Banyak orang yang beranggapan bahwa memperoleh atau kehilangan sesuatu semuanya tergantung pada perjuangan dan usaha seseorang, tidak yakin nasib manusia dan perjalanan hidupnya adalah ditentukan oleh besar kecilnya karma seseorang serta hubungan yang sudah ditakdirkan.

Meskipun dengan menghalalkan segala cara untuk mengambil atau merampas sesuatu yang sebenarnya adalah milik orang lain, namun pada kenyataannya, jika terdapat beberapa barang yang memang ditakdirkan bukan milik Anda, maka bagaimanapun juga Anda tidak akan memperolehnya.

Di bawah ini adalah sebuah kisah pendek tentang Ci Kung (dewa penolong ), yang telah mengisahkan sebuah prinsip tentang “Jika bukan milik Anda tetap bukan milik Anda.”

Pada suatu hari, Ci Kung menggadaikan pakaiannya seharga 150 untai (mata uang Tiongkok kuno). Di depan pintu pegadaian, ia berseru dengan suara keras: “Siapa yang akan menggotong uang ini!”

Dari seberang sana datang seorang yang berbadan tegap dan berkata, “Biksu, biar aku yang menggotongnya.

Biksu berkata, “Hatimu jahat, aku tidak akan menyuruhmu untuk menggotongnya.”

Biksu lalu menyuruh beberapa orang miskin untuk menggotongnya. Orang yang ini menggotong 3 untai. Orang yang itu menggotong 2 untai, setelah semua orang dibagi masih tersisa 5 untai. Biksu berkata, “Suruh si Tegap saja yang menggotongnya.”

Lalu si Tegap menggotong dan membawa lari dengan memanfaatkan suasana yang sedang semrawut, tapi biksu tidak mengejarnya. Orang-orang kemudian bertanya, “Biksu, akan digotong ke mana uangnya?”

Biksu menjawab, “Terserah”.

Semua orang kemudian berpencar.

Biksu mencari sebuah gang lantas berjongkok. Si Tegap telah melewati 17 gang setelah menggotong 5 untai uang. Biksu maju menghadangnya sambil berkata, “Sungguh bagus ya! Namun nasibmu tidak mujur, jika kau berdiri di sana untuk beberapa saat, aku telah memberimu 5 ketip, namun kau bermaksud merampasnya lalu kabur, itu tidak bisa kau lakukan. Kau hanya memiliki nasib untuk mendapatkan sebanyak 500 keping, jika bermaksud membawa kabur 5 untai, maka aku akan menangkap dan membawamu ke pengadilan Kabupaten Qianthang.”

Sembari mendengar juga merasa ketakutan, si Tegap lalu menarik dengan sekuat tenaga, kemudian mengambil langkah seribu.

Biksu berkata, “Kejar”.

Si Tegap saking takutnya terus berlari kebingungan, lalu belok ke sebuah gang, dan kebetulan berhadapan dengan sebuah pikulan barang-barang porselen. Karena tidak hati-hati lalu menabrak pikulan itu, sebanyak 17 mangkuk dan 2 buah piring terjatuh pecah, setelah dihitung ternyata sejumlah 4,5 untai. Si Tegap tidak bisa berbuat apa-apa, dia harus mengganti semua kerugian sebesar 4,5 untai, sisa uangnya tinggal 500 keping. Tidak heran jika si biksu mengatakan bahwa hatinya memang tidak baik. (Sumber: Zhengjian.net)

Share

Video Popular