal sebagai pengembang program berbasis konten lokal tradisi dan kontemporer dengan produksi yang beragam. Lembaga ini terinspirasi dari kebhinnekaan Indonesia, pada tahun 1999 oleh Bram  dan Kumoratih Kushardjanto. Hadir dengan produksi seni pertunjukan untuk tur lokal dan internasional, produk digital dan dokumentasi audio-visual yang digelar melalui media televisi maupun on-line, mengelola festival kesenian berkesinambungan, hingga program pengembangan komunitas. (asr)

Share

Video Popular