Keterangan foto: Presiden Ma Ying-jeou dari Republik Tiongkok (ROC) akan bertemu dengan kepala Negara PKT Xi Jinping di Singapura pada 7 November ini, ketika bertemu kedua belah pihak akan saling memanggil dengan “pak / tuan”. Usai pertemuan akan diadakan acara makan malam bersama. (photo shop Epoch Times)

Oleh: Ding Lukai

Ini adalah pertemuan puncak antara pemimpin tertinggi PKT (Partai Komunis Tiongkok) dan Kuomintang (KMT / Partai Nasionalis) pasca pertemuan antara Mao Zedong (dibaca: Mao Ce Tung) dan Chiang Kai-shek di kota Chongqing (dibaca: Jong Jhing) di tahun 1945 silam, itu sebabnya sampai menimbulkan perhatian besar dari kalangan internasional.

“Pertemuan Xi dan Ma” di Singapura kali ini dengan “Pertemuan Mao dan Chiang” abad lalu, sepertinya memiliki kebersamaan. Setelah Tiongkok di bawah pimpinan Chiang Kai-shek berada di pihak yang menang perang (melawan fasisme Jepang) pada 1945, Tiongkok menghadapi masalah ‘mau dibawa kemana negeri ini’, maka ketika itu Chiang Kai-shek lantas mengundang Mao Zedong untuk membicarakannya di kota Chongqing. Namun setelah perundingan, kedua partai itu tetap melanjutkan perang saudara dengan hasil PKT menduduki seluruh daratan Tiongkok dan Kuomintang terdepak ke pulau Taiwan.

“Pertemuan Xi dan Ma” kali ini juga dilatarbelakangi oleh masalah masing-masing dari daratan Tiongkok dan Taiwan yang sama yakni kemana harus pergi. Di Taiwan pada 2016 akan diadakan Pilpres, DPP (Democratic Progressive Party / Min Jin Dang) sangat mungkin menjadi pemenang dan Kuomintang bakal kehilangan kekuasaan. Di pihak RRT, sedang menghadapi keruntuhan, hampir 220 juta warga di daratan Tiongkok telah menyatakan “Tui Dang / San Tui atau mundur dari PKT dan 2 partai underbouw-nya” yang menandakan PKT sedang ditinggalkan warganya.

Mengapa KMT dalam Pilpres pada 2016 diprediksi gagal?

Alasan terbesar adalah implementasi dari kebijakan pro-PKT yang telah menimbulkan ketidakpuasan secara meluas dari warga Taiwan, “Gerakan Mahasiswa Bunga Matahari” pada 2014 dan hasil pemilu Sembilan Gabung Satu telah sepenuhnya membuktikan hal ini.

Dalam keadaan seperti itu, “Pertemuan Xi dan Ma” yang telah sejak lama digagas tiba-tiba menemukan momentumnya tanpa dapat diprediksi, kedua belah pihak jelas saling membutuhkan. Di pihak Ma Ying-jeou hendak meninggalkan sedikit “warisan politik”, sekaligus memengaruhi situasi pemilihan akbar pada 2016 nanti. Di pihak Xi Jinping sendiri hendak mencari jalan keluar politik dalam menghadapi terceraiberainya PKT.

Tentu saja, pertimbangan lain yang lebih tinggi adalah pembentukan mekanisme dialog tingkat tertinggi lintas Selat (RRT dan Taiwan secara geografis dipisahkan oleh Selat Taiwan, red), meskipun nantinya DPP berhasil menang, apabila terjadi perbedaan serius atas isu-isu utama lintas selat, para pemimpin tertinggi dari daratan Tiongkok dan Taiwan juga bisa berdialog melalui mekanisme semacam ini, hal ini secara tak langsung dapat menciptakan bagi kedua belah pihak lebih banyak ruang untuk bermediasi dan bernegosiasi.

