Oleh : Hu Nai-wen (Dokter klinik Shanghai Tong De Tang di Taipei)

Publik bertanya : Saya sering sakit perut, terutama setelah makan sesuatu yang salah, lalu mencret, sebaliknya baik-baik saja jika tidak makan. Saya tidak tahu apa masalahnya ?

Gejala seperti itu mungkin terlalu “sensitif” terhadap suatu jenis makanan tertentu. Saya tidak begitu suka menggunakan istilah “alergi”, lebih suka menggunakan kata “sensitif”, mengapa ? Karena sensitif itu adalah hal yang baik, sementara kalau alergi adalah hal yang buruk. Setelah makan sesuatu lalu mencret karena sensitif terhadap makanan terkait, disebut alergi oleh dokter sekarang, pada hal itu hanya karena sensitif, artinya mengingatkan seseorang bahwa makanan itu tidak baik dikonsumsi olehnya, atau makanan yang tidak seharusnya ia makan itu terlalu banyak.

Sebagai contoh : Semua orang bilang susu itu sangat bergizi, tapi susu belum tentu cocok diminum anak-anak tertentu, mereka langsung mencret setelah minum susu, bagi anak ini, adalah hal yang baik karena bisa merasa mules (mencret), agar ia terhindar dari keracunan susu. Demikian juga, ada yang seusai menyantap tepung, atau lobster, kepiting tertentu dan sebagainya, lalu merasa mules dan mencret, ini artinya orang ini tidak boleh/cocok atau sebaiknya hindari makanan seperti itu.

Meskipun bagi orang tertentu kepiting adalah sumber protein yang baik, tetapi bagi orang bersangkutan, bukan saja sebagai sumber protein yang tidak baik, tetapi justru merusak saraf atau sel-sel lain di tubuhnya, jadi jangan berpikir nutrisi yang diistilahkan sekarang itu sepenuhnya benar. Sebagai contoh, saya merasa tidak enak badan setelah makan jagung, jadi jagung adalah makanan yang tidak cocok saya konsumsi, karena itu sebaiknya hindari makan jagung atau tidak menyentuhnya (makan) sama sekali, sehingga dengan demikian akan terhindar situasi buruk ini.

Sebenarnya sensitivitas ini bukanlah hal yang buruk, jika Anda bisa mengetahui atau merasakan makanan itu tidak baik/cocok untukmu, sebaiknya dihindari, maka hampir dipastikan Anda tidak akan diare. Tapi, jika Anda masih juga mencret saat seusai menyantap sesuatu, tidak peduli apa pun makanan yang Anda konsumsi, maka ada sesuatu yang tidak beres dengan Anda, karena nasi adalah sumber makanan pokok yang menghidupi tubuh kita, jadi kita tidak bisa tidak tetap harus makan (nasi), karena itu sebaiknya periksakan diri Anda ke dokter.

Apa pun makanannya, jika selalu mencret setelah makan, ini berarti saluran pencernaan orang bersangkutan benar-benar buruk. Menurut kedokteran Tiongkok, bisa jadi ini akibat lemahnya limpa, dan energi vital di dalam tubuh, umumnya gejala ini dapat diatasi dengan mengonsumsi minuman “sup sijunzi”(terbuat dari Ginseng, atractylodes (akar rimpang tumbuhan), Poria (sejenis tumbuhan jamur), licorice (akar manis), atau “sup Lizhong” (terbuat dari Ginseng, atractylodes, akar manis, Zingiberis Rhizoma (rimpang jahe), untuk mengembalikan keseimbangan.

Konsumsi makanan yang “benar-benar bergizi”dan tidak terlena, paling bagus adalah makanan alami.

Sebenarnya, pola pikir orang-orang Tiongkok zaman kuno, jauh berbeda dengan kedokteran masa kini. Dan menurut saya, paling bagus adalah (makanan) yang serba alami, namun, sebagian besar masyarakat sekarang tidak mengutamakan yang alami, yang ditekankan adalah pengetahun ilmiah. Padahal ilmu pengetahuan modern kita seringkali tidak alami. Misalnya susu yang sebelumnya alami, sekarang tidak lagi alami, mengapa ?

Coba Anda renungkan, bagaimana induk sapi itu menghasilkan susunya ? Setelah melahirkan sapi kecil baru mengeluarkan/menghasilkan susu, setelah dua atau tiga bulan kemudian, sapi kecil pun tidak lagi menyusu, jadi, dua tiga bulan kemudian seharusnya tidak lagi mengeluarkan susu, tapi, sang induk sapi tetap menghasilkan susu sepanjang tahun, karena induk sapi terus disuntik dengan hormon penyubur untuk menghasilkan susu, jadi, susu yang dihasilkannya itu juga sudah tidak beres, sehingga orang-orang sekarang yang sering minum susu itu sebaliknya justru rentan terserang (penyakit) kanker payudara, kanker rahim, kanker ovarium dan sejenisnya. Singkatnya, jangan sampai kita tersesat/terlena, yang mengiring kita secara membabi buta percaya harus menyerap nutrisi sesuai dengan ilmu pengetahuan modern. Padahal, adakalanya sejumlah pengetahuan tentang gizi itu ada batasan dan masalahnya tertentu.

Kedokteran pada zaman kuno, tidak hanya membantu orang mengobati penyakit, tapi juga mengajarkan orang-orang bagaimana menjalani hidup yang sebenarnya, jika perjalanan hidup seseorang itu berlagsung normal (alami), niscaya tidak akan mudah jatuh sakit. Di negara yang memiliki empat musim, dimana saat cuaca buruk di musim semi, panas, gugur atau dingin, sebaiknya hindari semilir tiupan angin jahat, demikian juga dengan suasana hati individu, sebaiknya jalani secara normal alami, sehinga dengan begitu orang-orang seperti ini tidak akan jatuh sakit secara tidak wajar. (Jhn/Yant)

Share

Video Popular