Erabaru.net. Begitu menyebut tentang hantu, pikiran kita seketika akan tertuju pada sesuatu yang menyeramkan.

Mungkin sebagian besar dari kita pernah mendengar tentang kapal hantu, tapi belum pernah mendengar tentang pulau hantu.

Jika dikatakan ada hantu di pulau itu, sebagian besar dari kita mungkin akan percaya, namun, jika pulau itu sendiri disebut hantu, apa tidak akan membuat kita terkejut dan terperangah.

Tapi ini adalah peristiwa yang benar-benar terjadi, wujud pulau itu sangat misterius, kadang-kadang muncul kadang-kadang lenyap, dan hingga detik ini tidak ada yang bisa menjelaskannya.

Catatan mengenai pulau hantu sudah ada sejak abad ke-18, pada tahun 1707 lampau.

Kapten kapal Inggris bernama Julius menemukan daratan di ufuk sebelah utara Pulau Spitsbergen, di Kutub Utara, tapi entah mengapa daratan ini tidak bisa didekati.

Namun, daratan itu bukan ilusi optik, lalu sang kapten menandai “daratan” itu di peta laut. 200 tahun kemudian, ketika Laksamana Stepan Makarov bersama dengan tim-nya menumpang kapal pemecah es Yermak melakukan ekspedisi di Kutub Utara kembali melihat daratan itu, dan itu adalah daratan yang pernah dilihat Julius kala itu.

Di perairan sebelah barat Kerajaan Tonga di Pasifik Selatan, ada satu pulau bernama Rutledge. Menurut catatan sejarah: Pada tahun 1875, pulau itu setinggi 9 meter di atas permukaan laut, tahun 1890, setinggi 49 meter di atas permukaan laut.

Tahun 1898, pulau itu hilang, tenggelam sedalam tujuh meter di bawah laut.

Pada tahun 1967, pulau itu muncul kembali ke atas permukaan laut ; Tahun 1968, pulau kembali lenyap. Namun, pada tahun 1979, ia muncul kembali. Karena pulau itu muncul dan lenyap tidak menentu di atas laut, sehingga orang-orang menyebutnya “pulau hantu”.

Pada 10 Juli 1831 lampau, ketika sebuah kapal Italia berlayar di sekitar Pulau Sisilia, kapten kapal tiba-tiba melihat air laut, di permukaan laut bujur timur 12 ° 42’15 “, lintang utara 37 ° 1’30” itu bergejolak, dan segumpal pusaran air setinggi lebih dari 20 meter dengan diameter sekitar 200 meter, tiba-tiba menyembur, dan pusaran air itu pun seketika menjadi segumpalan asap yang membubung setinggi lebih dari 500 meter, dan menyebar di segenap permukaan laut.

Kapten maupun awak kapal belum pernah melihat pemandangan seperti itu, sehingga mereka pun terkejut dan terkesima. Ketika kapal itu berlayar kembali 8 hari kemudian, tiba-tiba mereka melihat sebuah pulau kecil yang mengepulkan asap muncul di hadapan mereka.

Mereka melihat banyak sekali batu apung berlubang warna merah kecoklatan dan ikan-ikan yang mati mengambang di perairan sekitarnya, dan sebuah pulau kecil pun lahir (muncul) di tengah kepulan asap tebal dan air mendidih.

Dan selama lebih dari 10 hari pulau itu terus merenggang, panjang keliling perenggangan hingga 4,8 km, sedangkan tingginya juga telah meningkat hingga lebih dari 60 meter dari semula yang hanya 4 meter.

Karena pulau kecil itu muncul di Selat Tunisia, dengan pelayaran yang super sibuk, serta geografisnya yang penting, sehingga seketika menarik perhatian berbagai negara, dan sejumlah besar ilmuwan kemudian berdatangan ke sana untuk menyelidiki.

Tapi hal yang aneh pun terjadi, di saat orang-orang sibuk menggambar peta laut, mengukur, memberi nama dan menentukan nilai dari berbagai aspek fungsi sipil atau militer-nya, pulau kecil itu tiba-tiba mulai menyusut.

Sampai pada 29 September 1831, dimana setelah lebih dari satu bulan pembentukan pulau tersebut telah menyusut 87,5%. Dua bulan kemudian, sudah tidak bisa lagi melihat jejak pulau itu di permukaan laut, karena pulau itu sepenuhnya telah hilang tak berbekas.

Hal serupa juga pernah terjadi di Samudera Atlantik sebelah utara.

Ada sebuah pulau yang dipenuhi dengan anjing laut, pulau yang ditemukan lebih dari 100 tahun lalu oleh Decker Christian, seorang petualang Inggris, dan pulau itu pun dinamakan Pulau Dekker Christie yang diambil dari nama sang petualang tersebut.

Banyak Catcher (penangkap/pemburu) datang ke pulau yang dipenuhi dengan anjing laut itu, dan membangun sebuah galangan kapal dan kamp, namun, pulau itu tiba-tiba hilang pada musim panas tahun 1954 lalu.

Sejumlah besar pesawat pengintai, kapal perang pun dikerahkan untuk mencarinya, tapi sia-sia, pulau itu telah lenyap seperti ditelan Bumi.

Selang delapan bulan kemudian, sebuah kapal selam AS tiba-tiba melihat sebuah pulau muncul di jalur pelayaran saat berpatroli di Atlantik Utara, tapi, pada peta pelayaran tidak pernah melihat adanya keberadaan pulau seperti itu. Kolonel Roque Thor, sang kapten kapal selam sering berlayar di perairan tersebut, dan ia pun dibuat terkejut setelah menemukan pulau itu, sang kolonel melihat ada warga yang tinggal di pulau tersebut melalui periskopnya, tampak ada asap tebal yang mengepul di pulau itu, kemudian ia memerintahkan agar kapal selam berlabuh dan mendarat di sana.

Setelah bertanya pada penduduk pulau tersebut, baru diketahui, kalau itu adalah Pulau Dekker Christie yang hilang delapan bulan lalu.

Mengapa mereka (pulau) tiba-tiba muncul, hilang, muncul lagi kemudian menghilang lagi di tempat yang sama. Lantas, mengapa perairan yang berdekatan dengannya itu tidak mengalami fenomena yang ganjil ? Ini adalah sebuah misteri yang sulit dipecahkan, dan hingga sekarang masih membingungkan para ilmuwan.(Jhn/Yant)

Share

Video Popular