Apabila kedua belah pihak benar-benar ingin mewujudkan reunifikasi, pembubaran PKT dapat dipastikan menjadi prasyarat dan landasannya. Karena warga Taiwan pasti tidak menyetujui bahwa proses reunifikasi damai tersebut bila diarahkan dan diikuti oleh PKT. Terjadinya “Gerakan Payung” di Hongkong menunjukkan bahwa yang disebut “satu negara dua sistem” benar-benar adalah sebuah kebohongan. Asalkan PKT masih memerintah di daratan Tiongkok, maka warga Taiwan selamanya tidak akan mempertimbangkan reunifikasi dengan daratan Tiongkok.

Pemerintahan PKT di daratan Tiongkok sudah goyah, sama sekali sudah tidak memiliki kemampuan riil untuk mempersatukan kedua rezim itu. Pemerintahan tirani PKT selama 60 tahun lebih di daratan Tiongkok juga telah kehilangan kepercayaan rakyat, sudah tidak berkualifikasi lagi untuk mempersatukan kedua rezim.

Di satu sisi PKT sudah ditakdirkan akan bubar, di sisi lain adalah prospek besar reunifikasi kedua pemerintahan, yang membuat pihak berwenang Xi Jinping sekarang ini dihadapkan pada sebuah peluang historis istimewa yakni untuk mengikuti jejak Chiang Ching-kuo di tahun itu, yakni: berinisiatif membubarkan organisasi PKT, dan membuka larangan pendirian multi partai dan pendirian surat khabar, dengan demikian daratan Tiongkok akan dengan stabil bertransisi ke masyarakat bebas, sehingga meletakkan landasan kokoh yang dibutuhkan bagi reunifikasi kedua negara.

Ini kebetulan sejalan dengan jalur pemikiran opini publik yang berlatar belakang birokrasi tentang maraknya semacam hantaman terhadap ideologi PKT yang belakangan ini menjadi trendi di daratan Tiogkok. Dimulai dari topik “legitimasi” PKT yang disampaikan atas inisiatif dari Wang Qishan, sampai ke bos property Ren Zhiqiang yang membombardir “komunisme”, hingga ke kasus “Harian Kaum Muda Beijing”. Harian yang memuat berita headline di halaman 1 dengan judul “organisasi partai yang kebanyakan anggotanya melakukan pelanggaran berat kedisiplinan partai seharusnya dibubarkan”. Hal itu menunjukkan bahwa di tingkat elit PKT betul-betul terdapat sebuah kekuatan “golongan reformis” yang sedang mempertimbangkan tentang pembubaran PKT, dengan sikap berinisiatif dan aktif dalam menghadapi krisis pemusnahan PKT.

Selama dapat menyingkirkan PKT si penghalang terbesar bagi reunifikasi kedua negara, cita-cita besar reunifikasi Tiongkok akan dapat melangkah ke depan dengan sebuah langkah besar. Perdebatan pembubaran organisasi partai yang belakangan ini marak di daratan Tiongkok, secara tak sadar juga telah menciptakan semacam atmosfer beropini dengan baik yang bermanfaat bagi reunifikasi.

Sejak tahun ini Xi Jinping berturut-turut telah melawat ke sejumlah negara besar yakni Rusia, Amerika Serikat dan Inggris, kanselir Jerman dan Presiden Prancis juga dalam waktu dekat akan melakukan kunjungan ke daratan Tiongkok. Di balik itu mungkin terdapat faktor menyapa kepada masyarakat internasional tentang pihak berwenang Xi dalam menyikapi perubahan besar situasi aktual politik di daratan Tiongkok“, pertemuan Xi dan Ma” kali ini juga membawa factor semacam ini.

Dalam internal PKT, pertarungan seru di kalangan elit PKT sekarang ini telah berevolusi ke tahapan pihak berwenang Xi akan menangkap Jiang Zemin. Berbagai indikasi menunjukkan, momentum pihak berwenang Xi untuk meringkus Jiang Zemin semakin mendekat, yang mengejar tepat dibelakangnya ialah perubahan situasi politik yang sangat mungkin menyentuh pada permasalahan pembubaran PKT dan reunifikasi kedua negara. (whs/rmat)

 

Share

Video Popular