Keterangan foto: Presiden Republik Tiongkok Ma Ying-jeou (kiri) dan Presiden Republik Rakyat Tiongkok Xi Jinping (kanan). (internet)

Oleh Xu Jiadong

Menurut ‘Daily Telegraph’ bahwa akhir pekan ini akan terjadi pertemuan pertama sejak berakhirnya perang saudara pada 1949, pertemuan yang dielu-elukan sebagai pertemuan bersejarah antara Presiden Republik Rakyat Tiongkok Xi Jinping dengan Presiden Republik Tiongkok Ma Ying-jeou ini akan dilangsungkan di negara ketiga yakni Singapura.

Akibat Presiden Ma sudah mendekati berakhirnya maksimal 2 kali masa jabatannya. Sementara sentimen anti komunis terus berkobar di Taiwan, terutama bagi kaum muda yang beranggapan bahwa hubungan dengan Tiongkok hanya memberikan keuntungan bagi pebisnis besar.

Calon Presiden dari Democratic Progressive Party (DPP), Tsai Ing-wen mengomentari dengan “terkejut” atas pertemuan yang tak terduga itu. Juru bicara DPP Cheng Peng-yun mengatakan bahwa ia meragukan soal pengaturan waktu pertemuan kedua pemimpin itu.

Dalam artikelnya yang dimuat di halaman web site DPP ia menyebutkan bahwa Presiden Ma memilih waktu yang sensitif untuk mengatur pertemuan dengan Presiden Xi. Bagaimana orang tidak akan berpikir bahwa ini adalah sarana politik untuk mempengaruhi pemilu mendatang.

Menurut media resmi Tiongkok ‘Xinhua News Agency’ bahwa Zhang Zhijun, pejabat Beijing yang bertanggung jawab atas urusan Taiwan menyebut pertemuan ini sebagai ‘batu tonggak’ bagi hubungan persaudaraan lintas selat yang terganggu sejak 1949.

AFP mengutip ucapan juru bicara Presiden Ma memberitakan bahwa tujuan KTT selain untuk menjamin perdamaian lintas selat tidak akan membuat suatu perjanjian tertentu termasuk mengeluarkan komunike bersama.

‘Liberty Times’ Taiwan mengatakan bahwa para demonstran sudah berkumpul di depan gedung parlemen Taiwan. Namun, media lainnya hanya menyebutkan petugas kepolisian lebih gencar dalam melakukan patroli.

Ma Ying-jeou pernah mencoba untuk bertemu Xi Jinping di sela-sela pertemuan APEC pada November tahun lalu tetapi gagal karena dicegah oleh pihak dari Beijing. Chen Fanming, dosen dari National Chengchi University, Taiwan mengatakan, akibat takut Partai Kuomintang (KMT) Taiwan kalah dalam pemilihan 16 Januari mendatang, pihak Tiongkok memandang perlu untuk mempercepat pertemuan.

Akibat terus mempertahankan hubungan baik dengan Beijing, Partai berkuasa Taiwan di bawah kepemimpinan Ma Ying-jeou tahun lalu mengalami kekalahan terburuk dalam pemilu lokal. Banyak pengamat mengatakan bahwa salah satu faktor kegagalan Partai Kuomintang itu disebabkan oleh kebijakannya terhadap Beijing.

“Akibat keterpurukan KMT dalam pemilihan lokal, jadi Beijing ikut mendongkrak,” demikian Chen Fanming menulis dalam akun Facebook-nya.

Jajak pendapat : Lebih 80% masyarakat Taiwan menghendaki pertemuan yang sederajat

Ketua Komite Taiwan untuk urusan Daratan Hsia Liyuan dalam konferensi pers pada 4 Nopember 2015 menyatakan bahwa jajak pendapat menunjukkan bahwa lebih 80 % masyarakat Taiwan mendukung adanya pertemuan kedua kepala negara yang dilakukan dalam suasana sederajat, terbuka dan transparan.

Hsia Liyuan menegaskan bahwa “Pertemuan Ma-Xi” dimaksudkan untuk meletakkan dasar yang kuat untuk perdamaian di Selat Taiwan, dan tidak akan melibatkan negosiasi politik.

Ma Ying-jeou berangkat ke Singapure pada 7 November 2015 untuk menemui Xi Jinping di Shangrila Hotel Singapure pada sore harinya. Pertemuan akan diadakan secara tertutup setelah para juru kamera menyelesaikan pengambilan gambar. Konferensi pers akan diadakan setelah pertemuan berakhir. Kemudian kedua kepala negara akan makan malam bersama.

Kedua pemimpin tersebut akan sama-sama menggunakan ‘Tuan’ sebagai panggilan kehormatan kepada lawan bicara, tidak menggunakan panggilan Presiden Xi atau Presiden Ma untuk menghindari masalah ‘sederajat’ yang memang pelik untuk diuraikan. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular